MENGATASI ANAK SULIT MAKAN
Persoalan sulit makan sering dialami anak-anak, dari bayi sampai usia sekolah. Begitu beragam masalah yang muncul. Lalu, bagaimana solusinya?
Barangkali Anda merupakan salah satu orang tua yang mengeluh anaknya sulit makan. Anda sudah mencoba berbagai cara agar masalah yang dihadapi bisa teratasi. Ada yang berhasil, tapi ada juga yang tidak. Memang, mengubah perilaku sulit makan tidaklah mudah. Perlu solusi tepat sesuai dengan akar masalah dan penyebab sulit makan yang dialami sang buah hati.
RAGAM MASALAH
Bayi mulai usia 6 bulan dianjurkan untuk mendapatkan makanan tambahan, misalnya biskuit, bubur susu, ataupun jus buah. Masalahnya, si kecil mungkin menyemburkan atau melepeh makanannya. Di usia batita, kendala yang terjadi di antaranya mengemut atau tak mau menelan makanan. Sementara anak prasekolah yang sudah lebih besar mulai pilih-pilih makanan (picky eater), punya kebiasaan makan sambil jalan-jalan, main games, atau sambil nonton teve. Sedangkan anak usia 6-9 tahun cenderung memilih jajanan berkalori tinggi tetapi kurang atau tidak bergizi sama sekali. Di tahapan selanjutnya, sekitar 9-12 tahun, perilaku sulit makan kian kompleks. Di satu sisi nafsu makannya mulai meningkat, tapi di sisi lain mereka takut makan akan membuat tubuh jadi bulat, jerawatan dan sebagainya.
Penyebab perilaku sulit makan pada anak sebetulnya bisa ditelusuri. Misalnya, bayi yang sering menolak makan barangkali disebabkan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang terlalu cepat atau malah terlambat. Faktor penyebab lainnya adalah perilaku makan orang tua ternyata salah. Makan sambil nonton teve atau membaca koran adalah beberapa di antaranya yang kemudian ditiru anak. Selain itu, orang tua juga mungkin kurang terampil menyajikan menu makanan yang variatif. Demi kepraktisan, makanan yang tersaji di meja makan cenderung itu-itu saja.
Jika Anda tak mau problem sulit makan ini berlarut-larut dan berdampak buruk, maka carikan solusinya. Kekurangan gizi merupakan risiko yang paling jelas. Indikator mengenai status gizinya bisa terbaca dari berat badan dan tinggi badan yang berada di bawah standar. Oleh karena itu, cari tahu penyebab anak sulit makan dan lakukan upaya mengatasinya yang tepat.
Hilman Hilmansyah. Foto: Iman/nakita
6-12 BULAN
"DUH...BAYIKU KOK ENGGAK MAU MAKAN?"
Masalah muncul ketika bayi memasuki masa transisi dari makanan cair ke makanan semipadat.
Di usia 6 bulan, kebutuhan asupan makan si kecil mengalami perubahan. ASI saja tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Itulah mengapa di usia ini si kecil membutuhkan makanan pendamping ASI (MP-ASI).
Namun tak selamanya pemberian MP-ASI berjalan mulus. Ada begitu banyak bentuk penolakan makan yang dilakukan bayi. Di antaranya melepehkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah disuapkan ke mulutnya. Bahkan, tidak sedikit yang terang-terangan menolak dengan memalingkan mukanya atau menutup mulutnya rapat-rapat. Jangan terburu-buru menyalahkan anak, apalagi mencapnya dengan sebutan "bayi rewel", "susah diurus", "bikin repot" dan sebagainya. Siapa tahu penolakan-penolakan tersebut justru muncul karena organ-organ pencernaan di mulutnya belum siap menerima makanan yang diberikan. Entah karena tekstur makanannya terlalu kasar, terlalu kental, atau porsinya tidak sesuai dengan kemampuan menelan bayi.
Ada juga bayi yang awalnya tak pernah menolak makan, tapi saat berusia 8 bulan atau lebih baru rewel soal makan. Kemungkinan, bentuk penolakan tersebut merupakan "aksi protes" terhadap citarasa makanan yang diberikan. Ingat, anak usia ini sudah mengenal rasa apa yang disukainya, apakah manis atau asin/gurih.
Bisa juga, penolakan tersebut merupakan wujud dari ketidaksukaannya terhadap sosok si pemberi makan. Meski masih bayi, anak sudah bisa mengenali mana sosok yang bersahabat dan mana pula yang tak sabaran hingga cenderung main paksa. Perlakuan yang buruk tentu akan terekam dalam benak anak yang kemudian mendorongnya memasang "benteng pertahanan" lewat bentuk penolakan.
KIAT MEMBERI MAKAN
Untuk mencegah dan menangani masalah sulit makan pada bayi, setidaknya orang tua harus mengupayakan hal-hal berikut:
- Mengakrabkan diri agar disukai di kecil.
- Membangun suasana makan yang menyenangkan, tidak dengan diam membisu atau bersikap formal. Selingi dengan canda ria sambil sesekali mengajaknya ngobrol dan bermain.
- Sajikan semenarik mungkin, baik makanan itu sendiri maupun perangkat sajinya.
- Menguasai ilmu mengenai teknik maupun tahapan pemberian makan pada bayi.
* USIA 6-7 BULAN
MP-ASI dikenalkan secara bertahap sebab mekanisme menelan dan kemampuan mencerna si kecil masih lemah. Jadi, mulailah dengan makanan yang lunak dan bersifat cair lebih dulu, berupa bubur susu yang encer, kemudian semakin kental.
Selain itu, selalu berikan lebih dulu dalam jumlah sedikit. Seiring dengan berjalannya waktu, konsentrasi buburnya bisa dipadatkan dan porsinya dapat ditingkatkan. Mengapa komposisi kekentalan harus sesuai? Karena kalau terlalu encer tentu kandungan gizinya tidak maksimal. Sebaliknya, jika kelewat kental bukan tidak mungkin malah mendatangkan masalah baru, yakni susah buang air besar.
Yang harus dijadikan patokan, tetap berikan ASI kapan pun si kecil mau. Namun usahakan jangan sampai membuatnya terlalu kenyang karena dia toh harus mengonsumsi MP-ASI-nya. Jangan lupa, biasakan pula ia mengonsumsi buah-buahan yang manis rasanya seperti pepaya, pisang, atau jeruk. Buah-buahan ini bisa disajikan dalam bentuk jus atau dicampur dengan makanan lainnya. Ada baiknya pula jika diberikan biskuit khusus bayi. Biskuit semacam ini, selain melatih kemampuannya mengunyah, juga amat disarankan untuk merangsang pertumbuhan giginya.
* USIA 8-9 BULAN
Di usia ini, ASI tetap diberikan kapan pun bayi mau. Akan tetapi, mulailah perkenalkan makanan dengan tekstur yang lebih padat, seperti bubur susu (berbahan buah atau tepung). Mengenai porsinya, tambahkan sesuai kebutuhan dan kondisi bayi. Contohnya, bayi dengan BB dan panjang tubuh lebih tentu butuh asupan lebih banyak ketimbang bayi dengan panjang tubuh dan BB yang lebih kecil. Bubur saring bisa juga dijadikan alternatif pilihan bila kebetulan tidak tersedia buah yang segar. Bahan-bahannya bisa berupa beras, makaroni, kentang, kacang hijau, atau roti. Namun perhatikan, sebelum diberikan harus disaring lebih dulu.
* USIA 9-12 BULAN
Saat berusia 9 bulan dan seterusnya, bayi sudah mampu mencerna makanan semipadat. Yang dimaksud adalah nasi tim beserta lauk pauknya. Jangan lupa, biasanya bagian atas nasi tim lebih keras dibandingkan bagian bawahnya. Nah, agar bayi tidak menolak makanan baru ini, aduklah dulu agar kepadatannya merata.
Bubur saring, buah kerok atau jus, dan ASI atau penggantinya berupa susu formula tetap diberikan. Sebagai selingan, bayi boleh diberi bubur susu berbahan dasar jeruk atau pisang untuk memperkaya pengenalan rasanya. Tak ada salahnya pula bila sesekali mengenalkan bumbu alami dan teknik pengolahan makanan sederhan. Semisal tumis ikan dengan bawang putih dan mentega atau sup dimasak dengan bawang merah, bawang putih, dan daun bawang. Untuk anak usia ini, garam sudah boleh diberikan sedikit.
Di usia setahun, diharapkan si kecil sudah bisa makan sesuai menu keluarga. Namun jangan lupa memperhatikan kemampuan mengunyah dan menelannya. Potong kecil-kecil lauk pauknya agar mudah masuk ke mulut mungilnya, mudah pula untuk dikunyah, dan ditelan serta dicerna organ tubuhnya.
Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/nakita
Konsultan Ahli:
Alzena Masykuori, M.Psi psikolog dari Cikal Sehat-Sehat, Jakarta Selatan
TRIK MENGHADAPI PENOLAKAN
Walaupun hal-hal yang dianjurkan tadi sudah dicoba, mungkin sekali si kecil tetap melancarkan penolakan. Kalau ini yang terjadi, berarti eksplorasi yang dilakukan orang tua belum maksimal. Lebih baik, terus lakukan pencarian untuk mengetahui seperti apa makanan yang disukainya, bagaimana cara memberi makan yang disukai dan tidak disukai dan sebagainya. Sukses tidaknya penelusuran ini tidak terlepas dari kesabaran, ketenangan, dan keterampilan orang tua menghadapi ulah si kecil saat melakukan penolakan.
* Tolak MP-ASI, tapi mau ASI
Jika menghadapi kondisi seperti ini, pemberian makanan secara bertahap harus dirancang. Memang sih waktu makannya jadi jauh lebih lama. Contohnya, berikan 1 sendok MP-ASI setiap jadwal makan tiba dengan konsentrasi makanannya lebih cair dibanding ukuran standar yang dianjurkan di kemasan. Setiap hari porsi ini harus ditingkatkan, dari 1 sendok menjadi 2 sendok hingga akhirnya mencapai 1 mangkuk. Perlu diingat, jadwal makannya pun harus diberikan secara konstan dan berkesinambungan. Mengapa ini penting? Karena si kecil mau tidak mau harus diajarkan keteraturan untuk membentuk kedisiplinan.
* Dilepeh
Jika ini terjadi pada bayi di bawah usia 8 bulan, kemungkinan besar hanya karena refleks anak. Ingat, MP-ASI yang diberikan merupakan sesuatu yang "asing" baginya, lo. Tapi kalau si kecil sudah berusia 8 bulan atau lebih, maka orang tua harus cermat. Apakah karena memang makanannya itu yang tidak enak karena terlalu asin, terlalu manis, kelewat kasar atau malah kelewat lembut? Atau apakah orang tua memberikannya dalam porsi terlalu banyak, terlalu panas/dingin dan sebagainya. Nah, agar si kecil tidak melakukan penolakan, pandai-pandailah mengatur strategi dengan cara menggonta-ganti menu, rasa maupun tekstur makanannya. Jangan lupa pula untuk senantiasa mengomunikasikannya pada si kecil. Contohnya, "Kenapa, Sayang, kok dilepeh? Terlalu asin, ya? Nah, sekarang sudah enggak asin lagi."
* Diemut
Ini juga salah satu bentuk penolakan yang kerap dilakukan bayi. Anak yang makannya ngemut umumnya karena alat-alat pencernaan di rongga mulutnya belum siap menerima MP-ASI. Jika memang kebiasaan ngemut-nya karena gangguan fisik, si kecil besar kemungkinan juga akan mengalami gangguan bicara. Untuk memastikannya, kasus seperti ini lebih baik segera diperiksakan ke dokter.
* Disembur
Sesekali si kecil mungkin saja menyemburkan makanannya. Itu hal yang wajar terjadi sebagai salah satu bentuk eksplorasinya. Namun orang tua harus menjelaskan pada anak, semisal dengan mengatakan, "Lucu, ya, Dek, bunyinya. Tapi makanan itu nanti harus ditelan ya." Kalau penjelasan seperti itu terus-menerus diutarakan, anak tentu akan tahu mana perilaku yang tak baik alias tak boleh diulanginya lagi. Akan tetapi, jika setiap kali makan si kecil selalu menyemburkan santapannya, boleh jadi ia memang tidak berselera pada makanan tersebut. Kemungkinan lain cara makan ataupun suasana makan yang dirasa tak nyaman baginya. Lagi-lagi orang tualah yang harus kembali mengeksplorasi cara lain agar si kecil mau makan.
* Dimuntahkan
Perilaku memuntahkan makanan bisa akibat penolakan ataupun bukan. Kalau ternyata disebabkan masalah fisik atau ada yang harus dibereskan pada sistem pencernaannya, maka muntahnya bukan merupakan penolakan. Akan tetapi kalau muntah disebabkan si kecil mencari perhatian dalam mengeskpresikan ketidaksukaannya pada makanan itu, baru bisa dikategorikan sebagai penolakan. Untuk memastikan penyebabnya, orang tua dapat memperhatikan kondisi anak. Misalnya apakah rewel atau tidak selagi muntah maupun sesudah muntah, demam atau tidak, dan apakah disertai gangguan lain semisal diare atau tidak. Jika jawabannya memang ya, kemungkinan si kecil mengalami masalah fisik dan ini sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter ahlinya.
* Menolak sama sekali
Wujud penolakannya bisa berupa memalingkan kepala, menutup rapat-rapat mulutnya, sampai menangis keras setiap kali disuapi. Penyebabnya lebih banyak karena faktor fisik, seperti gara-gara sariawan, atau terkena radang tenggorokan. Jadi, kalau si kecil menunjukkan tanda-tanda tadi, cermati dulu kondisi kesehatannya secara umum. Pastikan apakah ia sariawan atau tidak, gunakan termometer untuk memastikan suhu tubuhnya, apakah kondisi lidahnya bermasalah atau tidak, bibirnya pecah-pecah, dan buang airnya lancar atau tidak. Kalau benar karena kendala fisik, lekas konsultasikan ke dokter.
Akan tetapi jika tak ada gangguan fisik kemungkinan besar si kecil melakukan gerak tutup mulut gara-gara faktor psikis. Tidak tertutup kemungkinan ia memang tengah mencari perhatian orang tuanya yang sudah sepanjang hari tidak dijumpainya, tak menyukai menunya, dan penampilan makanannya membuat bayi kehilangan selera makan.
1-3 TAHUN
SUKA MENGEMUT MAKANAN
Makan diemut menunjukkan si batita belum berhasil melewati masa transisi dari makanan cair ke padat.
"Ayo dong, Nak, makanannya dikunyah! Jangan diemut gitu ah!" ujar seorang ibu dengan nada kesal pada putrinya. Maklum si ibu sudah harus berangkat bekerja, sementara buah hatinya tak kunjung menelan makanan dalam mulutnya.
Ilustrasi tersebut memberi gambaran betapa susahnya mengatur perilaku makan anak batita. Ia seringkali menunjukkan sikap tidak kooperatif. Sebetulnya, sikap ini bisa dibenahi dengan mengajari anak biasa "makan sendiri" sejak bayi. Pada saat makan ia sudah dibiasakan memegang sendok sendiri, menyendok makanan, dan duduk di kursi khususnya (setiap kali hendak disuapi). Jadi, bukan dengan menggendongnya sambil berjalan-jalan. Pengenalan-pengenalan semacam itu pasti akan membuat anak di usia batita jadi lebih cepat menyesuaikan diri.
Kendati awalnya mungkin merepotkan, seiring dengan berjalannya waktu, "kerja keras" dan segala kerepotan orang tua mengajari anak makan sendiri akan membuahkan hasil. Ini berarti anak tak perlu bergantung pada orang lain saat memenuhi kebutuhan makannya. Selain itu orang tua pun diuntungkan dengan tak perlu terus-menerus "bertengkar" hanya gara-gara persoalan sulit makan ini. Sementara anak pun jadi lebih disiplin. Saat jam makan tiba, anak akan duduk manis siap menyantap makanan yang tersaji di hadapannya.
Saat mulai mengajak anak untuk makan sendiri, ciptakan suasana yang menyenangkan. Usahakan pula supaya tak terkesan memaksa dalam bentuk apa pun. Untuk tahap awal, orang tua bisa memberikan contoh bagaimana cara makan yang baik: dari duduk manis, bagaimana cara memegang sendok kemudian mengangkatnya, menyuapkannya ke mulut, kemudian mengunyahnya dengan benar. Dengan melihat contoh konkret tersebut anak jadi punya gambaran mengenai apa yang harus dilakukannya dengan makanan tersebut.
Mengenalkan menu makanan pun harus dilakukan secara bertahap. Mulailah dari makanan yang bertekstur paling halus sampai yang kasar, dari lauk yang sederhana hingga yang komplet. Dengan kata lain, makan pun merupakan proses pembelajaran. Kemudian di saat anak sudah mau melakukannya sendiri, orang tua perlu memotivasi. Misalnya dengan memberi semangat atau pujian lewat ucapan, "Anak Mama pintar ya, sudah bisa makan sendiri." Dengan demikian anak akan merasa nyaman dan jadi bersemangat untuk berusaha makan sendiri.
Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/nakita
Konsultan Ahli:
Ade Irma Salihah, Psi., dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah, Jakarta
PERILAKU MAKAN NEGATIF
Berikut beberapa hal negatif yang sering muncul saat proses pembelajaran makan berlangsung.
- Lama dan berantakan
Orang tua harus paham benar bahwa anak tidak langsung bisa makan dengan benar seperti yang dilakukan orang dewasa. Seringkali anak hanya mengaduk-ngaduk makanan dalam piringnya hingga meja jadi berantakan. Aktivitas makannya pun jadi sangat lama.
Yang patut diketahui, kendala seperti ini mungkin saja terjadi karena proses menyuapkan makanan ke mulut memang bukan hal gampang bagi anak usia ini karena kemampuan motoriknya masih belum optimal. Maka alangkah bijaksananya memberi keleluasaan pada anak untuk berusaha makan sendiri meskipun berantakan dan merepotkan. Toh lambat-laun anak pun belajar dari apa yang dilakukannya.
Orang tua sebaiknya juga menghindari kata maupun tindakan yang sekiranya dapat mematahkan semangat dan akhirnya membuat anak malas belajar makan sendiri. Misalnya menghardik/memarahi anak ketika dia menghambur-hamburkan nasi dan lauk-pauknya. Lain hal bila anak memang memain-mainkan makanannya dan sama sekali tidak berniat untuk menyantapnya. Kalau ini yang terjadi, segera arahkan ke "jalur" semestinya. Yang pasti bukan dengan memojokkan, apalagi memarahinya habis-habisan.
- Mogok makan
Adakalanya tiba-tiba anak emoh makan sama sekali. Semakin dipaksa, semakin dia tak mau makan. Bahkan tak jarang disertai dengan gejala tantrum alias mengamuk. Bila ini yang terjadi, orang tua harus bersedia introspeksi diri. Boleh jadi ini muncul karena sikap ibu/ayah yang kasar dan memaksa yang akhirnya membuat mogok makan. Bila ya, orang tua hendaknya mau mengubah sikap sekaligus mengupayakan agar aktivitas makan menjadi sesuatu yang menyenangkan.
- Tak mau duduk
Anak juga seringkali tak mau duduk atau diam di suatu tempat ketika makan. Dia selalu bergerak ke sana kemari sehingga orang tua terpaksa harus mengejar-ngejarnya supaya tetap makan dan akhirnya membuat orang tua kewalahan. Bukan cuma itu. Perilaku tak bisa diam seperti ini sebetulnya juga dapat memicu ketidakseimbangan pada organ pencernaan. Konkretnya, proses mencerna jadi tidak bisa berjalan dengan baik akibat pergerakan tubuh si kecil yang tiada henti.
Bila ini yang muncul sebagai bentuk kebiasaan anak, coba ingat-ingat lagi apakah itu bisa bersumber dari orang tua sendiri atau tidak. Bukan tidak mungkin lo ketika makan, secara tidak sadar orang tua menunjukkan perilaku negatif, semisal makan sambil jalan, ngobrol, baca koran, nonton teve dan sebagainya. Kalau ini yang terjadi, jangan salahkan anak bila ia mengikuti perilaku makan orang tuanya karena dia menganggap memang seperti itulah aktivitas makan yang benar.
Nah, agar hal yang satu ini tidak terjadi, mau tidak mau orang tua harus memberikan contoh baik kepada anak. Caranya, duduk santun di kursi makan, menyendok makanan secara perlahan dan tertib, mengunyahnya tanpa tergesa-gesa ataupun mengeluarkan bunyi dan sebagainya. Kalau orang tua memberi contoh baik, tentu akan terpatri dalam diri anak bahwa proses makan yang benar ya memang seperti itu. Kelak anak pun akan menerapkan cara-cara yang baik dan benar dalam keluarganya.
- Mengemut makanan
Kebiasaan mengemut umumnya dimulai saat anak mengenal makanan padat, yaitu sekitar usia 8 bulan hingga usia 2-3 tahun. Penyebabnya, anak belum berhasil menjalani proses pembelajaran mengenai bagaimana caranya mengunyah. Padahal berbeda dari makanan cair yang bisa langsung dimakan, makanan padat perlu dikunyah dulu sebelum ditelan. Di sini dituntut koordinasi gerakan lidah dan rahang agar bisa masuk ke kerongkongan.
Tentu saja kebiasaan mengemut ini harus diatasi segera karena bisa berpengaruh buruk pada perkembangan fisik dan psikologis anak. Dari segi fisik, anak akan mengalami kekurangan gizi karena porsi makanan yang dikonsumsi pasti jauh berkurang. Kalau seharusnya ia bisa menghabiskan satu piring nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur mayur dalam waktu tertentu, maka dengan mengemut anak hanya mampu menghabiskan sebagian kecil makanan dalam waktu sama. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi gizi anak akan memburuk dan giginya mengalami kerusakan.
Berikut beberapa kemungkinan penyebab anak ngemut:
* Tidak diajarkan bagaimana cara mengunyah yang benar. Untuk mengatasinya, mau tidak mau orang tua harus menyontohkan bagaimana cara mengunyah yang benar secara bertahap, termasuk bagaimana membuka mulut, menggerakkan rahang dan sebagainya.
* Di masa bayi, pemberian makanan termasuk mengisap dot dapat memberikan kepuasan tersendiri karena saat itu anak masih berada dalam fase oral. Bila sampai usia batita anak masih sangat menikmati fase oral yang seharusnya sudah beralih pada kepuasan menggigit dan mengunyah, maka dia akan terus melanjutkan kebiasaan mengemutnya. Untuk mengatasinya, mintalah anak meninggalkan kebiasaan tersebut. Sampaikan pula dampak negatif dari mengemut ini, tentu saja dengan bahasa sederhana agar bisa dipahaminya.
* Tak jarang anak asyik bermain hingga lupa masih ada makanan dalam mulutnya. Bila kebiasaan kurang baik ini tidak mendapat perhatian dari orang tua, anak akan merasa dibenarkan hingga akhirnya kebiasaan tersebut terus berlanjut. Untuk mengatasinya, mintalah anak mengunyah makanannya lebih dulu. Dengan kata lain berhenti bermain sampai aktivitas makannya selesai.
* Ketakutan dimarahi akan membuat anak terbiasa mengemut makanannya. Terlebih bila orang tua memaksa sementara anak sebetulnya tidak suka makanan yang diberikan. Mengemut makanan dijadikannya sebagai bentuk protes. Mengatasinya, tentu saja dengan menjadikan acara makan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kesampingkan pemaksaan dalam bentuk apa pun dan beralihlah menggunakan pendekatan yang lebih efektif, semisal membujuk atau merayu dengan berbagai pujian.
* Gigi-geligi anak bermasalah. Mungkin saja giginya sedang tumbuh sehingga anak merasa tidak nyaman dengan gusinya yang terasa "gatal". Rasa tak nyaman mendorongnya untuk mengemut makanan. Untuk mengatasinya ada baiknya orang tua secara berkala cermat mengikuti pertumbuhan gigi anaknya, apakah ada gangguan atau tidak.
- Tak mau buka mulut
Aksi tutup mulut juga merupakan perilaku sulit makan yang besar kemungkinan dipicu hal-hal berikut:
* Mungkin ada sariawan atau infeksi pada gigi-geliginya. Kalau ini yang terjadi, jangankan mengunyah, membuka mulut pun merupakan siksaan tersendiri. Untuk mengatasinya, bawalah ke dokter gigi anak guna memastikan apakah gigi-geliginya ada yang mengalami gangguan atau tidak. Ada baiknya periksakan mulut dan gigi anak secara berkala tiap 3 bulan sekali.
* Boleh jadi anak merasa masih kenyang atau sebaliknya sudah kenyang duluan. Entah karena porsi makanan yang diberikan sudah melampaui batas kemampuannya atau karena ia sudah makan banyak camilan sebelum jam makannya tiba. Untuk mengatasinya, tetapkan pola makan anak dan berusahalah untuk mematuhi jadwal tersebut.
* Suasana yang serba terburu-buru juga sering membuat anak emoh buka mulut. Umpamanya, karena orang tua harus segera berangkat kerja, maka anak diminta untuk cepat-cepat menghabiskan makanannya. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun kalau diburu-buru seperti itu biasanya malah kehilangan nafsu makan. Untuk mengatasinya ya ciptakan suasana santai dan menyenangkan tanpa keterburu-buruan seperti itu.
* Kemungkinan lain, anak tidak menyukai makanan yang disodorkan padanya meskipun makanan tersebut sangat bergizi. Untuk mengatasinya, pandai-pandailah mengatur menu makan anak agar senantiasa bervariasi. Ingat, anak relatif cepat bosan dan mudah berubah keinginannya. Contohnya, hari ini ia suka sekali tempe bacem, tapi besok ia hanya mau makan dengan telur dadar, dan lusa mau makan ayam goreng tepung dan seterusnya. Selain itu, cara pengolahan dan penyajiannya pun harus mampu memikat hati anak. Misalnya tak harus selalu dibuat sup, tapi bisa juga ditumis, atau dipanggang. Bahkan orang tua sebaiknya menanyakan lebih dulu pada anak apa menu yang diinginkannya hari ini. Ini akan membuat anak merasa dilibatkan yang pada gilirannya akan membuatnya bersemangat menyantap makanan tersebut.
3-6 TAHUN
MAKAN PILIH-PILIH SAMBIL NONTON TEVE
Perilaku makan yang salah pada si prasekolah ternyata bisa berasal dari kebiasaan orang tua atau pengasuhnya.
Perilaku makan yang tidak baik, seperti pilih-pilih makanan, makan sambil nonton atau main, dan baru mau makan kalau diajak jalan-jalan, tentu dapat terbawa hingga dewasa. Bahkan, sebuah penelitian yang pernah dilakukan di Amerika menunjukkan, anak yang pilih-pilih makanan bakal menemui kesulitan dalam bersosialisasi. Kenapa begitu? Sebab umumnya ia pun akan berperilaku pilih-pilih teman dan cenderung susah menyesuaikan diri. Repot, kan?
Nah, agar tak muncul hal-hal yang tak diharapkan, perilaku makan yang buruk tersebut memang harus diubah. Mengubahnya susah-susah gampang karena terlebih dulu perilaku makan orang tua atau pengasuhlah yang harus diubah. Jangan lupa, anak-anak usia ini masih merupakan sosok peniru ulung orang-orang terdekatnya.
Utami Sri Rahayu. Foto: Ferdi/nakita
Konsultan Ahli:
Rosdiana S. Tarigan, M.Psi, MHPEd dari Klinik Mutiara Gading, Jakarta
PILIH-PILIH MAKANAN
Kebiasaan pilih-pilih makanan (picky eater) yang muncul di usia prasekolah rata- rata merupakan tiruan dari perilaku orang tuanya. Coba perhatikan, biasanya orang tua atau orang-orang dewasa terdekatnya tergolong individu yang juga cenderung pilih-pilih makanan. Penyebab lainnya, besar kemungkinan si prasekolah punya keengganan mencoba hal-hal baru, termasuk makanan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:
* Mau tidak mau orang tua harus bersedia mengubah kebiasaan makannya terlebih dulu. Cobalah berusaha keras untuk tidak pilih-pilih makanan kalau tak ingin anak meniru hal yang sama.
* Berikan contoh yang baik saat makan bersama. Sejak usia 3 tahunan, biasakan mengajak anak makan bersama keluarga di meja makan. Manfaat lainnya, anak dapat mengetahui sekaligus belajar mengenai tata tertib di meja makan.
* Dampingi anak saat makan dan ikutlah mengonsumsi makanan yang sama.
* Mintalah ia mencoba makanan keluarga yang tersaji di meja. Katakan bahwa ia boleh mencoba dalam jumlah sedikit terlebih dulu. Yakinkan dirinya bahwa bila tidak suka, Anda tak akan pernah memaksanya untuk menyukai makanan tersebut.
* Hindari melimpahi piring anak dengan sekian banyak ragam makanan dalam jumlah banyak sekaligus. Bisa-bisa anak malah jadi takut dan sama sekali tidak bisa menikmatinya.
* Jelaskan bahwa semua makanan yang Anda tawarkan memberi manfaat bagi kesehatan dan pertumbuhannya.
* Jangan pernah memaksa si prasekolah untuk mencoba makanan yang sama sekali belum dikenalnya. Pemaksaan hanya akan membuatnya jera dan takut untuk mencobanya. Jangan salahkan bila ia malah memuntahkan makanan tersebut. Dampak yang lebih buruk, anak akan mengalami trauma dan kelak akan selalu menghindari makanan tersebut.
* Beri kesempatan pada si prasekolah untuk menentukan atau memilih sendiri makanan yang diinginkan. Bila ingin mengenalkan jenis makanan yang baru, ada baiknya barengi dengan makanan yang sudah dikenalnya. Contohnya bila ingin mengenalkan udang, jangan tiba-tiba menyajikannya dalam jumlah besar. Kalau sebelumnya si prasekolah sudah akrab dengan brokoli, siasati dengan mengolah udang plus brokoli. Dengan demikian, anak tetap merasa aman saat mengonsumsi makanan yang baru tersebut.
MASIH DISUAPI
Jika anak usia prasekolah masih makan disuapi, besar kemungkinan selama ini orang tua dan pengasuhnya tak cukup sabar mendampinginya belajar makan sendiri. Padahal maklumi bila anak yang mulai belajar makan sendiri membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghabiskan makanan tersebut. Maklumi pula bila acara makan sendiri menambah kerepotan bagi orang tua karena harus membersihkan sisa makanan yang berserakan di mana-mana.
Nah, gara-gara tak mau repot seperti itulah banyak orang tua dan pengasuh akhirnya memilih menyuapi terus anaknya. Sama sekali tak disadari bahwa kebiasaan ini bisa menghambat perkembangan anak. Ia jadi malas makan sendiri dan lebih suka disuapi. Dengan kata lain, ia jadi tak mandiri dalam urusan makan.
Untuk mengatasinya, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh, yakni:
* Lagi-lagi orang tua harus bersedia mengubah kebiasaan buruknya.
* Belajarlah bersabar dan mintalah anak untuk makan sendiri.
* Dampingi anak sambil makan bersama. Hindari menyuruh-nyuruh anak untuk cepat-cepat menghabiskan makannya. Keterburu-buruan bisa membuat anak muntah sementara suasana makan pasti jadi tidak menyenangkan.
* Jangan menyamaratakan porsi anak dengan porsi orang dewasa. Sebaiknya sediakan makanan dalam porsi kecil lebih dulu. Bukan tidak mungkin lo, anak sudah frustrasi duluan begitu melihat porsi yang "mengerikan". Apalagi jika ia dipaksa menghabiskan semuanya dalam waktu relatif singkat.
* Bila si prasekolah berhasil menghabiskan porsi makanannya, lontarkan pujian. Ini akan memotivasi si prasekolah untuk menunjukkan pada dunia bahwa ia bisa makan sendiri.
* Buatlah agar tampilan makanannya menggugah selera, bisa dari resepnya ataupun cara penyajiannya.
* Jangan alpa untuk mulai mengajari anak makan sendiri.
SAMBIL JALAN-JALAN ATAU NONTON
Perilaku sulit makan si prasekolah, oleh sebagian orang tua diakali dengan mengajaknya makan sambil jalan-jalan atau nonton acara televisi kesukaan anak. Diharapkan perhatian si prasekolah bisa teralihkan sehingga masalah sulit makannya dapat teratasi.
Padahal makan sambil jalan-jalan sebaiknya dihindari karena anak usia prasekolah justru sedang senang-senangnya beraktivitas, seperti berlari ke sana kemari, melompat dan meloncat, serta aktivitas "berat" lainnya. Bila si prasekolah dibiasakan makan sambil melakukan berbagai aktivitas tadi, mungkin saja apa yang sudah ditelannya keluar lagi. Hal ini tentu menambah pengalaman tidak enak mengenai makan. Selain itu, makanan yang dibawa berjalan-jalan berisiko tercemari debu sehingga amat berpotensi menularkan penyakit.
Sama halnya dengan makan sambil nonton teve. Wajar memang bila orang tua berharap perhatian si prasekolah dapat teralihkan dari makanan ke tayangan televisi, sehingga anak mau duduk diam dan tidak bosan menjalani kewajiban makannya. Padahal bukan mustahil saking asyiknya ia menikmati tayangan teve, makanan yang sudah ada di mulutnya malah diemut terus. Akibatnya, waktu makan berlangsung lebih lama, sehingga makanan yang ada di piringnya mengembang dan rasanya berubah jadi hambar.
Untuk mengatasi hal ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua, di antaranya:
* Ingat, makan adalah proses pembelajaran. Untuk itu, biasakan anak untuk duduk tertib di kursi makan mengelilingi meja makan. Dengan membiasakannya demikian sejak kecil, dalam diri anak akan terbentuk pola bahwa makan dan minum itu haruslah dilakukan sambil duduk di kursi makan.
* Ajaklah anak untuk makan bersama keluarga di meja makan. Kalaupun ayah dan ibu sama-sama sibuk, tetap agendakan 1 di antara 3 kali waktu makan agar bisa makan bersama. Manfaatnya anak dapat sekaligus belajar tata tertib di meja makan. Kalaupun jam makannya tidak cocok, tetaplah jadwalkan waktu tersebut untuk makan kue atau makanan ringan lainnya. Yang penting, tetap dapat makan bersama.
* Jika anak sudah telanjur terbiasa makan sambil jalan-jalan atau nonton teve, tugas orang tua tentu semakin berat untuk mengubah kebiasaan tersebut. Tanamkan kebiasaan makan yang baik secara perlahan dan bertahap.
* Untuk mereka yang terbiasa makan sambil jalan, alihkan perhatian anak dengan mengajaknya makan di kursi makan khusus. Usahakan bentuk atau warna kursi itu menarik minat anak untuk duduk di atasnya. Kemudian secara berangsur-angsur dekatkan kursinya ke meja makan agar anak terkondisi makan di situ.
6-12 TAHUN
LO, MAKANANNYA, KOK, TAK BERGIZI?
Adanya pergeseran lingkungan kehidupan, dari lingkungan rumah ke lingkungan sekolah atau luar rumah, memunculkan problema tersendiri dalam pola makan anak usia 6-12 tahun. Apa saja masalahnya dan bagaimana mengatasinya? Yuk, kita simak penjelasan dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GM., dari Klinik Bina Sehat, Jakarta.
USIA 6-8 TAHUN
* Jajan makanan tak bergizi
Saat berada di sekolah, teman dapat membawa pengaruh yang sangat penting. Contohnya soal jajan. Meskipun di rumah sudah tersedia makanan yang enak dan bersih, bukan tidak mungkin anak tetap ngotot ingin jajan. Kenapa? Tak lain karena semua temannya juga jajan. Bisa dipastikan anak akan lebih suka jajan karena rasa makanan yang dijual tadi umumnya lebih enak dan gurih dibanding yang tersaji di rumah. Mereka sama sekali tidak peduli kalau rasa yang enak dan gurih tersebut berasal dari bumbu penyedap maupun kandungan garam dan lemak yang tinggi. Selain itu, bagi anak-anak, jajan bersama teman memberikan suasana yang berbeda dibandingkan rumah sehingga terasa lebih mengasyikkan.
Sebenarnya, boleh saja anak sesekali jajan. Namun ajarkan untuk memilih jajanan yang bersih dan menyehatkan, semisal hamburger yang dilengkapi dengan sayuran. Pasalnya, meski sejak usia 6 tahun anak mengalami pertumbuhan dengan laju pertumbuhan yang tidak terlalu cepat, namun kebutuhan gizinya tetap harus terpenuhi. Bila kebutuhan gizinya tidak terpenuhi, maka dampak kurang gizi ini dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan kognitif dan kemampuan akademiknya. Sayang kan? Selain bisa menyebabkan penurunan aktivitas fisik serta membuatnya berisiko mengalami penyakit infeksi. Perlu diketahui, kecukupan gizi pada usia ini selain diperlukan untuk pertumbuhan juga dibutuhkan untuk metabolisme basal dan aktivitas fisik.
* Masih disuapi
Hal ini terjadi karena di TK anak masih dibolehkan makan sambil disuapi. Padahal jika tidak pernah dimulai untuk membiasakannya makan sendiri, bisa-bisa sampai akhir usia sekolah pun dia belum terampil makan sendiri. Ingat, orang tua yang terbiasa menyuapi makan sebetulnya tengah "membonsai" kemandirian anaknya. Akibatnya, si anak hanya mau makan bila disuapi oleh orang tua atau pengasuhnya. Lalu bagaimana bila kebetulan orang tua pergi atau pengasuhnya sedang repot? Besar kemungkinan jam makannya terlewati.
Sebagai solusinya, jika anak tak mau makan hanya gara-gara ingin terus disuapi, tegaskan padanya bahwa anak seusianya sudah seharusnya bisa makan sendiri. Jika anak tetap tak beranjak untuk mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk, tak usah memaksa. Sediakan saja makanan di tempat yang terjangkau dan mintalah ia makan dengan mengambilnya sendiri bila lapar.
Di sisi lain, orang tua jangan terlalu khawatir anaknya bakal kelaparan akibat aktivitas fisiknya yang begitu tinggi. Anak usia ini umumnya akan mudah merasa lapar dan pasti ingin makan. Yang mereka inginkan sebetulnya adalah ditunggui atau disuapi saat makan. Bila ini yang terjadi, berilah pengertian dengan bahasa yang mudah dicerna anak.
* Tak suka sayur
Penyebabnya karena orang tua relatif jarang menghidangkan sayuran dalam menu makanan sehari-hari di rumah. Solusinya, berikan pengertian dalam bahasa sederhana mengenai pentingnya mengonsumsi sayur bagi kesehatan dan kecerdasan. Orang tua juga harus pintar-pintar menyiasatinya dengan menyajikan sayur bersama makanan lain yang disukainya, berpenampilan menarik, mudah dinikmati, tidak keras dan liat, tidak pedas, dan memiliki citarasa yang sesuai selera anak. Bila anak tetap menolak sayuran, pilihkan bahan makanan yang banyak mengandung serat yang bisa diperoleh dari buah-buahan dan agar-agar.
USIA 9-12 TAHUN
* Ingin langsing seperti bintang film
Beberapa anak usia 9-12 tahun, terutama praremaja putri, menyadari kegemukan merupakan momok. Agar tak jadi sasaran empuk untuk diolok-olok, mereka berusaha keras menjaga kelangsingan tubuhnya. Tak bisa disangkal bila fenomena di atas muncul akibat kuatnya pengaruh layar kaca yang mempertontonkan tokoh-tokoh cilik yang menjadi "hero", semisal bidadari nan cantik dan bertubuh langsing. Nah, itu semua terekam dalam benak anak hingga mereka terobsebsi ingin langsing seperti tokoh idolanya tadi.
Akibatnya, tak sedikit yang menjalani diet ketat bahkan menolak makan hanya supaya langsing! Celakanya, anak seusia ini umumnya belum mengerti sepenuhnya dampak buruk dari program diet berlebihan, apalagi tanpa pengawasan dokter. Padahal arti diet sesungguhnya adalah mengombinasikan makanan dan minuman dalam hidangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Ada berbagai jenis diet. Contohnya, diet seimbang yakni karbohidrat, protein, dan lemak terkandung di dalamnya dengan komposisi seimbang. Diet rendah lemak, mengandung lemak dalam jumlah lebih rendah dari kebutuhan ideal. Diet rendah kalori (biasanya diberikan untuk mereka yang sedang menurunkan berat badan) yaitu mengandung jumlah kalori yang lebih rendah dari kebutuhan tubuh sehari-hari.
Pada dasarnya, setiap orang di segala umur harus melakukan pengaturan makan sesuai dengan kebutuhan tubuhnya, termasuk pada usia SD. Karena itu penanganan sikap enggan makan akan lebih efektif jika dilakukan dengan cara memberi pengertian kepada si anak. Tekankah bahwa mereka sedang dalam masa pertumbuhan. Kalau memaksa diri tidak mau makan hanya karena ingin langsing, mereka sendiri yang akan rugi. Tubuhnya akan lemas dan cepat lelah yang bukan tidak mungkin akan berakhir di rumah sakit. Ia juga jadi malas beraktivitas, bahkan kemampuan berkonsentrasinya terganggu. Di sekolah, akhirnya ia tidak dapat menangkap pelajaran dengan baik dan prestasinya menurun. Jadi, tetap lakukan pengawasan terhadap perkembangan anak dan susunlah menu bergizi seimbang.
Santi Hartono. Foto: Iman/nakita
ADA JUGA YANG JADI DOYAN MAKAN
Di usia praremaja, aktivitas fisik anak semakin meningkat. Disamping urusan sekolah, mereka juga disibukkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan mulai sering ngegang dengan teman-temannya. Semua kegiatan tadi yang melibatkan aktivitas fisik sebetulnya justru membuat anak jadi doyan makan.
Pada rentang usia ini, pertumbuhan yang dialami anak berlangsung mantap meski tidak sepesat masa bayi atau masa pubertas. Dengan demikian konsumsi makan yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya kegemukan. Padahal kegemukan yang tejadi di usia anak bakal sulit dikoreksi setelah yang bersangkutan dewasa. Lantaran itu, pengaturan pola makan yang baik sudah harus diterapkan sejak dini. Sementara kegemukan yang tak tertangani dan dibiarkan berlanjut kelak dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes dan jantung. Selain itu, obesitas juga dapat mengganggu citra diri.
CARA MAKAN JUGA MERUPAKAN KEUNIKAN
Tak ada gunanya memaksa anak makan dengan sempurna, karena yang ia butuhkan adalah bimbingan dari orang tua.
Selain mengupayakan berbagai cara yang sudah disebutkan di depan, orang tua pun harus bersedia bereksplorasi menemukan makanan yang paling cocok untuk anak. Selain itu, pada bayi, bukan tidak mungkin apa yang kita anggap sebagai bentuk penolakan makan sebenarnya adalah eksplorasi anak. Dengan menyembur-nyemburkan makanannya, boleh jadi ia merasakan sensasi tersendiri kemudian menjadikannya sebagai permainan yang menyenangkan.
Orang tua pun wajib memahami berbagai tipe makan anak yang berbeda-beda. Ada yang lebih suka makan dalam porsi sedikit-sedikit, ada juga yang amat berselera melihat porsi besar. Sebagian anak makan dalam tempo yang amat lambat, sedangkan sebagian lagi cepat. Dengan kata lain, tidak tertutup kemungkinan penolakan si kecil semata-mata karena orang tua atau pengasuh tidak tahu tipe makan si anak. Inilah salah satu bentuk keunikan anak.
Selanjutnya, harus dipahami bahwa belajar makan sendiri harus dilatih terus-menerus. Anda bisa mulai melatih anak saat berusia 1,5 tahun. Kemampuan duduknya yang sudah lebih baik, ditunjang kemampuan motorik yang lebih optimal, memungkinkan anak bisa memegang sendoknya sendiri, bahkan menyuapkan sendok berisi makanan ke mulutnya. Pastinya, makanan masih berceceran di mana-mana. Oleh karena itu, anak usia batita perlu bimbingan terus-menerus. Bagaimana memegang sendok, mengambil makanan, mengunyah, dan kemudian menelannya. Jika orang tua sabar untuk terus melatih si kecil, maka ia akan terbiasa makan sendiri.
Namun, biasanya ada kekhawatiran yang menyertai setiap kali anak berlatih makan sendiri, takut asupan gizinya kurang karena lazimnya makanan jadi terbuang-buang. Nah, berdasarkan penelitian yang dikutip Papalia (1994), seharusnya kekhawatiran ini tak perlu ada lagi. Ia mengacu pada hasil penelitian yang telah dilakukan di Amerika Serikat tahun 1991 yang mengatakan, tubuh anak memiliki "rambu-rambu" tersendiri untuk memenuhi kebutuhan makannya. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 15 anak usia 25 tahun dengan berat badan rata-rata dan memiliki perilaku makan yang beragam. Ada yang sulit, mudah, dan biasa-biasa saja. Penelitian tersebut dilakukan selama 6 hari. Hasilnya? Ternyata jumlah kalori pada ke-15 anak itu sama. Sekali lagi, tubuh anak sebenarnya telah memiliki rambu-rambu sehingga mampu mengimbangi kebutuhan gizi. Uniknya, kemampuan seperti ini tidak dimiliki orang dewasa.
Jadi, tak perlu khawatir berlebihan kalau si kecil sulit makan, apalagi sampai memaksanya makan. Percayalah, anak yang normal akan makan sesuai kebutuhan tubuhnya. Bila kondisinya tetap sehat, kulitnya tidak kusam, matanya tetap bercahaya dan masih aktif bergerak, itu pertanda kebutuhan zat gizinya masih tercukupi.
Zali, Irfan, Uut. Foto: Dok. nakita
6 HAL YANG PATUT DIPERHATIKAN
1. Kurus belum berarti kurang gizi, gemuk belum tentu sehat.
2. Jangan memaksa si prasekolah makan berlebih hanya karena terlihat kurus dan Anda takut ia kekurangan gizi.
3. Sesekali ajak anak menyiapkan makanannya. Ketertarikan pada proses ini mampu membangkitkan selera makannya.
5. Jangan ragu untuk mengenalkan aneka rasa sebagai variasi. Namun hindari penggunaan penyedap dan bumbu-bumbu yang kelewat merangsang atau pedas.
6. Sesekali biarkan anak makan bersama teman-temannya. Suasana kebersamaan seperti ini mampu menggugah selera makannya.
TAHAP PERKAMBANGAN PERILAKU MAKAN
* Usia 1,5 tahun
Umumnya anak mulai memiliki keinginan untuk makan sendiri menggunakan tangannya. Untuk mengoptimalkannya, berikan makanan yang dapat digenggam sendiri (finger food) dan biarkan ia makan sendiri.
* Usia 3 tahun
Anak sudah bisa memegang sendok dan garpu sendiri. Biasanya diikuti keinginan untuk mencoba makan dengan peralatan tersebut.
* Usia 4 tahun
Anak sudah bisa makan sendiri. Untuk melatih kemampuannya, upayakan agar dalam 1 di antara 3 waktu makan, ia makan sendiri tanpa bantuan orang lain.
* Usia 5 tahun
Anak sudah terampil makan sendiri dalam 3 kali waktu makan.
sumber: Nakita Dear All,
Berikut ada kuisioner dari milis sehatku tercinta...tolong diisi yah...pleasee Untuk mendukung kesuksesan pemberian ASI pada buah hati dan anak2 diseluruh negri ini... kalau bukan daru kita yg memulai ...siapa lagi... ayoo..ayo...sukseskan pemberian ASI ekslusif dan menyusui...terimakasih tak terhingga sebelumnya...
Dear Smart Parents,
Dalam rangka turut menyukseskan ASI eksklusif, Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) yang menaungi Milis Sehat, kembali mengadakan kuisioner utk bahan riset kami. Kami mohon partisipasi dari seluruh member untuk dapat mengisi kuisioner tsb. Kuisioner tidak terbatas untuk para ibu menyusui saja, tetapi juga utk para ayah, calon, calon ayah, bahkan para eyang ataupun mereka yg sedang merencanakan pernikahannya.
Silahkan mengisi kuisioner dan mengirimkannya kembali melalui japri di email : anovita@cbn.net.id . Harap menuliskan judul di subject : Kuisioner ASI. Kami harapkan juga untuk tidak mengirimkan jawaban kuisioner ke milis.
Terima kasih atas kerjasamanya. Dengan mengisi kuisioner ini, berarti anda telah aktif membantu menyukseskan ASI eksklusif di masyarakat kita.
Salam sehat Moderator Milis Sehat
======================================================
KUESIONER ASI
Data Pribadi
Nama : ________________
Usia : ________________
Jenis Kelamin : ________________
PENGETAHUAN
1.. Apakah Anda pernah memperoleh pendidikan/pengajaran mengenai ASI & menyusui?
1.. Ya (sebutkan dari mana) _______________________________________
2.. Tidak
2.. Tahukah Anda bahwa pada usia 0-6 bulan sebaiknya bayi hanya mengkonsumsi ASI?
a. Ya b. Tidak
3.. Menurut anda, apakah Susu Formula masa kini dapat menyamai komposisi dan keunggulan ASI?
a. Ya b. Tidak
4.. Apakah Rumah Sakit / Bersalin yang Anda kunjungi untuk memeriksakan kehamilan memiliki klinik laktasi?
a. Ya b. Tidak
5.. Apakah DSOG/Bidan Anda memberi penjelasan mengenai ASI pada saat pemeriksaan kehamilan dan menyarankan Anda untuk memberikan ASI Eksklusif?
a. Ya b. Tidak
SAAT KELAHIRAN
6.. Apa yang dilakukan DSOG / bidan / perawat anda setelah bayi Anda lahir?
1.. Memperlihatkan bayi pada Anda untuk dilihat saja (tanpa Anda pegang)
2.. Memberikan bayi pada Anda untuk dipeluk dan disusui
3.. Memandikan bayi
4.. Bukan salah satu di atas, sebutkan apa tindakannya
_____________________
7.. Kapan Anda pertama kali menyusui bayi Anda yang baru lahir?
1.. 0-30 menit setelah lahir sebelum bayi dibersihkan
2.. 30 menit - 1 jam setelah kelahiran
3.. 6 jam setelah kelahiran
4.. 6 - 24 jam setelah kelahiran
5.. Lebih dari 24 jam
8.. Apakah papan nama di box bayi Anda atau jam dinding atau kalender di Rumah Sakit / bersalin ada merek Susu Formula?
1.. Ya (sebutkan merek Susu Formulanya dan nama Rumah Sakit/Bersalinnya) ____________________________________________________
2.. Tidak
9.. Apakah bayi Anda tidur bersama dalam satu kamar dengan Anda di Rumah Sakit/ Bersalin (rooming in atau rawat gabung), termasuk di malam hari?
a. Ya b. Tidak
10.. Bila bayi Anda tidak tidur di satu kamar dengan Anda atau tidur di kamar bayi, apakah bayi Anda diberikan kepada Anda setiap kali bayi ingin menyusu, termasuk di malam hari?
a. Ya b. Tidak
11.. Apakah selama di Rumah Sakit / bersalin bayi baru lahir Anda diberikan Susu Formula atau cairan lain selain ASI?
1.. Ya (sebutkan apa yang diberikan)
____________________________________
2.. Tidak
12.. Apakah pada saat bayi pulang ke rumah, Anda dan bayi Anda dibekali contoh / sampel / hadiah dan brosur Susu Formula?
a. Ya b. Tidak
SUSU FORMULA
13.. Apakah anda pernah dihubungi oleh bagian pemasaran / produsen Susu Formula?
a. Ya b. Tidak
14.. Apa yang Anda lakukan ketika Anda dihubungi oleh produsen Susu Formula?
a. Langsung menolak
b. Mendengarkan aau menerima saja semua penjelasannya
c. Berargumentasi
d. Lainnya, sebutkan
_____________________________________________________
15.. (Bagi yang mengkonsumsi Susu Formula) Apakah Anda mengkonsumsi Susu Formula dari produsen tersebut?
a. Ya b. Tidak
16.. Pendapat Anda mengenai promosi Susu Formula saat ini:
a. Baik
b. Sedikit meresahkan namun tidak mengganggu
c. Sangat meresahkan dan menganggu
d. Lainnya, sebutkan
_____________________________________________________
17.. Pendapat Anda mengenai pelayanan kesehatan Ibu dan Anak terutama tentang Laktasi yang Anda peroleh:
a. Kurang sekali
b. Cukup memadai
c. Sangat memuaskan
IBU BEKERJA
18.. Selama Anda bekerja, apakah Anda memeras/memompa ASI dan kemudian disimpan untuk diberikan ke bayi Anda?
a. Ya b. Tidak
19.. Tahukah Anda bahwa Undang-undang Tenaga Kerja mengatur bahwa pekerja wanita patut diberi kesempatan untuk menyusui bayinya?
a. Ya b. Tidak
20.. Apakah tempat Anda bekerja memberikan waktu dan/atau kesempatan bagi Anda untuk memerah atau memompa ASI di tempat kerja?
1.. Ya, sebutkan dimana Anda memompa ASI?
____________________________
2.. Tidak
21.. Apakah di tempat Anda bekerja tersedia ruang khusus untuk memerah/memompa ASI?
1.. Ya
2.. Tidak, sebutkan tempat Anda memerah/memompa ASI selama di tempat bekerja ____________________________
a.. Terima kasih atas waktu dan kesediaan Anda mengisi kuesioner ini -
b.. Mohon kirimkan kuesioner ini hanya ke alamat email anovita@cbn.net.id dengan subject kuisioner asi. Koran Tempo, Minggu 8 Mei 2007 TAMU Dr. Utami Roesli, SpA, MBA, CIMI, IBLCC, Dokter Anak Aktivis ASI : Selama Ini Kita Menzalimi Bayi Perempuan berkemeja merah menyala itu berjalan tergesa. Jas dokternya melambai mengimbangi langkahnya menuju ruang praktek di kamar nomor 25. Rabu pagi pekan silam itu, ruang tunggu Ruang Rawat Jalan Rumah Sakit Sint Carolus sudah dipenuhi pasien. Sesekali terdengar celoteh dan tangis para bocah yang pagi itu hendak berobat kepada sang dokter. Pagi Utami Roesli, dokter spesialis anak yang sepuluh tahun belakangan giat mengkampanyekan pemberian air susu ibu eksklusif kepada bayi, dibuka dengan kesibukan luar biasa. Ia harus melayani pasien kecil dan orang tua mereka, menerima tamu¯untuk kepentingan medis atau wawancara¯dan tugas lain sebagai Ketua Sentra Laktasi Indonesia. Setelah itu, cucu sastrawan besar Marah Roesli ini bergerak layaknya putaran jarum jam. Dalam sepekan, harinya dhabiskan di luar Jakarta. "Paling sering ke daerah untuk memberi penyuluhan tentang ASI." Ia juga acap terbang ke macanegara untuk bertemu dengan koleganya sesama penggerak ASI. Setahun belakangan, kesibukannya kian bertambah dengan munculnya banyak temuan baru tentang pemberian ASI kepada bayi yang baru lahir. Dengan energi yang seolah tiada habis, ia terbang kian-kemari mengmpulkan bukti empiris, menghubungi para koleganya di berbagai negara, dan mengusung temuan-temuan itu kepada masyarakat. "Macam-macam sambutannya." Salah satu temuan yang kini tengah giat dikampanyekan para dokter di Eropa dan Amerika adalah mengenalkan ASI kepada bayi di menit pertama kelahirannya. Inisiasi dini, begitu para ahli menyebutnya. Temuan ini mementahkan teori puluhan tahun bahwa bayi tidak mampu dan tidak butuh menyusu pada menit-menit awal kelahirannya. Utami yakin, jika inisiasi dini didukung oleh semua tenaga kesehatan, kematian 21 ribu bayi sebelum usia 28 hari di Indonesia tak akan terjadi. Setelah menyapa para pasiennya, yang sudah menunggu, penulis buku laris tentang terapi pijat bayi ini menerima Budi Saiful Hadi, Nurdin Kalim, Angela Dewi, serta fotografer Yosep Arkian dari Tempo di ruang prakteknya yang dipenuhi poster tentang kampanye ASI. Diselingi dering telpon di mejanya dan dari dua telepon selulernya serta pertanyaan suster yang membantunya, kakak kandung musisi Harry Roesli ini berksah panjang tentang inisiasi dini dan perjuangannya "melawan" pemberian susu formula kepada bayi dibawah usia 6 bulan. Nada suaranya bersemangat. Dengan ramah dan acap diselingi tawa, ia menjawab setiap pertanyaan. Berikut ini petikannya. Bagaimana ceritanya temuan inisiasi dini ini ? Ceritanya, sekelompok scientist dari Inggris yang tergabung dalam Departement for International Development melakukan penelitian terhadap 10.946 bayi sejak 2004. Pada 30 Maret 2006, mereka menemukan bahwa bayi normal yang langsung diletakkan di dada ibunya minimal 30 menit, pada usia 20 menit dia akan merangkak sendiri ke payudara ibunya. Pada usia 50 menit, dengan susah payah merangkak, dia akan menemukan puting susu ibunya dan menyusu. Refleks saja seperti mamalia? Betul! Kenapa kalau kita melhat hewan mamalia langsung menyusu ke ibunya ketika lahir tidak aneh, tapi kalau terjadi pada manusia merasa aneh? Karena ketidaktahuan kita tentang ASI, itu mengganggu proses kehidupan. Sebab, begitu lahir, langsung dipisahkan dengan ibunya. Selama ini kita kan sudah menzalimi bayi. Kalau seekor anak macan, ketika lahir tidak mendapatkan sumber kehidupannya, dia akan mati. Ini berlawanan dengan paradigma yang sudah kita kenal selama ini? Ya. Biasanya, di keluarga kita, pada waktu lahir, tali pusar dipotong, kemudian dipisahkan dari ibunya untuk ditmbang, dicap, dibersihkan, baru kemudian dikembalikan lagi kepada ibunya. Seharusnya, begitu bayi lahir, ketika sudah kering langsung diletakkan di perut ibunya. Pada usia 20 menit, tak mudah memang bagi dia untuk merangkak, tapi ternyata secara refleks itu bisa. Biarkan di dada ibu menimal setengah jam. Sampai dia minum sendiri. Kalau belum juga minum, biarkan dia mencari sendiri sampai satu jam. Nggak gampang, tapi dia berhasil akhirnya. Insting dan dibimbing oleh smell. Bukankah pada umumnya bayi yang baru lahir tidak butuh menyusu dan pada jam-jam awal ASI memang belum keluar? Keluar atau tidaknya air susu ibunya pada waktu itu bukan masalah. Tapi berikan kesempatan bagi dia untuk mulai menyusu sendiri. Ini temuan yang benar-benar baru? Tidak juga. Sebenarnya pada tahun 1990 sudah ada penelitian tentang ini, tapi tidak terdengar gaungnya. Sampai ada ahli yang meneliti dan sudah dicba di negara-negara Skandinavia. Lalu saya diberi kesempatan membuat model dengan bayi Indonesia. Kami menggunakan bayi di Bantul, Yogyakarta, ang dibantu kelahirannya oleh bidan yang sederhana. Dan ternyata telah kami buktikan itu. Bagaimana penerimaan bidan di Sint Carolus? Pada awalnya tidak begitu mudah, tapi kebetulan kami diberi kepercayaan oleh UNICEF untuk melatih 600 kader. Saya bahkan sudah melakukan kepada cucu sayayang pertama. Pada saat itu pula saya menyaksikan seorang ayah yang mengumandangkan azan di dada ibunya. Aduh, rasanya takjub... ( Utami kemudian menunjukkan potongan gambar video di laptop ASUS-nya. Di video itu, Raffa sang cucu yang baru lahir, dalam keadaaan telanjang merangkak dengan susah payah hingga menemukan puting sang ibu dan mulai menyusui). Bayinya tidak kedinginan, ya? Dada ibu yang melahirkan 1 derajat lebih panas daripada dada ibu-ibu yang tidak melahirkan. Kalau bayi kedinginan, dia akan otomatis neik 2 derajat Celsius. Tapi kalau si bayi kepanasan, turun 1 derajat Celsius. Jadi, jauh lebih bagus daripada tabung yang biasa dipergunakan untuk meyimpan bayi pada saat lahir. Anda juga akan menerapkan inisiasi dini pada bayi Tiara? Jika Tiara tidak keberatan, saya juga ingin melakukan hal yang sama. Nanti rencananya video Tiara ini akan dibawa ke daerah. Supaya orang-orang desa bisa melihat, oh...orang kota juga menyusui bayinya. (Tiara Lestari, yang berprofesi sebagai model, adalah menantu kedua Utami Roesli. Ia tengah menanti kelahiran bayi pertamanya). Apa sih manfaat utamanya jika inisiasi ini diterapkan? Begini, bayi yang diberi kesempatan menyusui dini, akan lebih besar kemungkinan berhasil menyusu eksklusif hingga usia 6 bulan. Jumlahnya bisa mencapai 59 persen. Tapi masih sedikit orang yang berbicara. Baru ada gongnya pada 2006 itu. Sudah dipublikasikan disini? Secara luas belum. Saya ini apalah, tidak mungkin menguasai seluruhnya. Tapi setidaknya di kalangan komunitas Sentra Laktasi Indonesia sudah dikenalkan soal itu sampai ke daerah tempat saya memberi pelatihan. Kami gencarkan pada pekan ASI Dunia, 1-7 Agustus nanti. Di Banda Aceh, saya sounding melalu agama, melalui Al-Qur'an. Sebab, lebih efektif, meski tetap saja kalah oleh promosi-promosi susu formula. Sudah mengantisipasi penolakan dari kalangan medis dan orang tua mengingat ini merubah paradigma? Terus terang saja, ini bukan ide saya. The world has been done this. Cuma, saya yang pertama menerima informasi ini. Sangat disayangkan jika orang tidak banyak tahu soal ini. Indonesia sebenarnya tidak sendiri. Dari 190 negara di dunia, hanya 33 negara yang tahu inisiasi menyusui dini yang benar. Di dunia, dalam setahun 4 juta (bayi) yang meninggal. Andaikata semua tenaga kesehatan atau penolong bayi memberi kesempatan menyusui dini, 1 juta bayi di dunia ini terselamatkan. Apakah ini juga berlaku bagi bayi yang tidak normal? Berapa persen sib bayi yang lahir dengan berat rendah? Itu presentasenya kecil. Kenapa kita tidak mengkonsentrasikan diri pada jumlah yang besar saja ? Pada bayi yang (lahir) caesar pun bisa dilakukan. Tapi memang teorinya 50 persen yang akan berhasil, hanya ibunya harus percaya diri. Dan sang ayah juga harus tahu. Berarti harus ada posisi tawar yang kuat pada orang tua untuk meminta tenaga kesehatan melakukan inisiasi dini pada bayi? Kalau s ibu sudah tersadarkan dan meminta itu, si bidan pasti akan mencari tahu bagaimana sih inisiasi menyusui dini yang benar? Di Indonesia, disangkanya inisiasi dini menyusui seperti ini : setelah dibersihkan dan dibedong lalu diberikan kepada ibunya. Saya pun masih melakukannya sebelum satu tahun lalu. Obat bius tidak terpengaruh? Kenapa bicara itu, prematur, kenapa tidak bicara yang lebih besar? Dan dengan ini pun kita meng-encorage- jangan ada obat-obatan. Paradigma yang "biasa" itu kan sudah lama, berarti ada kesalahan dong selama ini? Sebenarnya, masalahnya who owned sekarang, proses penyadaran para ahli kebidanan dan penolong kelahiran bayi, karena dokter anak pada saat kelahiran itu jarang dipanggil. Tapi kenapa nggak kita yang sadar duluan? Tapi alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya berbicara di Tangerang dengan para bidan. Mereka betul-betul terpukau karena ketidaktahuan, jadi tidak benar-benar karena kesengajaan kesalahan. Karena informasi yang belum sampai saja. Kita nggak pernah terpikir bahwa bayi berumur 20 menit bisa menyusu sendiri. Ini perang terang-terangan terhadap susu formula? Kan sekarang masih terjadi rumah sakit memberi susu formula di hari-hari pertama kelahiran bayi karena ASI yang belum keluar dan bayi yang tidak bisa meyusui? Tidak hanya di Indonesia, di Amerika saja kuat promosi susu formula. Karena mereka orang kaya, siapa tidak mau? Tapi itu karena mereka tidak tahu. Pernah seorang bidan sampai menangis mengetahui ini. Dia mengembailkan susu formula. Ini yang kita inginkan. Selain kesehatan, yang ingin kami kerjakan adalah knocking nurani. Selama ini kesannya kan sudah memasyarakat, telanjur pakai susu formula? Tidak ada telanjur, karena itu kita harus mencoba agar tidak telanjur. Di Skandinavia, Kanada, Finlandia, dan Swiss, tidak ada cuti ibu atau ayah melahirkan, tapi justru mereka cuti orang tua. Selama 12 bulan, 80 persen gajinya dipakai untuk itu. Syaratnya cuma dua, ibu harus empat bulan pertama, ayah dua bulannya, enam bulan emudian tergantung. Kalau gaji ibu lebih besar, ibu bekerja, dan ayahnya yang di rumah. Di Indonesia susah mewujudkan hal seperti itu... Saya tidak memikirkan itu, tapi kalau anak-anak kalian, cucu kalian tidak dilengkapi ASI, mau jadi apa ? Mereka jauh lebih kaya, dukungan terhadap ilmu begitu besar, sekarang anak-anak itu akan memiliki EQ yang lebih besar daripada anak-anak kita. Spiritualitas yang lebi tinggi. Lalu daya saing anak Indonesia apa kalau tidak dikasih ASI? Dua puluh lima tahun lagi, kita habis, sekarang saja sudah kalah oleh malaysia. Sebab, orang barat sekarang mulai menyusui. Dukungan ayah itu begitu besar, meski hal itu baru mereka sadari November 2003, dengan mendirikan Global Initiative Father Support : satu kelompok para ayah. Padahal di kita (umat Islam) ada Al-Qur'an yang sudah meyatakan pentingnya hal itu ( Al-Baqarah ayat 233). Ketika anak dilahirkan, harus ada musyawarah. Dengan demikian, kegagalan menyusui aalah kegagalan ayahnya. Begitu pula dengan kebrhasilannya. Efek secara medis lainnya? Anak-anak yang menyusu kepada ibu itu tidak hanya lebih sehat, lebih pandai, tapi lebih saleh dan salehah. Karena adanya RNA dan DNA (pembawa sifat) yang diberikan ibu. Maka sekarang ini, karena tahu urgensinya, orang yang mengadopsi anak mengejar supaya bisa menyusui juga. Kembali ke susu formula, bagaimana dengan anak usia 1 tahun yang justru tidak mau dikasih susu formula? Itu justru bukan masalah. Pernah melihat nggak anak macan yang sudah mencicipi segaa macam kembali menyusu? Tidak. Anak sapi saja kalau sudah besar tidak mau menyusu kepada induknya. Kok, malah (susunya) dipakai untuk anak manusia? Bukankah minum susu seumur hidup selama ini digembar-gemborkan? Manusia juga mempunyai taraf umur tertentu untuk mendapatkan susu. Masalahnya, kita terprogram dengan empat sehat lima sempurna. Susu sumber protein.Padahal, anak di atas 3 tahun tidak perlu minum susu. Bukan tidak boleh. Karena bisa dari tahu, tempe, ikan, telur, dan keju. Mendingan dikasih tahu, juga lebih murah. Nggak ada pengaruhnya sama sekali. Bahkan pada mamalia di atas 3 tahun, enzim untuk menyerap protein dari susu sedikit. Kita telah di brain-minded oleh pabrik susu, entah sejak kapan. Selama ini sukarnya pemberian ASI kan karena ibu harus kembali bekerja? Itu bukan masalah besar juga. Di Cina, seorang ibu insinyur begitu aktif sehingga harus sering ke luar kota. Tapi dia menyimpan di lemari es ASI perasannya. Sebab, ASI itu memenuhi keseimbangan supply and demmand. Dikeluarkan 1.000 mililiter, ya, berproduksi lagi 1.000 ml. Lalu kalau ASI berhenti sama sekali kenapa ? ASI sangat berpengaruh pada pikiran. Ketika si Ibu merasa ASI-nya sedikit, yang keluar sedikit. Ataupun pada saat berhenti. Disitu peran ayah. Di saat pikiran ibu terganggu, ayah berperan. Tapi permasalahan fasilitas agar bisa menyusu ? Itu sekarang yang jadi masalah, kantor-kantor harus menyiapkan. Harus didorong agar kantor-kantor mempunyai fasilitas itu. Bagaimana dengan dukungan pemerintah ? Pemerintah itu hanya banyak omong, bahkan katanya ada yang bilang akan dibuat undang-undang. Tapi kok sekarang diam lagi? Tapi sudahlah, biarkan mereka melakukan apa yang bisa dilakukan. Bagaimana dengan upaya Ibu sendiri ? Saya tahun ini alhamdulillah sudah diberi kesempatan luar biasa. Di UNICEF, Care. Bahkan bersyukur bisa mengajar kader-kader. Sampai begitu berkesan. Capek nggak,Bu ? Kalau lillahita'ala, tdak ada kata capek. Saya kadang ketika bangun pagi bingung, saya ada di mana, ya? Tapi itulah, saya ini di depan Tuhan mungkin ibarat ikut MLM (multilevel marketing). Kaki-kaki saya sudah banyak dan itu menambah poin buat saya. Kalau dilihat-lihat, Anda ini seperti melawan arus ya? Sama seperti adik Anda... (Utami tertawa berderai) ya, kita semua melawan arus. Tapi, dari semua saudara saya, cuma Harry itulah yang jadi seniman, sisanya dokter seperti saya. Jadi nyentrik-nya sudah disedot dia semua. | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Jennie S. Bev |
Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri setelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam. Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about being dan becoming. Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan bahkan jutaan manusia "sukses" di dunia alias manusia bermental juara mempunyai mindset seperti ini. Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juara golf profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut "sukses"? Apakah Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak. Seorang bermental juara alias bermindset "orang sukses" bisa jadi hanyalah seorang salesman saja. Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-door dari Portland, Oregon yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan kaki setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih setiap hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri tidak bekerja sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit untuk berjalan tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca www.billporter.com, filem Door to Door dan buku berjudul Ten Things I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan pas-pasan dari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang awam ia tidaklah termasuk kategori "sukses secara finansial." Namun, bagi saya, Bill Porter adalah salah satu orang paling sukses di dunia yang amat sangat saya kagumi. Salah satu cita-cita saya adalah bertemu muka dengan beliau suatu hari. Nah, lantas apa resep 10 tip sukses concoction ala Jennie? Satu, bersyukurlah atas hari ini. "Just to be alive is a grand thing," kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka. Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalani setiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter. Kalau dia bisa jadi seorang salesman berhasil, apapun yang Anda inginkan sebenarnya pasti bisa tercapai. Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplah seakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkata demikian, "Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to live forever." Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagai cara baik yang memerlukan effort maupun effortlessly. Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini saya dapat dari salah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego. Sahabat saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, "There are all kinds of writers, there are all kinds of readers." Ketika saya down karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulis lokal di sini, Crystal mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pasti ada pembacanya (niche). Find your niche, so you find your place in the world. Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emerson once said, "Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail." Jangan latah mengikuti orang lain, dengar kata hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan. Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukan berangan-angan akan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand, impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumen yang kasat mata saat ini juga. Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan. Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali, apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitu kelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu. Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsong hari baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi dengan hati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Be excited, be courageous to start the day. Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima. The more you give, the more you get in return. Dalam marketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations atau publicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya sendiri sudah membuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas, tidak terbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan dan berkat yang kita terima. Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do? Itu yang saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesar negara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang telah membalikkan nasibnya sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia. Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknya sekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat ini juga. Jangan tunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di Farewell Concertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I have. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin yang terakhir. Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Sukses adalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir maka saya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya). Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev. Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books and over 850 articles published in the United States, Canada, UK, France, Germany, Singapore and Indonesia. She is based in scenic Northern California where she resides with her husband. Siapa bilang berkomunikasi itu mudah? Bisa saja kita setiap hari bertemu dengan seluruh anggota keluarga, tetapi belum tentu kita saling berbicara dari hati ke hati satu sama lain. Atau, ayah, ibu dan anak-anak berada berdekatan atau duduk dalam ruangan yang sama, tapi masing-masing sibuk dengan telepon genggam atau menonton acara di teve.
Padahal, orangtua amat dianjurkan untuk menciptakan komunikasi, mengajak anaknya mengobrol meskipun hanya sebentar. Soalnya, lewat pembicaraan yang sedikit itu, banyak sekali pengaruh yang signifikan bagi kemajuan anak.
Jangan lupa, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat di dalam rumah, dari orangtua mereka. Jadi, jangan malas mengajak anak mengobrol dan bercerita. Bicarakan tentang apa yang mereka pelajari di sekolah serta apa yang ingin mereka capai. Memang sebaiknya kita selalu mengikuti perkembangan anak, baik di rumah maupun sekolah, bukan? Jangan menunggu sampai guru anak menghubungi Anda. Bersikaplah proaktif. Tingkat keberhasilan anak-anak yang memiliki orangtua yang selalu mengikuti kemajuan anaknya di sekolah lebih tinggi dibanding anak yang orangtuanya jarang mengajak berbicara.
Berikut 10 cara sederhana yang dapat Anda terapkan untuk memulai obrolan, membuat anak mau mendengar perkataan Anda, dan menceritakan pengalamannya.
1. Jadi pendengar yang baik
Bila anak ingin menceritakan sesuatu hal, hentikan kegiatan yang sedang Anda lakukan saat itu. Jika tidak, anak akan merasa tak dipedulikan dan mengangggap Anda tak punya waktu untuknya. Hindari pula memotong pembicaraannya. Biarkan anak mengungkapkan perasaan marah, ketakutan, kegembiraannya, atau sekadar berkomentar. Di lain waktu, giliran anak yang mendengarkan perkataan Anda dan tidak ada salahnya Anda curhat tentang topik yang sesuai untuk usianya. Menjadi pendengar yang baik serta perhatian yang Anda berikan merupakan pemberian yang terbaik bagi anak-anak.
Berikut ini contoh kata-kata yang memperlihatkan pad anak betapa Anda serius mendengarkan apa yang dikatakan atau diceritakannya:
Oya, lalu?
Mama mengerti.
Wow!
Wah, hebat sekali!
Ya, Mama mengerti perasaan kamu.
Teruskan uneg-uneg kamu, keluarkan apa yang kamu pendam.
2. Dua arah
Bila berbicara pada anak, beri mereka pilihan, bila memungkinkan. Biarkan mereka merasa sedang mengobrol dengan Anda, bukan sedang diatur. Ciptakan komunikasi dua arah, bukan komunikasi satu arah, dan bukan sikap mendikte.
3. Tenang, jujur
Hindari mengucapkan kata-kata yang tidak pantas sebagai ungkapan rasa marah dan frustrasi. Anak akan belajar menjadi pendengar yang baik dan percaya pada apa yang Anda katakan bila Anda berbicara dengan benar, jujur, dan tenang. Rasa percaya dan menghormati datang dari kejujuran dan ketulusan. Bila Anda tidak bersungguh-sungguh, jangan katakan hal yang tidak perlu Anda katakan.
4. Beri dukungan
Bila anak mempercayakan ceritanya pada Anda, mereka harus merasa lega, terinspirasi, merasakan dukungan Anda, dan bersemangat. Jangan buat mereka merasa bersalah atau kecewa. Bila anak datang kepada Anda dan menceritakan masalah yang dihadapinya, dengarkan dengan penuh perhatian dan beri dukungan melalui kata-kata semisal:
Mama yakin kamu dapat mengatasinya.
Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, termasuk masalah yang kamu hadapi.
Pikirkan lagi matang-matang. Kamu harus betul-betul memahaminya.
Mama ada di sini untuk membantumu.
Mama pun dulu pernah mengalaminya waktu Mama seusia kamu.
5. Tempatkan diri
Usahakan untuk melepaskan atribut sebagai orangtua saat mendengarkan curhat anak dan cobalah menempatkan diri pada posisi anak. Pikir dan rasakan betapa sulitnya bagi anak untuk mengutarakan masalah yang dihadapinya dan pikirkan matang-matang sebelum memberi reaksi atau komentar.
6. Hindari hujanan pertanyaan
Usahakan agar tidak menguasai pembicaraan. Bila anak curhat dan merasa Anda terlalu cerewet atau kecewa dengan ceritanya, kemungkinan di lain waktu bila dia memiliki masalah, anak kapok menceritakannya ke Anda. Sebagai orangtua, tentu ada saatnya di mana harus membahas permasalahan yang dihadapi anak. Pastikan Anda membahas masalahnya dan tidak kmelenceng dari itu.
7. Tindaklanjuti
Usai ia curhat, tindaklanjuti. Hal ini akan membuat anak yakin, Anda peduli akan kesulitannya, mau membantu, sekaligus memberi kesempatan pada Anda untuk masuk ke dalam dunianya.
8. Luangkan waktu
Orangtua yang sibuk tidak selalu merupakan orangtua yang buruk. Lakukan segala sesuatu secara spontan, seperti pergi menonton bioskop ataupun berolahraga bersama. Tetap luangkan waktu, sedikit apa pun, untuk buah hati tercinta.
9. Minta maaf bila salah
Bila Anda mengatakan atau melakukan sesuatu yang mungkin tidak seharusnya dikatakan/dilakukan, jangan ragu atau malu meminta maaf pada anak. Akui bahwa Anda pun hanya manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.
10. Cintai buah hati
Katakan pada anak (tanpa pernah merasa bosan), betapa Anda mencintainya dan tunjukkan lewat perlakuan yang penuh kasih. Beri ia perhatian, persis seperti saat ia masih bayi yang belum bisa apa-apa. Perlihatkan padanya, bagi Anda tidak ada yang lebih penting selain berada bersamanya.
www.KCM.com Tips Agar Ibu sehat
Lengkaplah kebahagiaan keluarga dengan kehadiran si Kecil yang sehat. tetap tampil menarik seusai masa bersalin merupakan keinginan wanita. Kami coba tampilkan tips singkat untuk diet sehat dan alami, serta pemenuhan nutrisi yang di butuhkan saat menyusui.
Diet sehat dan alami
ASI eksklusif Menyusui bayi secara ekslusif selama 6 bulan, secara alami dapat membantu mengembalikan berat badan ideal Anda.
Pola Makan Seimbang Produksi ASI ditentukan oleh faktor nutrisi, frekuensi pengisapan dan faktor emosi. Jadi tidak ada pantangan dalam memilih makanan. Terapkan pola makan seimbang dengan kombinasi Karbohidrat, Protein dan Lemak untuk produksi ASI.
Perawatan Bayi Mandiri Perhatian dan energi banyak tercurah dalam merawat si Kecil secara mandiri. Melelahkan memang, tapi tanpa disadari berat badan pun turun perlahan.
Nutrisi untuk Ibu menyusui
Vitamin D dan Kalsium Berguna untuk pembentukan tulang dan gigi. Vitamin D dan Kalsium terserap masuk ke dalam ASI. Untuk mengatasi asupan vitamin D dan kalsium tersebut, atasilah dengan minum susu rendah kalori atau berjemur di pagi dan sore hari.
Zat Besi Menjaga daya tahan tubuh, meningkatkan vitalitas dan produktivitas. Terdapat dalam daging berwarna merah, hati, makanan laut dan sayuran hijau.
Asam Folat Mencegah kurang darah (anemia). Banyak terdapat dalam hati ayam, bayam dan sayuran hijau.
Vitamin E Berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi dari radikal bebas, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Terdapat dalam makanan berserat, kacang-kacangan, minyak nabati dan gandum
Zinc (Seng) Mendukung sistem kekebalan tubuh, penyembuhan luka dan mendukung pertumbuhan normal. Terdapat dalam daging, telur dan gandum.
Magnesium Dibutuhkan dalam setiap sel tubuh untuk membantu gerak otot, fungsi syaraf dan memperkuat tulang. Terdapat dalam gandum dan kacang-kacangan.
sumber : sahabat nestle Mengatasi Kolik Bayi
15-Februari-2007
Oleh: Dr Ika Fitriana ---------------------------------------------------------- Bayi umur 3 minggu, menangis 3 jam sehari, selama 3 hari seminggu dan sembuh sendiri setelah berumur 3 bulan. Itulah kolik yang sering membuat cemas orang tua. Siapa orang tua yang tidak cemas? Bayinya sehat-sehat saja, tiba-tiba mulai menangis hebat tanpa sebab yang jelas. Menangisnya hanya sore atau malam hari sehingga neneknya menduga bahwa bayi diganggu sesuatu yang gaib. Saat menangis, kakinya tampak diangkat hingga ke lutut dan perut tampak keras atau kembung sehingga diduga sakit perut.
Penyebabnya bukan hal berbahaya
Penyebab kolik yang tepat sebenarnya masih misteri. Konon, bayi yang normal memang akan mengalami fase rewel terutama sore atau malam hari pada minggu-minggu pertama kehidupannya. Diduga ini merupakan proses adaptasi dengan lingkungan barunya. Ibu yang merokok saat hamil juga ternyata memiliki bayi yang lebih sering kolik dibandingkan yang tidak merokok.
Yang pasti, beberapa penyebab nyeri pada bayi harus disingkirkan dulu, misalnya infeksi, tidak bab, keracunan, buah zakar (testis) yang terpuntir, hernia, patah tulang, radang telinga, dan lain-lain. Bayi yang kebanyakan diberi makan dan tidak disendawakan dengan baik biasanya juga agak rewel karena perutnya kembung dan menyerupai kolik.
Tak perlu panik
Apa yang harus dilakukan bila anak kolik? Jawabannya tidak ada. Selain karena penyebabnya tidak jelas, kolik bukanlah hal yang berbahaya untuk anak. Asalkan sudah dipastikan tidak ada penyebab yang lain.
a.. Tenangkan diri Anda dan keluarga bahwa anak menangis karena kolik bukanlah hal yang berbahaya. b.. Buatlah bayi nyaman dengan menyelimutinya, memeluk, mengayun, membawanya jalan-jalan, memandikannya dengan air hangat, menyanyikan lagu atau memperdengarkan bunyi-bunyi yang ritmis. c.. Bersabarlah. Bayi amat energik menghabiskan dua hingga tiga jam untuk menangis, tetapi pasti itu tak selamanya. Ia juga akan tambah besar dan kemungkinan terjadi kolik akan makin kecil. d.. Jika Anda stres dengan tangisannya, letakkan bayi di tempat yang aman dan biarkan ia menangis sementara Anda beristirahat. e.. Kadang-kadang, dianjurkan pula untuk mengganti susu formula atau memberi obat simetikon. Namun, tanyakan lebih lanjut pada dokter Anda. Kapan perlu waspada?
a.. Jika bayi terus menangis dengan nada tinggi atau tidak reda setelah lebih dari tiga jam. b.. Usia bayi kurang dari 28 hari dengan suhu 38°C (diukur dengan termometer di pantat bayi). Bila ini terjadi, pikirkan kemungkinan infeksi dan mintalah evaluasi dokter. Anak Anda mungkin memerlukan pemeriksaan lebih lanjut ataupun antibiotika. c.. Bila bayi muntah terus, tidak naik berat badannya, atau kolik tak juga hilang setelah usia 3-4 bulan. d.. Anak tampak kesakitan, demam tinggi, atau diare. e.. Bayi yang menangis keras periodik, dan bab berdarah. f.. Bila Anda tidak yakin dapat mendiamkannya. Referensi Keep kids health. Colic management guide. Februari 2003 MoCollough M, Sharieff GQ. Common complaints in the first 30 days of life. Pediatric Emergency Medicine: current concepts and controversies; Feb 2002.201p45 Grysdale WS. Management options for drooling patient. Ear Nose Throat J 1989:820, 825-6, 82930. Roberton NRC. Care of the normal term newborn bab. In: Rennie JM. Roberton NRC. Textbook of neonatology. 3rd ed. Churchill Livingstone, England. 1999 Jika Ibu Harus Kembali Bekerja
Cuti melahirkan hampir habis. Anda pun harus bersiap-siap meninggalkan si kecil di rumah untuk kembali bekerja. Bagi kebanyakan ibu bekerja hal ini memang tidak mudah, bahkan mungkin sangat sulit dilakukan. Berbagai perasaan berkecamuk. Di satu sisi, Anda sudah harus kembali bekerja atau tak sabar kembali mengaktualisasi diri dan berinteraksi dengan dunia luar. Namun di lain sisi, perasaan ingin tetap bersama si kecil untuk memastikan ia mendapatkan perawatan terbaik dan perhatian sering mengganggu pikiran. Belum lagi rasa bersalah harus meninggalkan si kecil di rumah. Mengatur agar keduanya berjalan baik memang akan menjadi tantangan bagi ibu bekerja. Namun, dengan perencanaan, komitmen dan niat yang kuat, Anda pasti bisa mengatasinya.
Sebelum kembali bekerja
a.. Cari pengasuh yang dapat diandalkan. Inilah keputusan penting dan menjadi prioritas utama bagi ibu yang akan kembali bekerja, karena dapat membantu memberikan rasa tenang saat meninggalkan si kecil di rumah. Pilihannya bisa beragam, mulai sang nenek, saudara, baby sitter, atau menyerahkan pengasuhan pada lembaga penitipan anak terpercaya. b.. Bicaralah dengan atasan Anda mengenai tugas dan jadwal Anda saat kembali bekerja. Jadi saat bekerja Anda pun sudah tahu tahu persis apa yang diharapkan oleh atasan. Saat waktu bekerja tiba
a.. Be organized! Bekerja dan mengasuh anak menuntut Anda untuk juga ahli dalam manajemen waktu. Organisasikan semua tugas dan tanggung jawab Anda dengan baik, agar tak ada satu hal pun yang tertinggal. b.. Jaga kedekatan dengan si kecil. Walaupun harus berada jauh di luar rumah, pastikan Anda tetap berhubungan dengannya, misalnya dengan menelepon si kecil untuk mengetahui apa yang sedang dia lakukan. Menurut Alan Greene, MD, spesialis anak dari Lucile Packard Childrens Hospital, California, bayi sudah dapat mengenali Anda sejak dalam kandungan dengan semua inderanya. Karena itu, baju, foto dan rekaman suara Anda yang sedang bercerita juga dapat menjadi alat yang efektif untuk membuat si kecil merasa dekat. c.. Antisipasi bila si kecil sakit. Tanyakan pada atasan Anda mengenai kemungkinan Anda bisa tidak masuk saat si kecil sakit. Jika tidak bisa, mintalah suami atau keluarga dekat lain untuk menggantikan Anda menjaganya. d.. Ada kalanya rasa sedih dan bersalah begitu mengganggu pikiran, karena Anda tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan si kecil, cobalah untuk membicarakannya dengan pasangan atau ibu lain yang menghadapi situasi serupa. Tetapi jika perasaan ini semakin menjadi-jadi, segera konsultasikan dengan ahli untuk mengatasinya. e.. Jangan paksa untuk melakukan semua hal sendiri. Buatlah sistem yang membantu Anda melakukan beberapa tugas dengan bantuan suami, anggota keluarga lain,atau pun pembantu. f.. Luangkan waktu untuk diri sendiri. Walaupun sulit, Anda juga perlu waktu untuk diri sendiri. Saat si kecil tertidur atau dijaga oleh pasangan, manfaatkanlah waktu tersebut untuk sekedar berlama-lama di kamar mandi, membaca buku atau mendengarkan musik kesayangan dan mengembalikan kesegaran pikiran atau beristirahat. Karena bagaimanapun, jika pikiran Anda tidak dipenuhi stres, Anda pun bisa menikmati waktu bersama di kecil dengan lebih baik. g.. Tetaplah memberikan ASI. Tak ada yang dapat menyangkal kehebatan manfaat ASI bagi si kecil. Karena itu, berusahalah untuk tetap memberikan ASI padanya walaupun Anda sudah bekerja. Walau tidak bisa sesering sebelumnya, cobalah untuk menyusui si kecil waktu pagi atau malam hari. Bonusnya, Anda dan si kecil dapat merasakan kedekatan yang terjalin selama proses menyusui. Di luar itu, Anda dapat memompa ASI agar si kecil tetap bisa meminumnya saat Anda tidak berada di rumah. h.. Jaga kesehatan dan rajin berolahraga. Olahraga membuat sirkulasi darah menjadi lancar. Ini dapat mengurangi stres dan rasa penat tubuh. Pastikan Anda memiliki pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan seimbang dan bergizi. Kondisi kesehatan menjadi syarat mutlak bagi ibu berperan ganda. Jika Anda sakit-sakitan bisa dipastikan semuanya akan terbengkalai. Urusan anak dan rumah tak bisa dilakukan dengan baik, Anda pun akan sering minta izin. Situasi bisa menjadi rumit dan mempengaruhi penilaian di kantor.
sumber : sahabat nestle Ayo Renang
20-Februari-2007
Memperkenalkan anak dengan air memang terkadang tidak mudah. Rasa enggan basah atau takut seringkali kita temui pada si kecil. Namun adapula anak-anak yang telah mengenal air justru menemukan bahwa kegiatan ini sungguh menyenangkan. Dan dari banyak pengamatan bisa disimpulkan, anak-anak sebenarnya sangat menyenangi air selain pasir. Tinggal kemudian bagaimana orangtua melatih anak untuk terampil dalam air atau berenang. Bagaimana cara memulainya serta apakah yang harus diperhatikan? Yuk, ajak anak bermain air sesuai dengan tahap usianya. 6 Bulan-1 Tahun Bila Anda mulai berpikir untuk mengenalkan air di usia ini, maka itu adalah tindakan pintar, karena si kecil sudah cukup umur untuk berenang. The American Association of Pediatrics merekomendasikan para orangtua untuk mengikutsertakan anaknya dalam les berenang setelah ulang tahunnya yang ke-4, disaat anak telah berkembang dan mampu untuk belajar mengambang. Sebelum itu pelajaran akan lebih fokus untuk melakukan permainan air, dasar-dasar berenang, serta keselamatan di dalam air. Sejalan dengan pertambahan usianya, ajak anak untuk berpengalaman dan merasa nyaman di dalam air. "Tanpa les anak akan menjadi tidak mahir, tetapi dengan mengikuti program berenang maka anak akan menguasai keahlian renang yang akan berlangsung selamanya," ujar Connie Harvey, pakar National Health and safety dari American Red Cross.
Pelajaran:
a.. Ajak anak masuk ke dalam air, bukan belajar bagaimana berenang. b.. Tunjukkan bagaimana mencipratkan air. c.. Bernyanyi bersama sambil mengajaknya berkeliling kolam berenang. d.. Atau memainkan mainan air. Tips aman: a.. Pastikan bayi selalu dalam rengkuhan Anda. b.. Jangan merendamkan anak di bawah usia 3 tahun, karena pada usia ini anak mampu meneguk banyak air dan dapat menyebabkan masuknya zat-zat kimia dalam darahnya. c.. Gunakan popok khusus untuk berenang. d.. Jika kolam renang berada di rumah, pastikan bahwa si kecil tidak akan mampu menjangkaunya. 2-3 Tahun Pelajaran: a.. Gunakan pelampung pada lengan atau perutnya, lalu ajak si kecil untuk melakukan permainan air yang memungkinkan Ia menggerakan tangan atau kakinya. Contoh, melempar bola lalu ajak Ia untuk mengambilnya. a.. Tunjukan bagaimana membuat gelembung dalam air, sehingga anak belajar untuk mendekatkan wajahnya ke air tanpa harus menyelam. Tips aman: a.. Meski memakai pelampung pastikan agar Anda tidak lengah, jangan biarkan Anak bermain sendiri. b.. Tetap pastikan anak tidak dapat menjangkau kolam sendiri. c.. Ajarkan dan tekankan agar anak tidak pergi ke kolam tanpa orangtua. d.. Jangan tinggalkan mainan apapun dalam kolam, karena dikhawatirkan anak akan berusaha untuk mengambilnya. 4-5 Tahun Pelajaran: a.. Anak Anda telah siap untuk mengikuti kursus berenang. b.. Anda dapat ikut serta dalam kelas pertamanya agar anak merasa nyaman. c.. Mulai pelajaran dengan mengajarkan bagaimana menyelupkan kepala dan tahan selama 5-10 hitungan. d.. Coba meluncur tanpa asisten. e.. Gerakan tangan dan kaki ketika berenang. f.. Serta memberitahukan bagaimana cara mengambang dalam air. Tips aman: a.. Meski tidak harus selalu memeganginya, namun pastikan pelatih selalu siap meraihnya bila terjadi apa-apa. b.. Bersabarlah, jangan paksa anak pada satu aktivitas bila ia belum siap. c.. Jangan mengharapkan orang akan mengawasi anak, meski lifeguard. d.. Tidak semua anak mau membiarkan wajahnya terkena air, latihlah dengan membiasakan di bawah shower ketika mandi. 6 tahun ke atas Pelajaran: a.. Pada usia ini anak sudah mampu menahan nafas lebih lama di dalam air, berenang, serta meraih benda di bawah kolam. b.. Anak telah mampu untuk melompat dari daratan ke dalam air. c.. Anda sudah dapat mengajarkan berbagai gaya renang, seperti gaya dada dan gaya punggung. d.. Latihlah untuk memperjauh jarak renangnya sedikit demi sedikit.
Tips aman: a.. Tetaplah mengawasi anak meski Anda tidak harus berenang bersamanya. Meski anak telah menguasai gerakan ia tetap bisa kelelahan. b.. Tekankan bahwa anak diizinkan berenang hanya jika ada orang dewasa yang mengawasi. c.. Waspadai perbedaan berenang di kolam renang dan di pantai. Pengawasan Anda sangat dibutuhkan bila anak berenang di alam. d.. Pastikan anak menggunakan jaket pelampung ketika naik kapal atau waterskiing, meski Ia telah mahir berenang. sumber : sahabat nestle Anak-anak korban perceraian, pelecehan seksual, anak yang mengalami kekerasan fisik atau emosi, akan mengalami kerusakan bagian otak.
Studi terbaru yang dirilis jurnal Pediatric menunjukkan adanya kerusakan fisik berupa parut pada hippocampus, bagian otak yang berfungsi untuk mengingat, navigasi dan emosi, pada anak-anak yang stres akibat peristiwa traumatik (post traumatic stress disorder atau PTSD).
Akibatnya, anak akan kesulitan menghadapi stres, mudah gelisah, bahkan mengalami gangguan mengingat. Selain itu, anak-anak yang mengalami stres memiliki kadar kortisol atau hormon stres yang tinggi. Pada hewan, kadar kortisol yang tinggi bisa membunuh sel hippocampal.
Tim peneliti yang berasal dari Universitas Stanford Medical Center, melakukan studi terhadap 15 anak yang mengalami PTSD karena kekerasan fisik, kekerasan emosi, pelecehan seksual, melihat aksi kekerasan atau mengalami kehilangan dan perceraian orangtuanya.
Menurut kepala peneliti, Dr Victor Carrion, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dampak dari stres yang ekstrem pada anak-anak serta untuk mengetahui mengapa ada anak yang kuat menghadapi stres dan ada yang tidak.
Dalam beberapa riset, para ahli telah menemukan kaitan antara gen, lingkungan dan adanya PSTD yang dialami di masa kecil akan membuat seseorang sering depresi dan mudah gelisah saat dewasa. Diperkirakan 1 dari 10 orang pernah mengalami PSTD dalam hidupnya.
"Perawatan yang tepat untuk anak yang mengalami peristiwa traumatik atau PSTD adalah membantunya menghilangkan ingatan tersebut. Namun jika stres akibat kejadian itu mempengaruhi area otak yang berfungsi untuk memproses informasi, maka terapi semacam itu kurang efektif," kata Carrion.
Jadi, sayangilah anak-anak, karena apa yang mereka alami saat ini, berpengaruh nanti.
sumber : kompas Memahami Sudut Pandang Anak
Semakin bertambah besar, anak akan lebih pintar dalam memperhatikan dan membedakan orang yang dijumpainya sehari-hari. Bagaimana seorang anak memandang orang lain?
Usia 2 - 3 Tahun
- Memperhatikan dan menanyakan tentang karakter fisik dari orang yang dijumpainya walaupun dia tetap lebih tertarik dengan fisik dirinya sendiri.
- Memperhatikan kebiasaan yang berbeda yang dilakukan oleh anak-anak lain. Misalnya, "Kok, Nayla bicaranya berbeda dari saya?" atau "Kok, Natasha makan mi pakai sumpit."
- Memperlihatkan rasa takut terhadap warna kulit yang berbeda dan ketidakmampuan/cacat fisik.
Usia 4 Tahun
- Memperlihatkan minat yang lebih terhadap persamaan dan perbedaan dirinya dari anak-anak yang lain, menciptakan "teori" tentang apa yang menyebabkan perbedaan fisik dan budaya.
- Mulai mengelompokkan orang berdasarkan karakter fisiknya (berdasarkan gender, warna kulit, mata yang sama).
- Mulai bingung dengan pengkategorian yang disebutkan oleh orang dewasa, misalnya bagaimana seorang anak yang kulitnya putih memiliki orangtua yang kulitnya hitam.
- Memperlihatkan perkembangan norma sosial di dalam interaksinya dengan orang lain (anak perempuan tidak dapat melakukan ini tetapi anak laki-laki dapat).
Usia 5 Tahun
- Memperlihatkan kesadaran akan karakteristik ekstra seperti status sosial ekonomi dan usia.
- Memperlihatkan kesadaran yang tinggi terhadap dirinya dan orang lain sebagai anggota di dalam suatu keluarga. Demikian juga keingintahuan tentang bagaimana keadaan keluarga dari anak-anak yang lain, misalnya bagaimana Kenny dapat memiliki dua ibu?
- Meneruskan konsep pengelompokkan atau menjelaskan perbedaan di antara teman-teman sekelas.
Usia 6 Tahun
- Lebih banyak menyerap sistem pengelompokkan orang yang ditentukan oleh keluarganya, tetapi masih bingung mengapa orang-orang tertentu ditempatkan di satu kelompok atau kategori yang berbeda.
- Menggunakan prasangka yang kuat berdasarkan aspek identitas terhadap anak-anak lain.
- Mulai mengerti bahwa orang lain juga memiliki identitas etnik dan bahwa terdapat keanekaragaman gaya hidup karena mereka mulai mengerti identitas kelompok mereka.
sumber : kompas Hati yang sehat bisa menyaring racun dan melakukan proses detoksifikasi secara optimal. Bila hati sakit, otomatis racun bakal tertumpuk dan tubuh rentan terkena penyakit serius, salah satunya sirosis. Apa yang harus dilakukan agar kita tak sakit hati?
Hati atau lever merupakan organ paling besar dan paling berat yang ada di dalam tubuh. Beratnya sekitar 3 pound atau 1,3 kg. Letaknya berada di bagian atas sebelah kanan abdomen dan di bawah tulang rusuk.
Organ hati yang cukup besar ini setara dengan fungsinya yang cukup berat. Setidaknya lebih dari 500 pekerjaan dilakukan oleh lever. Hati menjadi tempat menyaring segala sesuatu yang dikonsumsi maupun dihirup manusia, termasuk yang diserap dari permukaan kulit.
Dalam situs Hepatitis Foundation International disebutkan, lever bertindak sebagai mesin tubuh, dapur, penyaring, pengolah makanan, pembuangan sampah, dan malaikat pelindung. Masalahnya, hati merupakan teman yang pendiam. Manakala ada sesuatu yang salah, ia tidak mengeluh hingga terjadi kerusakan lebih jauh.
Perlu kepedulian kita supaya hati terjaga, tetap sehat dan bebas dari penyakit. Untuk memperoleh kondisi itu, kita harus menganut diet sehat, olahraga teratur, mendapat udara bersih, dan menghindari hal-hal yang dapat merusak hati.
Kerja Berat
Yang menyedihkan, umumnya kita hanya memiliki sedikit pemahaman tentang fungsi hati yang sedemikian rumit, vital, dan bekerja tiada henti. Sebelum bayi lahir, hatinya berperan sebagai organ utama dalam pembentukan darah. Saat tumbuh menjadi seorang manusia, fungsi pokok hati adalah menyaring dan mendetoksifikasi segala sesuatu yang dimakan, dihirup, dan diserap melalui kulit. Ia menjadi pembangkit tenaga kimia internal, mengubah zat gizi makanan menjadi otot, energi, hormon, faktor pembekuan darah, dan kekebalan tubuh.
Hati juga menyimpan beberapa vitamin, mineral (termasuk zat besi), dan gula, mengatur penyimpanan lemak dan mengontrol produksi serta ekskresi kolesterol. Empedu yang dihasilkan oleh sel hati membantu mencerna makanan dan menyerap zat gizi penting. Juga menetralkan dan menghancurkan substansi beracun serta memetabolisme alkohol, membantu menghambat infeksi, dan mengeluarkan bakteri dari aliran darah. Tampak jelas, hati bukan hanya teman yang pendiam, tetapi juga sahabat baik.
Tugas hati memang sangat berat dan luas. Dikatakan oleh Dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, fungsi hati meliputi enzimatik, hormonal, dan darah. "Hati menyediakan enzim yang diperlukan untuk metabolisme, melakukan detoksifikasi, membentuk faktor pembekuan darah, dan beberapa hormon," tuturnya.
Hati juga mendetoksifikasi dengan menetralkan racun dari obat-obatan, meski tidak semua obat berhasil didetoksifikasi hati. Bila tidak berhasil, bisa menimbulkan gangguan fungsi hati. Di satu sisi, bila terjadi gangguan dan membuat sebagian organ hati mesti dibuang, organ sisanya masih dapat berfungsi.
Untuk itulah, kesehatan organ hati mesti dijaga. Dijelaskan oleh konsultan gastro-enterolog hepatologi dari FKUI/RSCM itu, tindakan menjaga kesehatan hati dilihat dari dua hal, yaitu mencegah terjadinya hepatitis dan perlemakan hati (fatty liver).
Awas Gorengan
Upaya pencegahan hepatitis yang disebabkan oleh virus, seperti pada hepatitis B, dilakukan dengan vaksinasi. Hepatitis A tidak perlu divaksinasi karena biasanya hanya bersifat akut dan tidak kronis. Kecuali bila ada wabah hepatitis A, vaksinasi bisa dilakukan.
Lain halnya dengan hepatitis B. Tindakan perlindungan perlu dilakukan. Contohnya, jika pasangan menderita hepatitis B, harus ada perlindungan supaya tidak tertular. Pemeriksaan status hepatitis juga perlu dilakukan pada anggota keluarga. Jika belum terinfeksi, vaksinasi hepatitis B bisa diberikan. Selain itu, tindakan pencegahan lain yang bisa dilakukan adalah tidak menggunakan alat yang berpotensi menularkan virus tersebut secara bersama-sama, misalnya sikat gigi dan pisau cukur.
Untuk masalah perlemakan hati, pola hiduplah yang mesti diubah. Fatty liver atau perlemakan hati, menurut dokter lulusan FKUI ini, terjadi akibat gaya hidup. "Sering mengonsumsi makanan berlemak atau gorengan dapat menimbulkan fatty liver," ujarnya. Akibatnya sel-sel di dalam hati akan tertimbun lemak dan dapat menambah komplikasi pada hati.
Konsumsi alkohol secara berlebihan pun dapat menimbulkan perlemakan hati. Begitu juga dengan kondisi obesitas atau kelebihan berat badan. Dr. Ari menyarankan agar segera mengubah gaya hidup yang lebih menyehatkan. Dengan menghindari makanan penuh lemak dan kolesterol, menurunkan berat badan, berolahraga secara teratur, dan istirahat cukup, hati kita akan tetap sehat.
sumber : kompas Bukan cuma orang yang sedang menghadapi beban masalah rumit saja yang bisa mengalami depresi, calon ibu yang sedang mengandung pun kerap dihantui gejala ini. Para ahli belum bisa memastikan mengapa depresi terjadi pada wanita hamil, namun diduga perubahan tingkat hormon yang drastis selama kehamilan dan setelah melahirkan menjadi biang keladinya.
Selain peningkatan kadar hormon dalam tubuh, perubahan fisik dan emosi yang dialami menjelang peristiwa monumental menjadi seorang ibu turut andil terhadap munculnya perasaan murung, sedih dan tertekan pada wanita selama kehamilan.
Faktor lain yang menyumbang peran dalam terjadinya depresi pada ibu hamil antara lain:
- Riwayat keluarga yang memiliki penyakit kejiwaan
- Kurangnya dukungan dari suami dan keluarga
- Perasaan khawatir yang berlebihan pada kesehatan janin
- Ada masalah pada kehamilan atau kelahiran anak sebelumnya
- Sedang menghadapi masalah keuangan
- Usia ibu hamil yang terlalu muda
Setelah melahirkan
Sementara itu, perubahan psikologis yang terjadi ketika seseorang mulai menjadi ibu diperkirakan menjadi penyebab munculnya gejala depresi pasca melahirkan yang disebut dengan postpartum depression. Selain itu, perubahan kadar hormon yang terjadi dengan cepat juga mendorong munculnya depresi.
Selama kehamilan, kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh wanita meningkat drastis. Tetapi dalam waktu 24 jam setelah melahirkan kadar hormon ini menurun tajam ke kadar normal seperti sebelum masa kehamilan. Nah, perubahan level hormon yang cepat ini diduga menyebabkan terjadinya depresi, seperti halnya perubahan hormon yang terjadi sebelum masa menstruasi yang sering menyebabkan mood seorang wanita tidak stabil.
Gejala depresi yang sering diderita wanita pasca melahirkan di antaranya:
- Mudah marah dan tersinggung
- Gembira berlebihan dan sedih berlebihan
- Sering menangis tanpa sebab
- Tidak bersemangat
- Terlalu banyak makan atau sebaliknya tak ada napsu makan
- Susah konsentrasi, sulit mengingat, tidak bisa membuat keputusan
- Menjauhkan diri dari teman-teman dan keluarga
- Paranoid atau takut berlebihan bayinya akan celaka
Apa yang harus dilakukan jika seseorang mengalami perasaan negatif dan kacau setelah melahirkan?
Pertama, perlu diketahui depresi setelah melahirkan (baby blues) banyak dialami oleh wanita pasca melahirkan dan ini adalah reaksi yang khas. Kegembiraan yang disusul dengan kelelahan pada minggu pertama setelah persalinan dan kekhawatiran yang muncul, semuanya merupakan bagian dari proses adaptasi dari perubahan peran yang terbesar yang dialami seorang wanita dalam hidupnya. Tanamkan dalam pikiran sesuatu yang positif dari gejala-gejala tersebut.
Kedua, carilah waktu istirahat sebanyak mungkin. Mintalah bantuan orang ketiga, pengasuh atau orangtua untuk menjaga bayi selama Anda beristirahat. Berhentilah memaksa diri sendiri melakukan segala sesuatu. Agar dapat tidur dengan nyenyak, perhatikan asupan makanan Anda.
Ketiga, jangan menghabiskan waktu sendirian. Sesekali luangkan waktu untuk berduaan saja dengan pasangan. Mencurahkan perasaan pada sahabat, suami atau ibu akan membantu seseorang yang depresi mengeluarkan perasaan tertekan yang dialaminya.
Kalau Anda sering menangis tanpa sebab, jangan memaksa untuk mencari jawabannya. Manfaatkan saja air mata yang keluar sebagai cara untuk mengikis perasaan khawatir yang mengendap di dalam hati. Selain itu, setelah menangis biasanya rasa kantuk akan datang, pergunakan waktu untuk menambah jam tidur Anda.
Bila gejala-gejala depresi tersebut tidak hilang dalam waktu dua minggu, sebaiknya carilah bantuan tenaga profesional. Terapi individual dan terapi grup biasanya juga digunakan untuk membantu penderita. Ada kalanya dokter akan memberikan obat antidepresan untuk meredakan gejala depresi dengan mempertimbangkan apakah si ibu sedang menyusui atau tidak.
Sumber: HealthFinder.gov
Penulis: An Bayi berusia 0-3 bulan sudah bisa mengenali ekspresi sedih atau sedih. Ia bahkan juga bisa merespon perasaan ters |
|