' /' /' /' /' /' /
Create your own at MyNiceSpace.com

ReviewReviewReviewMENGATASI ANAK SULIT MAKANNov 14, '07 9:42 PM
for everyone
Category:Other
MENGATASI ANAK SULIT MAKAN

Persoalan sulit makan sering dialami anak-anak, dari bayi sampai usia
sekolah. Begitu beragam masalah yang muncul. Lalu, bagaimana solusinya?

Barangkali Anda merupakan salah satu orang tua yang mengeluh anaknya sulit
makan. Anda sudah mencoba berbagai cara agar masalah yang dihadapi bisa
teratasi. Ada yang berhasil, tapi ada juga yang tidak. Memang, mengubah
perilaku sulit makan tidaklah mudah. Perlu solusi tepat sesuai dengan akar
masalah dan penyebab sulit makan yang dialami sang buah hati.

RAGAM MASALAH

Bayi mulai usia 6 bulan dianjurkan untuk mendapatkan makanan tambahan,
misalnya biskuit, bubur susu, ataupun jus buah. Masalahnya, si kecil mungkin
menyemburkan atau melepeh makanannya. Di usia batita, kendala yang terjadi
di antaranya mengemut atau tak mau menelan makanan. Sementara anak
prasekolah yang sudah lebih besar mulai pilih-pilih makanan (picky eater),
punya kebiasaan makan sambil jalan-jalan, main games, atau sambil nonton
teve. Sedangkan anak usia 6-9 tahun cenderung memilih jajanan berkalori
tinggi tetapi kurang atau tidak bergizi sama sekali. Di tahapan selanjutnya,
sekitar 9-12 tahun, perilaku sulit makan kian kompleks. Di satu sisi nafsu
makannya mulai meningkat, tapi di sisi lain mereka takut makan akan membuat
tubuh jadi bulat, jerawatan dan sebagainya.

Penyebab perilaku sulit makan pada anak sebetulnya bisa ditelusuri.
Misalnya, bayi yang sering menolak makan barangkali disebabkan pemberian
makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang terlalu cepat atau malah terlambat.
Faktor penyebab lainnya adalah perilaku makan orang tua ternyata salah.
Makan sambil nonton teve atau membaca koran adalah beberapa di antaranya
yang kemudian ditiru anak. Selain itu, orang tua juga mungkin kurang
terampil menyajikan menu makanan yang variatif. Demi kepraktisan, makanan
yang tersaji di meja makan cenderung itu-itu saja.

Jika Anda tak mau problem sulit makan ini berlarut-larut dan berdampak
buruk, maka carikan solusinya. Kekurangan gizi merupakan risiko yang paling
jelas. Indikator mengenai status gizinya bisa terbaca dari berat badan dan
tinggi badan yang berada di bawah standar. Oleh karena itu, cari tahu
penyebab anak sulit makan dan lakukan upaya mengatasinya yang tepat.

Hilman Hilmansyah. Foto: Iman/nakita

6-12 BULAN

"DUH...BAYIKU KOK ENGGAK MAU MAKAN?"

Masalah muncul ketika bayi memasuki masa transisi dari makanan cair ke
makanan semipadat.

Di usia 6 bulan, kebutuhan asupan makan si kecil mengalami perubahan. ASI
saja tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Itulah
mengapa di usia ini si kecil membutuhkan makanan pendamping ASI (MP-ASI).

Namun tak selamanya pemberian MP-ASI berjalan mulus. Ada begitu banyak
bentuk penolakan makan yang dilakukan bayi. Di antaranya melepehkan atau
menyembur-nyemburkan makanan yang sudah disuapkan ke mulutnya. Bahkan, tidak
sedikit yang terang-terangan menolak dengan memalingkan mukanya atau menutup
mulutnya rapat-rapat. Jangan terburu-buru menyalahkan anak, apalagi
mencapnya dengan sebutan "bayi rewel", "susah diurus", "bikin repot" dan
sebagainya. Siapa tahu penolakan-penolakan tersebut justru muncul karena
organ-organ pencernaan di mulutnya belum siap menerima makanan yang
diberikan. Entah karena tekstur makanannya terlalu kasar, terlalu kental,
atau porsinya tidak sesuai dengan kemampuan menelan bayi.

Ada juga bayi yang awalnya tak pernah menolak makan, tapi saat berusia 8
bulan atau lebih baru rewel soal makan. Kemungkinan, bentuk penolakan
tersebut merupakan "aksi protes" terhadap citarasa makanan yang diberikan.
Ingat, anak usia ini sudah mengenal rasa apa yang disukainya, apakah manis
atau asin/gurih.

Bisa juga, penolakan tersebut merupakan wujud dari ketidaksukaannya terhadap
sosok si pemberi makan. Meski masih bayi, anak sudah bisa mengenali mana
sosok yang bersahabat dan mana pula yang tak sabaran hingga cenderung main
paksa. Perlakuan yang buruk tentu akan terekam dalam benak anak yang
kemudian mendorongnya memasang "benteng pertahanan" lewat bentuk penolakan.

KIAT MEMBERI MAKAN

Untuk mencegah dan menangani masalah sulit makan pada bayi, setidaknya orang
tua harus mengupayakan hal-hal berikut:

- Mengakrabkan diri agar disukai di kecil.

- Membangun suasana makan yang menyenangkan, tidak dengan diam membisu atau
bersikap formal. Selingi dengan canda ria sambil sesekali mengajaknya
ngobrol dan bermain.

- Sajikan semenarik mungkin, baik makanan itu sendiri maupun perangkat
sajinya.

- Menguasai ilmu mengenai teknik maupun tahapan pemberian makan pada bayi.

* USIA 6-7 BULAN

MP-ASI dikenalkan secara bertahap sebab mekanisme menelan dan kemampuan
mencerna si kecil masih lemah. Jadi, mulailah dengan makanan yang lunak dan
bersifat cair lebih dulu, berupa bubur susu yang encer, kemudian semakin
kental.

Selain itu, selalu berikan lebih dulu dalam jumlah sedikit. Seiring dengan
berjalannya waktu, konsentrasi buburnya bisa dipadatkan dan porsinya dapat
ditingkatkan. Mengapa komposisi kekentalan harus sesuai? Karena kalau
terlalu encer tentu kandungan gizinya tidak maksimal. Sebaliknya, jika
kelewat kental bukan tidak mungkin malah mendatangkan masalah baru, yakni
susah buang air besar.

Yang harus dijadikan patokan, tetap berikan ASI kapan pun si kecil mau.
Namun usahakan jangan sampai membuatnya terlalu kenyang karena dia toh harus
mengonsumsi MP-ASI-nya. Jangan lupa, biasakan pula ia mengonsumsi
buah-buahan yang manis rasanya seperti pepaya, pisang, atau jeruk.
Buah-buahan ini bisa disajikan dalam bentuk jus atau dicampur dengan makanan
lainnya. Ada baiknya pula jika diberikan biskuit khusus bayi. Biskuit
semacam ini, selain melatih kemampuannya mengunyah, juga amat disarankan
untuk merangsang pertumbuhan giginya.

* USIA 8-9 BULAN

Di usia ini, ASI tetap diberikan kapan pun bayi mau. Akan tetapi, mulailah
perkenalkan makanan dengan tekstur yang lebih padat, seperti bubur susu
(berbahan buah atau tepung). Mengenai porsinya, tambahkan sesuai kebutuhan
dan kondisi bayi. Contohnya, bayi dengan BB dan panjang tubuh lebih tentu
butuh asupan lebih banyak ketimbang bayi dengan panjang tubuh dan BB yang
lebih kecil. Bubur saring bisa juga dijadikan alternatif pilihan bila
kebetulan tidak tersedia buah yang segar. Bahan-bahannya bisa berupa beras,
makaroni, kentang, kacang hijau, atau roti. Namun perhatikan, sebelum
diberikan harus disaring lebih dulu.

* USIA 9-12 BULAN

Saat berusia 9 bulan dan seterusnya, bayi sudah mampu mencerna makanan
semipadat. Yang dimaksud adalah nasi tim beserta lauk pauknya. Jangan lupa,
biasanya bagian atas nasi tim lebih keras dibandingkan bagian bawahnya. Nah,
agar bayi tidak menolak makanan baru ini, aduklah dulu agar kepadatannya
merata.

Bubur saring, buah kerok atau jus, dan ASI atau penggantinya berupa susu
formula tetap diberikan. Sebagai selingan, bayi boleh diberi bubur susu
berbahan dasar jeruk atau pisang untuk memperkaya pengenalan rasanya. Tak
ada salahnya pula bila sesekali mengenalkan bumbu alami dan teknik
pengolahan makanan sederhan. Semisal tumis ikan dengan bawang putih dan
mentega atau sup dimasak dengan bawang merah, bawang putih, dan daun bawang.
Untuk anak usia ini, garam sudah boleh diberikan sedikit.

Di usia setahun, diharapkan si kecil sudah bisa makan sesuai menu keluarga.
Namun jangan lupa memperhatikan kemampuan mengunyah dan menelannya. Potong
kecil-kecil lauk pauknya agar mudah masuk ke mulut mungilnya, mudah pula
untuk dikunyah, dan ditelan serta dicerna organ tubuhnya.

Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/nakita

Konsultan Ahli:

Alzena Masykuori, M.Psi
psikolog dari Cikal Sehat-Sehat, Jakarta Selatan

TRIK MENGHADAPI PENOLAKAN

Walaupun hal-hal yang dianjurkan tadi sudah dicoba, mungkin sekali si kecil
tetap melancarkan penolakan. Kalau ini yang terjadi, berarti eksplorasi yang
dilakukan orang tua belum maksimal. Lebih baik, terus lakukan pencarian
untuk mengetahui seperti apa makanan yang disukainya, bagaimana cara memberi
makan yang disukai dan tidak disukai dan sebagainya. Sukses tidaknya
penelusuran ini tidak terlepas dari kesabaran, ketenangan, dan keterampilan
orang tua menghadapi ulah si kecil saat melakukan penolakan.

* Tolak MP-ASI, tapi mau ASI

Jika menghadapi kondisi seperti ini, pemberian makanan secara bertahap harus
dirancang. Memang sih waktu makannya jadi jauh lebih lama. Contohnya,
berikan 1 sendok MP-ASI setiap jadwal makan tiba dengan konsentrasi
makanannya lebih cair dibanding ukuran standar yang dianjurkan di kemasan.
Setiap hari porsi ini harus ditingkatkan, dari 1 sendok menjadi 2 sendok
hingga akhirnya mencapai 1 mangkuk. Perlu diingat, jadwal makannya pun harus
diberikan secara konstan dan berkesinambungan. Mengapa ini penting? Karena
si kecil mau tidak mau harus diajarkan keteraturan untuk membentuk
kedisiplinan.

* Dilepeh

Jika ini terjadi pada bayi di bawah usia 8 bulan, kemungkinan besar hanya
karena refleks anak. Ingat, MP-ASI yang diberikan merupakan sesuatu yang
"asing" baginya, lo. Tapi kalau si kecil sudah berusia 8 bulan atau lebih,
maka orang tua harus cermat. Apakah karena memang makanannya itu yang tidak
enak karena terlalu asin, terlalu manis, kelewat kasar atau malah kelewat
lembut? Atau apakah orang tua memberikannya dalam porsi terlalu banyak,
terlalu panas/dingin dan sebagainya. Nah, agar si kecil tidak melakukan
penolakan, pandai-pandailah mengatur strategi dengan cara menggonta-ganti
menu, rasa maupun tekstur makanannya. Jangan lupa pula untuk senantiasa
mengomunikasikannya pada si kecil. Contohnya, "Kenapa, Sayang, kok dilepeh?
Terlalu asin, ya? Nah, sekarang sudah enggak asin lagi."

* Diemut

Ini juga salah satu bentuk penolakan yang kerap dilakukan bayi. Anak yang
makannya ngemut umumnya karena alat-alat pencernaan di rongga mulutnya belum
siap menerima MP-ASI. Jika memang kebiasaan ngemut-nya karena gangguan
fisik, si kecil besar kemungkinan juga akan mengalami gangguan bicara. Untuk
memastikannya, kasus seperti ini lebih baik segera diperiksakan ke dokter.

* Disembur

Sesekali si kecil mungkin saja menyemburkan makanannya. Itu hal yang wajar
terjadi sebagai salah satu bentuk eksplorasinya. Namun orang tua harus
menjelaskan pada anak, semisal dengan mengatakan, "Lucu, ya, Dek, bunyinya.
Tapi makanan itu nanti harus ditelan ya." Kalau penjelasan seperti itu
terus-menerus diutarakan, anak tentu akan tahu mana perilaku yang tak baik
alias tak boleh diulanginya lagi. Akan tetapi, jika setiap kali makan si
kecil selalu menyemburkan santapannya, boleh jadi ia memang tidak berselera
pada makanan tersebut. Kemungkinan lain cara makan ataupun suasana makan
yang dirasa tak nyaman baginya. Lagi-lagi orang tualah yang harus kembali
mengeksplorasi cara lain agar si kecil mau makan.

* Dimuntahkan

Perilaku memuntahkan makanan bisa akibat penolakan ataupun bukan. Kalau
ternyata disebabkan masalah fisik atau ada yang harus dibereskan pada sistem
pencernaannya, maka muntahnya bukan merupakan penolakan. Akan tetapi kalau
muntah disebabkan si kecil mencari perhatian dalam mengeskpresikan
ketidaksukaannya pada makanan itu, baru bisa dikategorikan sebagai
penolakan. Untuk memastikan penyebabnya, orang tua dapat memperhatikan
kondisi anak. Misalnya apakah rewel atau tidak selagi muntah maupun sesudah
muntah, demam atau tidak, dan apakah disertai gangguan lain semisal diare
atau tidak. Jika jawabannya memang ya, kemungkinan si kecil mengalami
masalah fisik dan ini sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter ahlinya.

* Menolak sama sekali

Wujud penolakannya bisa berupa memalingkan kepala, menutup rapat-rapat
mulutnya, sampai menangis keras setiap kali disuapi. Penyebabnya lebih
banyak karena faktor fisik, seperti gara-gara sariawan, atau terkena radang
tenggorokan. Jadi, kalau si kecil menunjukkan tanda-tanda tadi, cermati dulu
kondisi kesehatannya secara umum. Pastikan apakah ia sariawan atau tidak,
gunakan termometer untuk memastikan suhu tubuhnya, apakah kondisi lidahnya
bermasalah atau tidak, bibirnya pecah-pecah, dan buang airnya lancar atau
tidak. Kalau benar karena kendala fisik, lekas konsultasikan ke dokter.

Akan tetapi jika tak ada gangguan fisik kemungkinan besar si kecil melakukan
gerak tutup mulut gara-gara faktor psikis. Tidak tertutup kemungkinan ia
memang tengah mencari perhatian orang tuanya yang sudah sepanjang hari tidak
dijumpainya, tak menyukai menunya, dan penampilan makanannya membuat bayi
kehilangan selera makan.

1-3 TAHUN

SUKA MENGEMUT MAKANAN

Makan diemut menunjukkan si batita belum berhasil melewati masa transisi
dari makanan cair ke padat.

"Ayo dong, Nak, makanannya dikunyah! Jangan diemut gitu ah!" ujar seorang
ibu dengan nada kesal pada putrinya. Maklum si ibu sudah harus berangkat
bekerja, sementara buah hatinya tak kunjung menelan makanan dalam mulutnya.

Ilustrasi tersebut memberi gambaran betapa susahnya mengatur perilaku makan
anak batita. Ia seringkali menunjukkan sikap tidak kooperatif. Sebetulnya,
sikap ini bisa dibenahi dengan mengajari anak biasa "makan sendiri" sejak
bayi. Pada saat makan ia sudah dibiasakan memegang sendok sendiri, menyendok
makanan, dan duduk di kursi khususnya (setiap kali hendak disuapi). Jadi,
bukan dengan menggendongnya sambil berjalan-jalan. Pengenalan-pengenalan
semacam itu pasti akan membuat anak di usia batita jadi lebih cepat
menyesuaikan diri.

Kendati awalnya mungkin merepotkan, seiring dengan berjalannya waktu, "kerja
keras" dan segala kerepotan orang tua mengajari anak makan sendiri akan
membuahkan hasil. Ini berarti anak tak perlu bergantung pada orang lain saat
memenuhi kebutuhan makannya. Selain itu orang tua pun diuntungkan dengan tak
perlu terus-menerus "bertengkar" hanya gara-gara persoalan sulit makan ini.
Sementara anak pun jadi lebih disiplin. Saat jam makan tiba, anak akan duduk
manis siap menyantap makanan yang tersaji di hadapannya.

Saat mulai mengajak anak untuk makan sendiri, ciptakan suasana yang
menyenangkan. Usahakan pula supaya tak terkesan memaksa dalam bentuk apa
pun. Untuk tahap awal, orang tua bisa memberikan contoh bagaimana cara makan
yang baik: dari duduk manis, bagaimana cara memegang sendok kemudian
mengangkatnya, menyuapkannya ke mulut, kemudian mengunyahnya dengan benar.
Dengan melihat contoh konkret tersebut anak jadi punya gambaran mengenai apa
yang harus dilakukannya dengan makanan tersebut.

Mengenalkan menu makanan pun harus dilakukan secara bertahap. Mulailah dari
makanan yang bertekstur paling halus sampai yang kasar, dari lauk yang
sederhana hingga yang komplet. Dengan kata lain, makan pun merupakan proses
pembelajaran. Kemudian di saat anak sudah mau melakukannya sendiri, orang
tua perlu memotivasi. Misalnya dengan memberi semangat atau pujian lewat
ucapan, "Anak Mama pintar ya, sudah bisa makan sendiri." Dengan demikian
anak akan merasa nyaman dan jadi bersemangat untuk berusaha makan sendiri.

Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/nakita

Konsultan Ahli:

Ade Irma Salihah, Psi.,
dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah, Jakarta

PERILAKU MAKAN NEGATIF

Berikut beberapa hal negatif yang sering muncul saat proses pembelajaran
makan berlangsung.

- Lama dan berantakan

Orang tua harus paham benar bahwa anak tidak langsung bisa makan dengan
benar seperti yang dilakukan orang dewasa. Seringkali anak hanya
mengaduk-ngaduk makanan dalam piringnya hingga meja jadi berantakan.
Aktivitas makannya pun jadi sangat lama.

Yang patut diketahui, kendala seperti ini mungkin saja terjadi karena proses
menyuapkan makanan ke mulut memang bukan hal gampang bagi anak usia ini
karena kemampuan motoriknya masih belum optimal. Maka alangkah bijaksananya
memberi keleluasaan pada anak untuk berusaha makan sendiri meskipun
berantakan dan merepotkan. Toh lambat-laun anak pun belajar dari apa yang
dilakukannya.

Orang tua sebaiknya juga menghindari kata maupun tindakan yang sekiranya
dapat mematahkan semangat dan akhirnya membuat anak malas belajar makan
sendiri. Misalnya menghardik/memarahi anak ketika dia menghambur-hamburkan
nasi dan lauk-pauknya. Lain hal bila anak memang memain-mainkan makanannya
dan sama sekali tidak berniat untuk menyantapnya. Kalau ini yang terjadi,
segera arahkan ke "jalur" semestinya. Yang pasti bukan dengan memojokkan,
apalagi memarahinya habis-habisan.

- Mogok makan

Adakalanya tiba-tiba anak emoh makan sama sekali. Semakin dipaksa, semakin
dia tak mau makan. Bahkan tak jarang disertai dengan gejala tantrum alias
mengamuk. Bila ini yang terjadi, orang tua harus bersedia introspeksi diri.
Boleh jadi ini muncul karena sikap ibu/ayah yang kasar dan memaksa yang
akhirnya membuat mogok makan. Bila ya, orang tua hendaknya mau mengubah
sikap sekaligus mengupayakan agar aktivitas makan menjadi sesuatu yang
menyenangkan.

- Tak mau duduk

Anak juga seringkali tak mau duduk atau diam di suatu tempat ketika makan.
Dia selalu bergerak ke sana kemari sehingga orang tua terpaksa harus
mengejar-ngejarnya supaya tetap makan dan akhirnya membuat orang tua
kewalahan. Bukan cuma itu. Perilaku tak bisa diam seperti ini sebetulnya
juga dapat memicu ketidakseimbangan pada organ pencernaan. Konkretnya,
proses mencerna jadi tidak bisa berjalan dengan baik akibat pergerakan tubuh
si kecil yang tiada henti.

Bila ini yang muncul sebagai bentuk kebiasaan anak, coba ingat-ingat lagi
apakah itu bisa bersumber dari orang tua sendiri atau tidak. Bukan tidak
mungkin lo ketika makan, secara tidak sadar orang tua menunjukkan perilaku
negatif, semisal makan sambil jalan, ngobrol, baca koran, nonton teve dan
sebagainya. Kalau ini yang terjadi, jangan salahkan anak bila ia mengikuti
perilaku makan orang tuanya karena dia menganggap memang seperti itulah
aktivitas makan yang benar.

Nah, agar hal yang satu ini tidak terjadi, mau tidak mau orang tua harus
memberikan contoh baik kepada anak. Caranya, duduk santun di kursi makan,
menyendok makanan secara perlahan dan tertib, mengunyahnya tanpa
tergesa-gesa ataupun mengeluarkan bunyi dan sebagainya. Kalau orang tua
memberi contoh baik, tentu akan terpatri dalam diri anak bahwa proses makan
yang benar ya memang seperti itu. Kelak anak pun akan menerapkan cara-cara
yang baik dan benar dalam keluarganya.

- Mengemut makanan

Kebiasaan mengemut umumnya dimulai saat anak mengenal makanan padat, yaitu
sekitar usia 8 bulan hingga usia 2-3 tahun. Penyebabnya, anak belum berhasil
menjalani proses pembelajaran mengenai bagaimana caranya mengunyah. Padahal
berbeda dari makanan cair yang bisa langsung dimakan, makanan padat perlu
dikunyah dulu sebelum ditelan. Di sini dituntut koordinasi gerakan lidah dan
rahang agar bisa masuk ke kerongkongan.

Tentu saja kebiasaan mengemut ini harus diatasi segera karena bisa
berpengaruh buruk pada perkembangan fisik dan psikologis anak. Dari segi
fisik, anak akan mengalami kekurangan gizi karena porsi makanan yang
dikonsumsi pasti jauh berkurang. Kalau seharusnya ia bisa menghabiskan satu
piring nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur mayur dalam waktu tertentu,
maka dengan mengemut anak hanya mampu menghabiskan sebagian kecil makanan
dalam waktu sama. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi gizi anak akan
memburuk dan giginya mengalami kerusakan.

Berikut beberapa kemungkinan penyebab anak ngemut:

* Tidak diajarkan bagaimana cara mengunyah yang benar. Untuk mengatasinya,
mau tidak mau orang tua harus menyontohkan bagaimana cara mengunyah yang
benar secara bertahap, termasuk bagaimana membuka mulut, menggerakkan rahang
dan sebagainya.

* Di masa bayi, pemberian makanan termasuk mengisap dot dapat memberikan
kepuasan tersendiri karena saat itu anak masih berada dalam fase oral. Bila
sampai usia batita anak masih sangat menikmati fase oral yang seharusnya
sudah beralih pada kepuasan menggigit dan mengunyah, maka dia akan terus
melanjutkan kebiasaan mengemutnya. Untuk mengatasinya, mintalah anak
meninggalkan kebiasaan tersebut. Sampaikan pula dampak negatif dari mengemut
ini, tentu saja dengan bahasa sederhana agar bisa dipahaminya.

* Tak jarang anak asyik bermain hingga lupa masih ada makanan dalam
mulutnya. Bila kebiasaan kurang baik ini tidak mendapat perhatian dari orang
tua, anak akan merasa dibenarkan hingga akhirnya kebiasaan tersebut terus
berlanjut. Untuk mengatasinya, mintalah anak mengunyah makanannya lebih
dulu. Dengan kata lain berhenti bermain sampai aktivitas makannya selesai.

* Ketakutan dimarahi akan membuat anak terbiasa mengemut makanannya.
Terlebih bila orang tua memaksa sementara anak sebetulnya tidak suka makanan
yang diberikan. Mengemut makanan dijadikannya sebagai bentuk protes.
Mengatasinya, tentu saja dengan menjadikan acara makan sebagai sesuatu yang
menyenangkan. Kesampingkan pemaksaan dalam bentuk apa pun dan beralihlah
menggunakan pendekatan yang lebih efektif, semisal membujuk atau merayu
dengan berbagai pujian.

* Gigi-geligi anak bermasalah. Mungkin saja giginya sedang tumbuh sehingga
anak merasa tidak nyaman dengan gusinya yang terasa "gatal". Rasa tak nyaman
mendorongnya untuk mengemut makanan. Untuk mengatasinya ada baiknya orang
tua secara berkala cermat mengikuti pertumbuhan gigi anaknya, apakah ada
gangguan atau tidak.

- Tak mau buka mulut

Aksi tutup mulut juga merupakan perilaku sulit makan yang besar kemungkinan
dipicu hal-hal berikut:

* Mungkin ada sariawan atau infeksi pada gigi-geliginya. Kalau ini yang
terjadi, jangankan mengunyah, membuka mulut pun merupakan siksaan
tersendiri. Untuk mengatasinya, bawalah ke dokter gigi anak guna memastikan
apakah gigi-geliginya ada yang mengalami gangguan atau tidak. Ada baiknya
periksakan mulut dan gigi anak secara berkala tiap 3 bulan sekali.

* Boleh jadi anak merasa masih kenyang atau sebaliknya sudah kenyang duluan.
Entah karena porsi makanan yang diberikan sudah melampaui batas kemampuannya
atau karena ia sudah makan banyak camilan sebelum jam makannya tiba. Untuk
mengatasinya, tetapkan pola makan anak dan berusahalah untuk mematuhi jadwal
tersebut.

* Suasana yang serba terburu-buru juga sering membuat anak emoh buka mulut.
Umpamanya, karena orang tua harus segera berangkat kerja, maka anak diminta
untuk cepat-cepat menghabiskan makanannya. Jangankan anak-anak, orang dewasa
pun kalau diburu-buru seperti itu biasanya malah kehilangan nafsu makan.
Untuk mengatasinya ya ciptakan suasana santai dan menyenangkan tanpa
keterburu-buruan seperti itu.

* Kemungkinan lain, anak tidak menyukai makanan yang disodorkan padanya
meskipun makanan tersebut sangat bergizi. Untuk mengatasinya,
pandai-pandailah mengatur menu makan anak agar senantiasa bervariasi. Ingat,
anak relatif cepat bosan dan mudah berubah keinginannya. Contohnya, hari ini
ia suka sekali tempe bacem, tapi besok ia hanya mau makan dengan telur
dadar, dan lusa mau makan ayam goreng tepung dan seterusnya. Selain itu,
cara pengolahan dan penyajiannya pun harus mampu memikat hati anak. Misalnya
tak harus selalu dibuat sup, tapi bisa juga ditumis, atau dipanggang. Bahkan
orang tua sebaiknya menanyakan lebih dulu pada anak apa menu yang
diinginkannya hari ini. Ini akan membuat anak merasa dilibatkan yang pada
gilirannya akan membuatnya bersemangat menyantap makanan tersebut.

3-6 TAHUN

MAKAN PILIH-PILIH SAMBIL NONTON TEVE

Perilaku makan yang salah pada si prasekolah ternyata bisa berasal dari
kebiasaan orang tua atau pengasuhnya.

Perilaku makan yang tidak baik, seperti pilih-pilih makanan, makan sambil
nonton atau main, dan baru mau makan kalau diajak jalan-jalan, tentu dapat
terbawa hingga dewasa. Bahkan, sebuah penelitian yang pernah dilakukan di
Amerika menunjukkan, anak yang pilih-pilih makanan bakal menemui kesulitan
dalam bersosialisasi. Kenapa begitu? Sebab umumnya ia pun akan berperilaku
pilih-pilih teman dan cenderung susah menyesuaikan diri. Repot, kan?

Nah, agar tak muncul hal-hal yang tak diharapkan, perilaku makan yang buruk
tersebut memang harus diubah. Mengubahnya susah-susah gampang karena
terlebih dulu perilaku makan orang tua atau pengasuhlah yang harus diubah.
Jangan lupa, anak-anak usia ini masih merupakan sosok peniru ulung
orang-orang terdekatnya.

Utami Sri Rahayu. Foto: Ferdi/nakita

Konsultan Ahli:

Rosdiana S. Tarigan, M.Psi, MHPEd
dari Klinik Mutiara Gading, Jakarta

PILIH-PILIH MAKANAN

Kebiasaan pilih-pilih makanan (picky eater) yang muncul di usia prasekolah
rata-
rata merupakan tiruan dari perilaku orang tuanya. Coba perhatikan, biasanya
orang tua atau orang-orang dewasa terdekatnya tergolong individu yang juga
cenderung pilih-pilih makanan. Penyebab lainnya, besar kemungkinan si
prasekolah punya keengganan mencoba hal-hal baru, termasuk makanan. Berikut
beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:

* Mau tidak mau orang tua harus bersedia mengubah kebiasaan makannya
terlebih dulu. Cobalah berusaha keras untuk tidak pilih-pilih makanan kalau
tak ingin anak meniru hal yang sama.

* Berikan contoh yang baik saat makan bersama. Sejak usia 3 tahunan,
biasakan mengajak anak makan bersama keluarga di meja makan. Manfaat
lainnya, anak dapat mengetahui sekaligus belajar mengenai tata tertib di
meja makan.

* Dampingi anak saat makan dan ikutlah mengonsumsi makanan yang sama.

* Mintalah ia mencoba makanan keluarga yang tersaji di meja. Katakan bahwa
ia boleh mencoba dalam jumlah sedikit terlebih dulu. Yakinkan dirinya bahwa
bila tidak suka, Anda tak akan pernah memaksanya untuk menyukai makanan
tersebut.

* Hindari melimpahi piring anak dengan sekian banyak ragam makanan dalam
jumlah banyak sekaligus. Bisa-bisa anak malah jadi takut dan sama sekali
tidak bisa menikmatinya.

* Jelaskan bahwa semua makanan yang Anda tawarkan memberi manfaat bagi
kesehatan dan pertumbuhannya.

* Jangan pernah memaksa si prasekolah untuk mencoba makanan yang sama sekali
belum dikenalnya. Pemaksaan hanya akan membuatnya jera dan takut untuk
mencobanya. Jangan salahkan bila ia malah memuntahkan makanan tersebut.
Dampak yang lebih buruk, anak akan mengalami trauma dan kelak akan selalu
menghindari makanan tersebut.

* Beri kesempatan pada si prasekolah untuk menentukan atau memilih sendiri
makanan yang diinginkan. Bila ingin mengenalkan jenis makanan yang baru, ada
baiknya barengi dengan makanan yang sudah dikenalnya. Contohnya bila ingin
mengenalkan udang, jangan tiba-tiba menyajikannya dalam jumlah besar. Kalau
sebelumnya si prasekolah sudah akrab dengan brokoli, siasati dengan mengolah
udang plus brokoli. Dengan demikian, anak tetap merasa aman saat mengonsumsi
makanan yang baru tersebut.

MASIH DISUAPI

Jika anak usia prasekolah masih makan disuapi, besar kemungkinan selama ini
orang tua dan pengasuhnya tak cukup sabar mendampinginya belajar makan
sendiri. Padahal maklumi bila anak yang mulai belajar makan sendiri
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghabiskan makanan tersebut.
Maklumi pula bila acara makan sendiri menambah kerepotan bagi orang tua
karena harus membersihkan sisa makanan yang berserakan di mana-mana.

Nah, gara-gara tak mau repot seperti itulah banyak orang tua dan pengasuh
akhirnya memilih menyuapi terus anaknya. Sama sekali tak disadari bahwa
kebiasaan ini bisa menghambat perkembangan anak. Ia jadi malas makan sendiri
dan lebih suka disuapi. Dengan kata lain, ia jadi tak mandiri dalam urusan
makan.

Untuk mengatasinya, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh, yakni:

* Lagi-lagi orang tua harus bersedia mengubah kebiasaan buruknya.

* Belajarlah bersabar dan mintalah anak untuk makan sendiri.

* Dampingi anak sambil makan bersama. Hindari menyuruh-nyuruh anak untuk
cepat-cepat menghabiskan makannya. Keterburu-buruan bisa membuat anak muntah
sementara suasana makan pasti jadi tidak menyenangkan.

* Jangan menyamaratakan porsi anak dengan porsi orang dewasa. Sebaiknya
sediakan makanan dalam porsi kecil lebih dulu. Bukan tidak mungkin lo, anak
sudah frustrasi duluan begitu melihat porsi yang "mengerikan". Apalagi jika
ia dipaksa menghabiskan semuanya dalam waktu relatif singkat.

* Bila si prasekolah berhasil menghabiskan porsi makanannya, lontarkan
pujian. Ini akan memotivasi si prasekolah untuk menunjukkan pada dunia bahwa
ia bisa makan sendiri.

* Buatlah agar tampilan makanannya menggugah selera, bisa dari resepnya
ataupun cara penyajiannya.

* Jangan alpa untuk mulai mengajari anak makan sendiri.

SAMBIL JALAN-JALAN ATAU NONTON

Perilaku sulit makan si prasekolah, oleh sebagian orang tua diakali dengan
mengajaknya makan sambil jalan-jalan atau nonton acara televisi kesukaan
anak. Diharapkan perhatian si prasekolah bisa teralihkan sehingga masalah
sulit makannya dapat teratasi.

Padahal makan sambil jalan-jalan sebaiknya dihindari karena anak usia
prasekolah justru sedang senang-senangnya beraktivitas, seperti berlari ke
sana kemari, melompat dan meloncat, serta aktivitas "berat" lainnya. Bila si
prasekolah dibiasakan makan sambil melakukan berbagai aktivitas tadi,
mungkin saja apa yang sudah ditelannya keluar lagi. Hal ini tentu menambah
pengalaman tidak enak mengenai makan. Selain itu, makanan yang dibawa
berjalan-jalan berisiko tercemari debu sehingga amat berpotensi menularkan
penyakit.

Sama halnya dengan makan sambil nonton teve. Wajar memang bila orang tua
berharap perhatian si prasekolah dapat teralihkan dari makanan ke tayangan
televisi, sehingga anak mau duduk diam dan tidak bosan menjalani kewajiban
makannya. Padahal bukan mustahil saking asyiknya ia menikmati tayangan teve,
makanan yang sudah ada di mulutnya malah diemut terus. Akibatnya, waktu
makan berlangsung lebih lama, sehingga makanan yang ada di piringnya
mengembang dan rasanya berubah jadi hambar.

Untuk mengatasi hal ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua, di
antaranya:

* Ingat, makan adalah proses pembelajaran. Untuk itu, biasakan anak untuk
duduk tertib di kursi makan mengelilingi meja makan. Dengan membiasakannya
demikian sejak kecil, dalam diri anak akan terbentuk pola bahwa makan dan
minum itu haruslah dilakukan sambil duduk di kursi makan.

* Ajaklah anak untuk makan bersama keluarga di meja makan. Kalaupun ayah dan
ibu sama-sama sibuk, tetap agendakan 1 di antara 3 kali waktu makan agar
bisa makan bersama. Manfaatnya anak dapat sekaligus belajar tata tertib di
meja makan. Kalaupun jam makannya tidak cocok, tetaplah jadwalkan waktu
tersebut untuk makan kue atau makanan ringan lainnya. Yang penting, tetap
dapat makan bersama.

* Jika anak sudah telanjur terbiasa makan sambil jalan-jalan atau nonton
teve, tugas orang tua tentu semakin berat untuk mengubah kebiasaan tersebut.
Tanamkan kebiasaan makan yang baik secara perlahan dan bertahap.

* Untuk mereka yang terbiasa makan sambil jalan, alihkan perhatian anak
dengan mengajaknya makan di kursi makan khusus. Usahakan bentuk atau warna
kursi itu menarik minat anak untuk duduk di atasnya. Kemudian secara
berangsur-angsur dekatkan kursinya ke meja makan agar anak terkondisi makan
di situ.

6-12 TAHUN

LO, MAKANANNYA, KOK, TAK BERGIZI?

Adanya pergeseran lingkungan kehidupan, dari lingkungan rumah ke lingkungan
sekolah atau luar rumah, memunculkan problema tersendiri dalam pola makan
anak usia 6-12 tahun. Apa saja masalahnya dan bagaimana mengatasinya? Yuk,
kita simak penjelasan dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GM., dari Klinik Bina
Sehat, Jakarta.

USIA 6-8 TAHUN

* Jajan makanan tak bergizi

Saat berada di sekolah, teman dapat membawa pengaruh yang sangat penting.
Contohnya soal jajan. Meskipun di rumah sudah tersedia makanan yang enak dan
bersih, bukan tidak mungkin anak tetap ngotot ingin jajan. Kenapa? Tak lain
karena semua temannya juga jajan. Bisa dipastikan anak akan lebih suka jajan
karena rasa makanan yang dijual tadi umumnya lebih enak dan gurih dibanding
yang tersaji di rumah. Mereka sama sekali tidak peduli kalau rasa yang enak
dan gurih tersebut berasal dari bumbu penyedap maupun kandungan garam dan
lemak yang tinggi. Selain itu, bagi anak-anak, jajan bersama teman
memberikan suasana yang berbeda dibandingkan rumah sehingga terasa lebih
mengasyikkan.

Sebenarnya, boleh saja anak sesekali jajan. Namun ajarkan untuk memilih
jajanan yang bersih dan menyehatkan, semisal hamburger yang dilengkapi
dengan sayuran. Pasalnya, meski sejak usia 6 tahun anak mengalami
pertumbuhan dengan laju pertumbuhan yang tidak terlalu cepat, namun
kebutuhan gizinya tetap harus terpenuhi. Bila kebutuhan gizinya tidak
terpenuhi, maka dampak kurang gizi ini dalam jangka panjang dapat
menimbulkan gangguan kognitif dan kemampuan akademiknya. Sayang kan? Selain
bisa menyebabkan penurunan aktivitas fisik serta membuatnya berisiko
mengalami penyakit infeksi. Perlu diketahui, kecukupan gizi pada usia ini
selain diperlukan untuk pertumbuhan juga dibutuhkan untuk metabolisme basal
dan aktivitas fisik.

* Masih disuapi

Hal ini terjadi karena di TK anak masih dibolehkan makan sambil disuapi.
Padahal jika tidak pernah dimulai untuk membiasakannya makan sendiri,
bisa-bisa sampai akhir usia sekolah pun dia belum terampil makan sendiri.
Ingat, orang tua yang terbiasa menyuapi makan sebetulnya tengah "membonsai"
kemandirian anaknya. Akibatnya, si anak hanya mau makan bila disuapi oleh
orang tua atau pengasuhnya. Lalu bagaimana bila kebetulan orang tua pergi
atau pengasuhnya sedang repot? Besar kemungkinan jam makannya terlewati.

Sebagai solusinya, jika anak tak mau makan hanya gara-gara ingin terus
disuapi, tegaskan padanya bahwa anak seusianya sudah seharusnya bisa makan
sendiri. Jika anak tetap tak beranjak untuk mengambil piring dan mengisinya
dengan nasi dan lauk-pauk, tak usah memaksa. Sediakan saja makanan di tempat
yang terjangkau dan mintalah ia makan dengan mengambilnya sendiri bila
lapar.

Di sisi lain, orang tua jangan terlalu khawatir anaknya bakal kelaparan
akibat aktivitas fisiknya yang begitu tinggi. Anak usia ini umumnya akan
mudah merasa lapar dan pasti ingin makan. Yang mereka inginkan sebetulnya
adalah ditunggui atau disuapi saat makan. Bila ini yang terjadi, berilah
pengertian dengan bahasa yang mudah dicerna anak.

* Tak suka sayur

Penyebabnya karena orang tua relatif jarang menghidangkan sayuran dalam menu
makanan sehari-hari di rumah. Solusinya, berikan pengertian dalam bahasa
sederhana mengenai pentingnya mengonsumsi sayur bagi kesehatan dan
kecerdasan. Orang tua juga harus pintar-pintar menyiasatinya dengan
menyajikan sayur bersama makanan lain yang disukainya, berpenampilan
menarik, mudah dinikmati, tidak keras dan liat, tidak pedas, dan memiliki
citarasa yang sesuai selera anak. Bila anak tetap menolak sayuran, pilihkan
bahan makanan yang banyak mengandung serat yang bisa diperoleh dari
buah-buahan dan agar-agar.

USIA 9-12 TAHUN

* Ingin langsing seperti bintang film

Beberapa anak usia 9-12 tahun, terutama praremaja putri, menyadari kegemukan
merupakan momok. Agar tak jadi sasaran empuk untuk diolok-olok, mereka
berusaha keras menjaga kelangsingan tubuhnya. Tak bisa disangkal bila
fenomena di atas muncul akibat kuatnya pengaruh layar kaca yang
mempertontonkan tokoh-tokoh cilik yang menjadi "hero", semisal bidadari nan
cantik dan bertubuh langsing. Nah, itu semua terekam dalam benak anak hingga
mereka terobsebsi ingin langsing seperti tokoh idolanya tadi.

Akibatnya, tak sedikit yang menjalani diet ketat bahkan menolak makan hanya
supaya langsing! Celakanya, anak seusia ini umumnya belum mengerti
sepenuhnya dampak buruk dari program diet berlebihan, apalagi tanpa
pengawasan dokter. Padahal arti diet sesungguhnya adalah mengombinasikan
makanan dan minuman dalam hidangan yang dikonsumsi sehari-hari.

Ada berbagai jenis diet. Contohnya, diet seimbang yakni karbohidrat,
protein, dan lemak terkandung di dalamnya dengan komposisi seimbang. Diet
rendah lemak, mengandung lemak dalam jumlah lebih rendah dari kebutuhan
ideal. Diet rendah kalori (biasanya diberikan untuk mereka yang sedang
menurunkan berat badan) yaitu mengandung jumlah kalori yang lebih rendah
dari kebutuhan tubuh sehari-hari.

Pada dasarnya, setiap orang di segala umur harus melakukan pengaturan makan
sesuai dengan kebutuhan tubuhnya, termasuk pada usia SD. Karena itu
penanganan sikap enggan makan akan lebih efektif jika dilakukan dengan cara
memberi pengertian kepada si anak. Tekankah bahwa mereka sedang dalam masa
pertumbuhan. Kalau memaksa diri tidak mau makan hanya karena ingin langsing,
mereka sendiri yang akan rugi. Tubuhnya akan lemas dan cepat lelah yang
bukan tidak mungkin akan berakhir di rumah sakit. Ia juga jadi malas
beraktivitas, bahkan kemampuan berkonsentrasinya terganggu. Di sekolah,
akhirnya ia tidak dapat menangkap pelajaran dengan baik dan prestasinya
menurun. Jadi, tetap lakukan pengawasan terhadap perkembangan anak dan
susunlah menu bergizi seimbang.

Santi Hartono. Foto: Iman/nakita

ADA JUGA YANG JADI DOYAN MAKAN

Di usia praremaja, aktivitas fisik anak semakin meningkat. Disamping urusan
sekolah, mereka juga disibukkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan
mulai sering ngegang dengan teman-temannya. Semua kegiatan tadi yang
melibatkan aktivitas fisik sebetulnya justru membuat anak jadi doyan makan.

Pada rentang usia ini, pertumbuhan yang dialami anak berlangsung mantap
meski tidak sepesat masa bayi atau masa pubertas. Dengan demikian konsumsi
makan yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya kegemukan. Padahal
kegemukan yang tejadi di usia anak bakal sulit dikoreksi setelah yang
bersangkutan dewasa. Lantaran itu, pengaturan pola makan yang baik sudah
harus diterapkan sejak dini. Sementara kegemukan yang tak tertangani dan
dibiarkan berlanjut kelak dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti
diabetes dan jantung. Selain itu, obesitas juga dapat mengganggu citra diri.

CARA MAKAN JUGA MERUPAKAN KEUNIKAN

Tak ada gunanya memaksa anak makan dengan sempurna, karena yang ia butuhkan
adalah bimbingan dari orang tua.

Selain mengupayakan berbagai cara yang sudah disebutkan di depan, orang tua
pun harus bersedia bereksplorasi menemukan makanan yang paling cocok untuk
anak. Selain itu, pada bayi, bukan tidak mungkin apa yang kita anggap
sebagai bentuk penolakan makan sebenarnya adalah eksplorasi anak. Dengan
menyembur-nyemburkan makanannya, boleh jadi ia merasakan sensasi tersendiri
kemudian menjadikannya sebagai permainan yang menyenangkan.

Orang tua pun wajib memahami berbagai tipe makan anak yang berbeda-beda. Ada
yang lebih suka makan dalam porsi sedikit-sedikit, ada juga yang amat
berselera melihat porsi besar. Sebagian anak makan dalam tempo yang amat
lambat, sedangkan sebagian lagi cepat. Dengan kata lain, tidak tertutup
kemungkinan penolakan si kecil semata-mata karena orang tua atau pengasuh
tidak tahu tipe makan si anak. Inilah salah satu bentuk keunikan anak.

Selanjutnya, harus dipahami bahwa belajar makan sendiri harus dilatih
terus-menerus. Anda bisa mulai melatih anak saat berusia 1,5 tahun.
Kemampuan duduknya yang sudah lebih baik, ditunjang kemampuan motorik yang
lebih optimal, memungkinkan anak bisa memegang sendoknya sendiri, bahkan
menyuapkan sendok berisi makanan ke mulutnya. Pastinya, makanan masih
berceceran di mana-mana. Oleh karena itu, anak usia batita perlu bimbingan
terus-menerus. Bagaimana memegang sendok, mengambil makanan, mengunyah, dan
kemudian menelannya. Jika orang tua sabar untuk terus melatih si kecil, maka
ia akan terbiasa makan sendiri.

Namun, biasanya ada kekhawatiran yang menyertai setiap kali anak berlatih
makan sendiri, takut asupan gizinya kurang karena lazimnya makanan jadi
terbuang-buang. Nah, berdasarkan penelitian yang dikutip Papalia (1994),
seharusnya kekhawatiran ini tak perlu ada lagi. Ia mengacu pada hasil
penelitian yang telah dilakukan di Amerika Serikat tahun 1991 yang
mengatakan, tubuh anak memiliki "rambu-rambu" tersendiri untuk memenuhi
kebutuhan makannya. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 15 anak usia 2­5
tahun dengan berat badan rata-rata dan memiliki perilaku makan yang beragam.
Ada yang sulit, mudah, dan biasa-biasa saja. Penelitian tersebut dilakukan
selama 6 hari. Hasilnya? Ternyata jumlah kalori pada ke-15 anak itu sama.
Sekali lagi, tubuh anak sebenarnya telah memiliki rambu-rambu sehingga mampu
mengimbangi kebutuhan gizi. Uniknya, kemampuan seperti ini tidak dimiliki
orang dewasa.

Jadi, tak perlu khawatir berlebihan kalau si kecil sulit makan, apalagi
sampai memaksanya makan. Percayalah, anak yang normal akan makan sesuai
kebutuhan tubuhnya. Bila kondisinya tetap sehat, kulitnya tidak kusam,
matanya tetap bercahaya dan masih aktif bergerak, itu pertanda kebutuhan zat
gizinya masih tercukupi.

Zali, Irfan, Uut. Foto: Dok. nakita

6 HAL YANG PATUT DIPERHATIKAN

1. Kurus belum berarti kurang gizi, gemuk belum tentu sehat.

2. Jangan memaksa si prasekolah makan berlebih hanya karena terlihat kurus
dan Anda takut ia kekurangan gizi.

3. Sesekali ajak anak menyiapkan makanannya. Ketertarikan pada proses ini
mampu membangkitkan selera makannya.

5. Jangan ragu untuk mengenalkan aneka rasa sebagai variasi. Namun hindari
penggunaan penyedap dan bumbu-bumbu yang kelewat merangsang atau pedas.

6. Sesekali biarkan anak makan bersama teman-temannya. Suasana kebersamaan
seperti ini mampu menggugah selera makannya.

TAHAP PERKAMBANGAN PERILAKU MAKAN

* Usia 1,5 tahun

Umumnya anak mulai memiliki keinginan untuk makan sendiri menggunakan
tangannya. Untuk mengoptimalkannya, berikan makanan yang dapat digenggam
sendiri (finger food) dan biarkan ia makan sendiri.

* Usia 3 tahun

Anak sudah bisa memegang sendok dan garpu sendiri. Biasanya diikuti
keinginan untuk mencoba makan dengan peralatan tersebut.

* Usia 4 tahun

Anak sudah bisa makan sendiri. Untuk melatih kemampuannya, upayakan agar
dalam 1 di antara 3 waktu makan, ia makan sendiri tanpa bantuan orang lain.

* Usia 5 tahun

Anak sudah terampil makan sendiri dalam 3 kali waktu makan.

sumber: Nakita

Category:Other
Dear All,

Berikut ada kuisioner dari milis sehatku tercinta...tolong diisi yah...pleasee
Untuk mendukung kesuksesan pemberian ASI pada buah hati dan anak2 diseluruh negri ini... kalau bukan daru kita yg memulai ...siapa lagi...
ayoo..ayo...sukseskan pemberian ASI ekslusif dan menyusui...terimakasih tak terhingga sebelumnya...




Dear Smart Parents,

Dalam rangka turut menyukseskan ASI eksklusif, Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) yang menaungi Milis Sehat, kembali mengadakan kuisioner utk bahan riset kami. Kami mohon partisipasi dari seluruh member untuk dapat mengisi kuisioner tsb.
Kuisioner tidak terbatas untuk para ibu menyusui saja, tetapi juga utk para ayah, calon, calon ayah, bahkan para eyang ataupun mereka yg sedang merencanakan pernikahannya.

Silahkan mengisi kuisioner dan mengirimkannya kembali melalui japri di email : anovita@cbn.net.id . Harap menuliskan judul di subject : Kuisioner ASI.
Kami harapkan juga untuk tidak mengirimkan jawaban kuisioner ke milis.

Terima kasih atas kerjasamanya.
Dengan mengisi kuisioner ini, berarti anda telah aktif membantu menyukseskan ASI eksklusif di masyarakat kita.

Salam sehat
Moderator Milis Sehat

======================================================

KUESIONER ASI

Data Pribadi

Nama : ________________

Usia : ________________

Jenis Kelamin : ________________

PENGETAHUAN

1.. Apakah Anda pernah memperoleh pendidikan/pengajaran mengenai ASI & menyusui?

1.. Ya (sebutkan dari mana) _______________________________________

2.. Tidak

2.. Tahukah Anda bahwa pada usia 0-6 bulan sebaiknya bayi hanya mengkonsumsi ASI?

a. Ya b. Tidak

3.. Menurut anda, apakah Susu Formula masa kini dapat menyamai komposisi dan keunggulan ASI?

a. Ya b. Tidak

4.. Apakah Rumah Sakit / Bersalin yang Anda kunjungi untuk memeriksakan kehamilan memiliki klinik laktasi?

a. Ya b. Tidak

5.. Apakah DSOG/Bidan Anda memberi penjelasan mengenai ASI pada saat pemeriksaan kehamilan dan menyarankan Anda untuk memberikan ASI Eksklusif?

a. Ya b. Tidak

SAAT KELAHIRAN

6.. Apa yang dilakukan DSOG / bidan / perawat anda setelah bayi Anda lahir?

1.. Memperlihatkan bayi pada Anda untuk dilihat saja (tanpa Anda pegang)

2.. Memberikan bayi pada Anda untuk dipeluk dan disusui

3.. Memandikan bayi

4.. Bukan salah satu di atas, sebutkan apa tindakannya

_____________________

7.. Kapan Anda pertama kali menyusui bayi Anda yang baru lahir?

1.. 0-30 menit setelah lahir sebelum bayi dibersihkan

2.. 30 menit - 1 jam setelah kelahiran

3.. 6 jam setelah kelahiran

4.. 6 - 24 jam setelah kelahiran

5.. Lebih dari 24 jam

8.. Apakah papan nama di box bayi Anda atau jam dinding atau kalender di Rumah Sakit / bersalin ada merek Susu Formula?

1.. Ya (sebutkan merek Susu Formulanya dan nama Rumah Sakit/Bersalinnya) ____________________________________________________

2.. Tidak

9.. Apakah bayi Anda tidur bersama dalam satu kamar dengan Anda di Rumah Sakit/ Bersalin (rooming in atau rawat gabung), termasuk di malam hari?

a. Ya b. Tidak

10.. Bila bayi Anda tidak tidur di satu kamar dengan Anda atau tidur di kamar bayi, apakah bayi Anda diberikan kepada Anda setiap kali bayi ingin menyusu, termasuk di malam hari?

a. Ya b. Tidak

11.. Apakah selama di Rumah Sakit / bersalin bayi baru lahir Anda diberikan Susu Formula atau cairan lain selain ASI?

1.. Ya (sebutkan apa yang diberikan)

____________________________________

2.. Tidak

12.. Apakah pada saat bayi pulang ke rumah, Anda dan bayi Anda dibekali contoh / sampel / hadiah dan brosur Susu Formula?

a. Ya b. Tidak

SUSU FORMULA

13.. Apakah anda pernah dihubungi oleh bagian pemasaran / produsen Susu Formula?

a. Ya b. Tidak

14.. Apa yang Anda lakukan ketika Anda dihubungi oleh produsen Susu Formula?

a. Langsung menolak

b. Mendengarkan aau menerima saja semua penjelasannya

c. Berargumentasi

d. Lainnya, sebutkan

_____________________________________________________

15.. (Bagi yang mengkonsumsi Susu Formula) Apakah Anda mengkonsumsi Susu Formula dari produsen tersebut?

a. Ya b. Tidak

16.. Pendapat Anda mengenai promosi Susu Formula saat ini:

a. Baik

b. Sedikit meresahkan namun tidak mengganggu

c. Sangat meresahkan dan menganggu

d. Lainnya, sebutkan

_____________________________________________________

17.. Pendapat Anda mengenai pelayanan kesehatan Ibu dan Anak terutama tentang Laktasi yang Anda peroleh:

a. Kurang sekali

b. Cukup memadai

c. Sangat memuaskan

IBU BEKERJA

18.. Selama Anda bekerja, apakah Anda memeras/memompa ASI dan kemudian disimpan untuk diberikan ke bayi Anda?

a. Ya b. Tidak

19.. Tahukah Anda bahwa Undang-undang Tenaga Kerja mengatur bahwa pekerja wanita patut diberi kesempatan untuk menyusui bayinya?

a. Ya b. Tidak

20.. Apakah tempat Anda bekerja memberikan waktu dan/atau kesempatan bagi Anda untuk memerah atau memompa ASI di tempat kerja?

1.. Ya, sebutkan dimana Anda memompa ASI?

____________________________

2.. Tidak

21.. Apakah di tempat Anda bekerja tersedia ruang khusus untuk memerah/memompa ASI?

1.. Ya

2.. Tidak, sebutkan tempat Anda memerah/memompa ASI selama di tempat bekerja ____________________________

a.. Terima kasih atas waktu dan kesediaan Anda mengisi kuesioner ini -

b.. Mohon kirimkan kuesioner ini hanya ke alamat email anovita@cbn.net.id dengan subject kuisioner asi.

ReviewReviewReviewReviewSelama Ini Kita Menzalimi BayiMay 16, '07 3:21 AM
for everyone
Category:Other
Koran Tempo, Minggu 8 Mei 2007
TAMU

Dr. Utami Roesli, SpA, MBA, CIMI, IBLCC, Dokter Anak Aktivis ASI :
Selama Ini Kita Menzalimi Bayi

Perempuan berkemeja merah menyala itu berjalan tergesa. Jas dokternya melambai mengimbangi langkahnya menuju ruang praktek di kamar nomor 25. Rabu pagi pekan silam itu, ruang tunggu Ruang Rawat Jalan Rumah Sakit Sint Carolus sudah dipenuhi pasien. Sesekali terdengar celoteh dan tangis para bocah yang pagi itu hendak berobat kepada sang dokter.
Pagi Utami Roesli, dokter spesialis anak yang sepuluh tahun belakangan giat mengkampanyekan pemberian air susu ibu eksklusif kepada bayi, dibuka dengan kesibukan luar biasa. Ia harus melayani pasien kecil dan orang tua mereka, menerima tamu¯untuk kepentingan medis atau wawancara¯dan tugas lain sebagai Ketua Sentra Laktasi Indonesia. Setelah itu, cucu sastrawan besar Marah Roesli ini bergerak layaknya putaran jarum jam.
Dalam sepekan, harinya dhabiskan di luar Jakarta. "Paling sering ke daerah untuk memberi penyuluhan tentang ASI." Ia juga acap terbang ke macanegara untuk bertemu dengan koleganya sesama penggerak ASI.
Setahun belakangan, kesibukannya kian bertambah dengan munculnya banyak temuan baru tentang pemberian ASI kepada bayi yang baru lahir. Dengan energi yang seolah tiada habis, ia terbang kian-kemari mengmpulkan bukti empiris, menghubungi para koleganya di berbagai negara, dan mengusung temuan-temuan itu kepada masyarakat. "Macam-macam sambutannya."
Salah satu temuan yang kini tengah giat dikampanyekan para dokter di Eropa dan Amerika adalah mengenalkan ASI kepada bayi di menit pertama kelahirannya. Inisiasi dini, begitu para ahli menyebutnya. Temuan ini mementahkan teori puluhan tahun bahwa bayi tidak mampu dan tidak butuh menyusu pada menit-menit awal kelahirannya. Utami yakin, jika inisiasi dini didukung oleh semua tenaga kesehatan, kematian 21 ribu bayi sebelum usia 28 hari di Indonesia tak akan terjadi.
Setelah menyapa para pasiennya, yang sudah menunggu, penulis buku laris tentang terapi pijat bayi ini menerima Budi Saiful Hadi, Nurdin Kalim, Angela Dewi, serta fotografer Yosep Arkian dari Tempo di ruang prakteknya yang dipenuhi poster tentang kampanye ASI. Diselingi dering telpon di mejanya dan dari dua telepon selulernya serta pertanyaan suster yang membantunya, kakak kandung musisi Harry Roesli ini berksah panjang tentang inisiasi dini dan perjuangannya "melawan" pemberian susu formula kepada bayi dibawah usia 6 bulan. Nada suaranya bersemangat. Dengan ramah dan acap diselingi tawa, ia menjawab setiap pertanyaan. Berikut ini petikannya.

Bagaimana ceritanya temuan inisiasi dini ini ?
Ceritanya, sekelompok scientist dari Inggris yang tergabung dalam Departement for International Development melakukan penelitian terhadap 10.946 bayi sejak 2004. Pada 30 Maret 2006, mereka menemukan bahwa bayi normal yang langsung diletakkan di dada ibunya minimal 30 menit, pada usia 20 menit dia akan merangkak sendiri ke payudara ibunya. Pada usia 50 menit, dengan susah payah merangkak, dia akan menemukan puting susu ibunya dan menyusu.

Refleks saja seperti mamalia?
Betul! Kenapa kalau kita melhat hewan mamalia langsung menyusu ke ibunya ketika lahir tidak aneh, tapi kalau terjadi pada manusia merasa aneh? Karena ketidaktahuan kita tentang ASI, itu mengganggu proses kehidupan. Sebab, begitu lahir, langsung dipisahkan dengan ibunya. Selama ini kita kan sudah menzalimi bayi. Kalau seekor anak macan, ketika lahir tidak mendapatkan sumber kehidupannya, dia akan mati.

Ini berlawanan dengan paradigma yang sudah kita kenal selama ini?
Ya. Biasanya, di keluarga kita, pada waktu lahir, tali pusar dipotong, kemudian dipisahkan dari ibunya untuk ditmbang, dicap, dibersihkan, baru kemudian dikembalikan lagi kepada ibunya.
Seharusnya, begitu bayi lahir, ketika sudah kering langsung diletakkan di perut ibunya. Pada usia 20 menit, tak mudah memang bagi dia untuk merangkak, tapi ternyata secara refleks itu bisa.
Biarkan di dada ibu menimal setengah jam. Sampai dia minum sendiri. Kalau belum juga minum, biarkan dia mencari sendiri sampai satu jam. Nggak gampang, tapi dia berhasil akhirnya. Insting dan dibimbing oleh smell.

Bukankah pada umumnya bayi yang baru lahir tidak butuh menyusu dan pada jam-jam awal ASI memang belum keluar?
Keluar atau tidaknya air susu ibunya pada waktu itu bukan masalah. Tapi berikan kesempatan bagi dia untuk mulai menyusu sendiri.

Ini temuan yang benar-benar baru?
Tidak juga. Sebenarnya pada tahun 1990 sudah ada penelitian tentang ini, tapi tidak terdengar gaungnya. Sampai ada ahli yang meneliti dan sudah dicba di negara-negara Skandinavia. Lalu saya diberi kesempatan membuat model dengan bayi Indonesia. Kami menggunakan bayi di Bantul, Yogyakarta, ang dibantu kelahirannya oleh bidan yang sederhana. Dan ternyata telah kami buktikan itu.

Bagaimana penerimaan bidan di Sint Carolus?
Pada awalnya tidak begitu mudah, tapi kebetulan kami diberi kepercayaan oleh UNICEF untuk melatih 600 kader. Saya bahkan sudah melakukan kepada cucu sayayang pertama. Pada saat itu pula saya menyaksikan seorang ayah yang mengumandangkan azan di dada ibunya. Aduh, rasanya takjub...
( Utami kemudian menunjukkan potongan gambar video di laptop ASUS-nya. Di video itu, Raffa sang cucu yang baru lahir, dalam keadaaan telanjang merangkak dengan susah payah hingga menemukan puting sang ibu dan mulai menyusui).

Bayinya tidak kedinginan, ya?
Dada ibu yang melahirkan 1 derajat lebih panas daripada dada ibu-ibu yang tidak melahirkan. Kalau bayi kedinginan, dia akan otomatis neik 2 derajat Celsius. Tapi kalau si bayi kepanasan, turun 1 derajat Celsius. Jadi, jauh lebih bagus daripada tabung yang biasa dipergunakan untuk meyimpan bayi pada saat lahir.

Anda juga akan menerapkan inisiasi dini pada bayi Tiara?
Jika Tiara tidak keberatan, saya juga ingin melakukan hal yang sama. Nanti rencananya video Tiara ini akan dibawa ke daerah. Supaya orang-orang desa bisa melihat, oh...orang kota juga menyusui bayinya.
(Tiara Lestari, yang berprofesi sebagai model, adalah menantu kedua Utami Roesli. Ia tengah menanti kelahiran bayi pertamanya).

Apa sih manfaat utamanya jika inisiasi ini diterapkan?
Begini, bayi yang diberi kesempatan menyusui dini, akan lebih besar kemungkinan berhasil menyusu eksklusif hingga usia 6 bulan. Jumlahnya bisa mencapai 59 persen. Tapi masih sedikit orang yang berbicara. Baru ada gongnya pada 2006 itu.

Sudah dipublikasikan disini?
Secara luas belum. Saya ini apalah, tidak mungkin menguasai seluruhnya. Tapi setidaknya di kalangan komunitas Sentra Laktasi Indonesia sudah dikenalkan soal itu sampai ke daerah tempat saya memberi pelatihan. Kami gencarkan pada pekan ASI Dunia, 1-7 Agustus nanti. Di Banda Aceh, saya sounding melalu agama, melalui Al-Qur'an. Sebab, lebih efektif, meski tetap saja kalah oleh promosi-promosi susu formula.

Sudah mengantisipasi penolakan dari kalangan medis dan orang tua mengingat ini merubah paradigma?
Terus terang saja, ini bukan ide saya. The world has been done this. Cuma, saya yang pertama menerima informasi ini. Sangat disayangkan jika orang tidak banyak tahu soal ini. Indonesia sebenarnya tidak sendiri. Dari 190 negara di dunia, hanya 33 negara yang tahu inisiasi menyusui dini yang benar. Di dunia, dalam setahun 4 juta (bayi) yang meninggal. Andaikata semua tenaga kesehatan atau penolong bayi memberi kesempatan menyusui dini, 1 juta bayi di dunia ini terselamatkan.

Apakah ini juga berlaku bagi bayi yang tidak normal?
Berapa persen sib bayi yang lahir dengan berat rendah? Itu presentasenya kecil. Kenapa kita tidak mengkonsentrasikan diri pada jumlah yang besar saja ? Pada bayi yang (lahir) caesar pun bisa dilakukan. Tapi memang teorinya 50 persen yang akan berhasil, hanya ibunya harus percaya diri. Dan sang ayah juga harus tahu.

Berarti harus ada posisi tawar yang kuat pada orang tua untuk meminta tenaga kesehatan melakukan inisiasi dini pada bayi?
Kalau s ibu sudah tersadarkan dan meminta itu, si bidan pasti akan mencari tahu bagaimana sih inisiasi menyusui dini yang benar? Di Indonesia, disangkanya inisiasi dini menyusui seperti ini : setelah dibersihkan dan dibedong lalu diberikan kepada ibunya. Saya pun masih melakukannya sebelum satu tahun lalu.

Obat bius tidak terpengaruh?
Kenapa bicara itu, prematur, kenapa tidak bicara yang lebih besar? Dan dengan ini pun kita meng-encorage- jangan ada obat-obatan.

Paradigma yang "biasa" itu kan sudah lama, berarti ada kesalahan dong selama ini?
Sebenarnya, masalahnya who owned sekarang, proses penyadaran para ahli kebidanan dan penolong kelahiran bayi, karena dokter anak pada saat kelahiran itu jarang dipanggil. Tapi kenapa nggak kita yang sadar duluan? Tapi alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya berbicara di Tangerang dengan para bidan. Mereka betul-betul terpukau karena ketidaktahuan, jadi tidak benar-benar karena kesengajaan kesalahan. Karena informasi yang belum sampai saja. Kita nggak pernah terpikir bahwa bayi berumur 20 menit bisa menyusu sendiri.

Ini perang terang-terangan terhadap susu formula? Kan sekarang masih terjadi rumah sakit memberi susu formula di hari-hari pertama kelahiran bayi karena ASI yang belum keluar dan bayi yang tidak bisa meyusui?
Tidak hanya di Indonesia, di Amerika saja kuat promosi susu formula. Karena mereka orang kaya, siapa tidak mau? Tapi itu karena mereka tidak tahu. Pernah seorang bidan sampai menangis mengetahui ini. Dia mengembailkan susu formula. Ini yang kita inginkan. Selain kesehatan, yang ingin kami kerjakan adalah knocking nurani.

Selama ini kesannya kan sudah memasyarakat, telanjur pakai susu formula?
Tidak ada telanjur, karena itu kita harus mencoba agar tidak telanjur. Di Skandinavia, Kanada, Finlandia, dan Swiss, tidak ada cuti ibu atau ayah melahirkan, tapi justru mereka cuti orang tua. Selama 12 bulan, 80 persen gajinya dipakai untuk itu. Syaratnya cuma dua, ibu harus empat bulan pertama, ayah dua bulannya, enam bulan emudian tergantung. Kalau gaji ibu lebih besar, ibu bekerja, dan ayahnya yang di rumah.

Di Indonesia susah mewujudkan hal seperti itu...
Saya tidak memikirkan itu, tapi kalau anak-anak kalian, cucu kalian tidak dilengkapi ASI, mau jadi apa ? Mereka jauh lebih kaya, dukungan terhadap ilmu begitu besar, sekarang anak-anak itu akan memiliki EQ yang lebih besar daripada anak-anak kita. Spiritualitas yang lebi tinggi. Lalu daya saing anak Indonesia apa kalau tidak dikasih ASI? Dua puluh lima tahun lagi, kita habis, sekarang saja sudah kalah oleh malaysia. Sebab, orang barat sekarang mulai menyusui. Dukungan ayah itu begitu besar, meski hal itu baru mereka sadari November 2003, dengan mendirikan Global Initiative Father Support : satu kelompok para ayah. Padahal di kita (umat Islam) ada Al-Qur'an yang sudah meyatakan pentingnya hal itu ( Al-Baqarah ayat 233). Ketika anak dilahirkan, harus ada musyawarah. Dengan demikian, kegagalan menyusui aalah kegagalan ayahnya. Begitu pula dengan kebrhasilannya.

Efek secara medis lainnya?
Anak-anak yang menyusu kepada ibu itu tidak hanya lebih sehat, lebih pandai, tapi lebih saleh dan salehah. Karena adanya RNA dan DNA (pembawa sifat) yang diberikan ibu. Maka sekarang ini, karena tahu urgensinya, orang yang mengadopsi anak mengejar supaya bisa menyusui juga.

Kembali ke susu formula, bagaimana dengan anak usia 1 tahun yang justru tidak mau dikasih susu formula?
Itu justru bukan masalah. Pernah melihat nggak anak macan yang sudah mencicipi segaa macam kembali menyusu? Tidak. Anak sapi saja kalau sudah besar tidak mau menyusu kepada induknya. Kok, malah (susunya) dipakai untuk anak manusia?

Bukankah minum susu seumur hidup selama ini digembar-gemborkan?
Manusia juga mempunyai taraf umur tertentu untuk mendapatkan susu. Masalahnya, kita terprogram dengan empat sehat lima sempurna. Susu sumber protein.Padahal, anak di atas 3 tahun tidak perlu minum susu. Bukan tidak boleh. Karena bisa dari tahu, tempe, ikan, telur, dan keju. Mendingan dikasih tahu, juga lebih murah. Nggak ada pengaruhnya sama sekali. Bahkan pada mamalia di atas 3 tahun, enzim untuk menyerap protein dari susu sedikit. Kita telah di brain-minded oleh pabrik susu, entah sejak kapan.

Selama ini sukarnya pemberian ASI kan karena ibu harus kembali bekerja?
Itu bukan masalah besar juga. Di Cina, seorang ibu insinyur begitu aktif sehingga harus sering ke luar kota. Tapi dia menyimpan di lemari es ASI perasannya. Sebab, ASI itu memenuhi keseimbangan supply and demmand. Dikeluarkan 1.000 mililiter, ya, berproduksi lagi 1.000 ml.

Lalu kalau ASI berhenti sama sekali kenapa ?
ASI sangat berpengaruh pada pikiran. Ketika si Ibu merasa ASI-nya sedikit, yang keluar sedikit. Ataupun pada saat berhenti. Disitu peran ayah. Di saat pikiran ibu terganggu, ayah berperan.

Tapi permasalahan fasilitas agar bisa menyusu ?
Itu sekarang yang jadi masalah, kantor-kantor harus menyiapkan. Harus didorong agar kantor-kantor mempunyai fasilitas itu.

Bagaimana dengan dukungan pemerintah ?
Pemerintah itu hanya banyak omong, bahkan katanya ada yang bilang akan dibuat undang-undang. Tapi kok sekarang diam lagi? Tapi sudahlah, biarkan mereka melakukan apa yang bisa dilakukan.

Bagaimana dengan upaya Ibu sendiri ?
Saya tahun ini alhamdulillah sudah diberi kesempatan luar biasa. Di UNICEF, Care. Bahkan bersyukur bisa mengajar kader-kader. Sampai begitu berkesan.

Capek nggak,Bu ?
Kalau lillahita'ala, tdak ada kata capek. Saya kadang ketika bangun pagi bingung, saya ada di mana, ya? Tapi itulah, saya ini di depan Tuhan mungkin ibarat ikut MLM (multilevel marketing). Kaki-kaki saya sudah banyak dan itu menambah poin buat saya.

Kalau dilihat-lihat, Anda ini seperti melawan arus ya? Sama seperti adik Anda...
(Utami tertawa berderai) ya, kita semua melawan arus. Tapi, dari semua saudara saya, cuma Harry itulah yang jadi seniman, sisanya dokter seperti saya. Jadi nyentrik-nya sudah disedot dia semua.

ReviewReviewReviewReviewSepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now May 3, '07 10:51 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Other
Author:Jennie S. Bev
Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now

Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya,
mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya
bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima
pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di
Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga
membeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri
setelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam.

Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah
sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about
being dan becoming.

Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan
bahkan jutaan manusia "sukses" di dunia alias manusia bermental
juara mempunyai mindset seperti ini.

Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juara
golf profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut "sukses"? Apakah
Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak.
Seorang bermental juara alias bermindset "orang sukses" bisa jadi
hanyalah seorang salesman saja.

Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-door dari
Portland, Oregon yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan
kaki setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih
setiap hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri
tidak bekerja sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit
untuk berjalan tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca
www.billporter.com, filem Door to Door dan buku berjudul Ten Things
I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan
pas-pasan dari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang
awam ia tidaklah termasuk kategori "sukses secara finansial."

Namun, bagi saya, Bill Porter adalah salah satu orang paling sukses
di dunia yang amat sangat saya kagumi. Salah satu cita-cita saya
adalah bertemu muka dengan beliau suatu hari.

Nah, lantas apa resep 10 tip sukses concoction ala Jennie?

Satu, bersyukurlah atas hari ini. "Just to be alive is a grand
thing," kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka.
Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalani
setiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter.
Kalau dia bisa jadi seorang salesman berhasil, apapun yang Anda
inginkan sebenarnya pasti bisa tercapai.

Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplah
seakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkata
demikian, "Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were
to live forever." Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagai
cara baik yang memerlukan effort maupun effortlessly.

Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini saya dapat dari
salah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego.
Sahabat saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, "There are
all kinds of writers, there are all kinds of readers." Ketika saya
down karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulis
lokal di sini, Crystal mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pasti
ada pembacanya (niche). Find your niche, so you find your place in
the world.

Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emerson once
said, "Do not go where the path may lead, go instead where there is
no path and leave a trail." Jangan latah mengikuti orang lain,
dengar kata hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan.

Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukan berangan-angan
akan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand,
impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumen
yang kasat mata saat ini juga.

Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan.
Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali,
apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitu
kelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu.

Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsong
hari baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi dengan
hati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Be
excited, be courageous to start the day.

Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan
menerima. The more you give, the more you get in return. Dalam
marketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations atau
publicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku
tanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya sendiri sudah
membuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas, tidak
terbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan dan berkat yang
kita terima.

Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do? Itu yang
saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesar
negara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang telah
membalikkan nasibnya sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh di
dunia.

Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknya
sekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini
bukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat ini
juga. Jangan tunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di Farewell
Concertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I
have. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin
yang terakhir.

Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Sukses
adalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir maka
saya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).

Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev.
Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books and
over 850 articles published in the United States, Canada, UK,
France, Germany, Singapore and Indonesia. She is based in scenic
Northern California where she resides with her husband.

ReviewReviewReviewReviewAyah-Ibu, Berkomunikasilah Dengan Anak!Apr 11, '07 7:14 AM
for everyone
Category:Other
Siapa bilang berkomunikasi itu mudah? Bisa saja kita setiap hari bertemu dengan seluruh anggota keluarga, tetapi belum tentu kita saling berbicara dari hati ke hati satu sama lain. Atau, ayah, ibu dan anak-anak berada berdekatan atau duduk dalam ruangan yang sama, tapi masing-masing sibuk dengan telepon genggam atau menonton acara di teve.

Padahal, orangtua amat dianjurkan untuk menciptakan komunikasi, mengajak anaknya mengobrol meskipun hanya sebentar. Soalnya, lewat pembicaraan yang sedikit itu, banyak sekali pengaruh yang signifikan bagi kemajuan anak.

Jangan lupa, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat di dalam rumah, dari orangtua mereka. Jadi, jangan malas mengajak anak mengobrol dan bercerita. Bicarakan tentang apa yang mereka pelajari di sekolah serta apa yang ingin mereka capai. Memang sebaiknya kita selalu mengikuti perkembangan anak, baik di rumah maupun sekolah, bukan? Jangan menunggu sampai guru anak menghubungi Anda. Bersikaplah proaktif. Tingkat keberhasilan anak-anak yang memiliki orangtua yang selalu mengikuti kemajuan anaknya di sekolah lebih tinggi dibanding anak yang orangtuanya jarang mengajak berbicara.

Berikut 10 cara sederhana yang dapat Anda terapkan untuk memulai obrolan, membuat anak mau mendengar perkataan Anda, dan menceritakan pengalamannya.

1. Jadi pendengar yang baik

Bila anak ingin menceritakan sesuatu hal, hentikan kegiatan yang sedang Anda lakukan saat itu. Jika tidak, anak akan merasa tak dipedulikan dan mengangggap Anda tak punya waktu untuknya. Hindari pula memotong pembicaraannya. Biarkan anak mengungkapkan perasaan marah, ketakutan, kegembiraannya, atau sekadar berkomentar. Di lain waktu, giliran anak yang mendengarkan perkataan Anda dan tidak ada salahnya Anda curhat tentang topik yang sesuai untuk usianya. Menjadi pendengar yang baik serta perhatian yang Anda berikan merupakan pemberian yang terbaik bagi anak-anak.

Berikut ini contoh kata-kata yang memperlihatkan pad anak betapa Anda serius mendengarkan apa yang dikatakan atau diceritakannya:

Oya, lalu?

Mama mengerti.

Wow!

Wah, hebat sekali!

Ya, Mama mengerti perasaan kamu.

Teruskan uneg-uneg kamu, keluarkan apa yang kamu pendam.

2. Dua arah

Bila berbicara pada anak, beri mereka pilihan, bila memungkinkan. Biarkan mereka merasa sedang mengobrol dengan Anda, bukan sedang diatur. Ciptakan komunikasi dua arah, bukan komunikasi satu arah, dan bukan sikap mendikte.

3. Tenang, jujur

Hindari mengucapkan kata-kata yang tidak pantas sebagai ungkapan rasa marah dan frustrasi. Anak akan belajar menjadi pendengar yang baik dan percaya pada apa yang Anda katakan bila Anda berbicara dengan benar, jujur, dan tenang. Rasa percaya dan menghormati datang dari kejujuran dan ketulusan. Bila Anda tidak bersungguh-sungguh, jangan katakan hal yang tidak perlu Anda katakan.

4. Beri dukungan

Bila anak mempercayakan ceritanya pada Anda, mereka harus merasa lega, terinspirasi, merasakan dukungan Anda, dan bersemangat. Jangan buat mereka merasa bersalah atau kecewa. Bila anak datang kepada Anda dan menceritakan masalah yang dihadapinya, dengarkan dengan penuh perhatian dan beri dukungan melalui kata-kata semisal:

Mama yakin kamu dapat mengatasinya.

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, termasuk masalah yang kamu hadapi.

Pikirkan lagi matang-matang. Kamu harus betul-betul memahaminya.

Mama ada di sini untuk membantumu.

Mama pun dulu pernah mengalaminya waktu Mama seusia kamu.

5. Tempatkan diri

Usahakan untuk melepaskan atribut sebagai orangtua saat mendengarkan curhat anak dan cobalah menempatkan diri pada posisi anak. Pikir dan rasakan betapa sulitnya bagi anak untuk mengutarakan masalah yang dihadapinya dan pikirkan matang-matang sebelum memberi reaksi atau komentar.

6. Hindari hujanan pertanyaan

Usahakan agar tidak menguasai pembicaraan. Bila anak curhat dan merasa Anda terlalu cerewet atau kecewa dengan ceritanya, kemungkinan di lain waktu bila dia memiliki masalah, anak kapok menceritakannya ke Anda. Sebagai orangtua, tentu ada saatnya di mana harus membahas permasalahan yang dihadapi anak. Pastikan Anda membahas masalahnya dan tidak kmelenceng dari itu.

7. Tindaklanjuti

Usai ia curhat, tindaklanjuti. Hal ini akan membuat anak yakin, Anda peduli akan kesulitannya, mau membantu, sekaligus memberi kesempatan pada Anda untuk masuk ke dalam dunianya.

8. Luangkan waktu

Orangtua yang sibuk tidak selalu merupakan orangtua yang buruk. Lakukan segala sesuatu secara spontan, seperti pergi menonton bioskop ataupun berolahraga bersama. Tetap luangkan waktu, sedikit apa pun, untuk buah hati tercinta.

9. Minta maaf bila salah

Bila Anda mengatakan atau melakukan sesuatu yang mungkin tidak seharusnya dikatakan/dilakukan, jangan ragu atau malu meminta maaf pada anak. Akui bahwa Anda pun hanya manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.

10. Cintai buah hati

Katakan pada anak (tanpa pernah merasa bosan), betapa Anda mencintainya dan tunjukkan lewat perlakuan yang penuh kasih. Beri ia perhatian, persis seperti saat ia masih bayi yang belum bisa apa-apa. Perlihatkan padanya, bagi Anda tidak ada yang lebih penting selain berada bersamanya.

www.KCM.com

ReviewReviewReviewReviewTips Agar Ibu sehatApr 11, '07 7:12 AM
for everyone
Category:Other
Tips Agar Ibu sehat

Lengkaplah kebahagiaan keluarga dengan kehadiran si Kecil yang sehat. tetap tampil menarik seusai masa bersalin merupakan keinginan wanita. Kami coba tampilkan tips singkat untuk diet sehat dan alami, serta pemenuhan nutrisi yang di butuhkan saat menyusui.

Diet sehat dan alami

ASI eksklusif
Menyusui bayi secara ekslusif selama 6 bulan, secara alami dapat membantu mengembalikan berat badan ideal Anda.

Pola Makan Seimbang
Produksi ASI ditentukan oleh faktor nutrisi, frekuensi pengisapan dan faktor emosi. Jadi tidak ada pantangan dalam memilih makanan. Terapkan pola makan seimbang dengan kombinasi Karbohidrat, Protein dan Lemak untuk produksi ASI.

Perawatan Bayi Mandiri
Perhatian dan energi banyak tercurah dalam merawat si Kecil secara mandiri. Melelahkan memang, tapi tanpa disadari berat badan pun turun perlahan.

Nutrisi untuk Ibu menyusui

Vitamin D dan Kalsium
Berguna untuk pembentukan tulang dan gigi. Vitamin D dan Kalsium terserap masuk ke dalam ASI. Untuk mengatasi asupan vitamin D dan kalsium tersebut, atasilah dengan minum susu rendah kalori atau berjemur di pagi dan sore hari.

Zat Besi
Menjaga daya tahan tubuh, meningkatkan vitalitas dan produktivitas. Terdapat dalam daging berwarna merah, hati, makanan laut dan sayuran hijau.

Asam Folat
Mencegah kurang darah (anemia). Banyak terdapat dalam hati ayam, bayam dan sayuran hijau.

Vitamin E
Berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi dari radikal bebas, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Terdapat dalam makanan berserat, kacang-kacangan, minyak nabati dan gandum

Zinc (Seng)
Mendukung sistem kekebalan tubuh, penyembuhan luka dan mendukung pertumbuhan normal. Terdapat dalam daging, telur dan gandum.

Magnesium
Dibutuhkan dalam setiap sel tubuh untuk membantu gerak otot, fungsi syaraf dan memperkuat tulang. Terdapat dalam gandum dan kacang-kacangan.

sumber : sahabat nestle

ReviewReviewReviewReviewMengatasi Kolik BayiApr 11, '07 7:11 AM
for everyone
Category:Other
Mengatasi Kolik Bayi

15-Februari-2007

Oleh: Dr Ika Fitriana
----------------------------------------------------------
Bayi umur 3 minggu, menangis 3 jam sehari, selama 3 hari seminggu dan sembuh sendiri setelah berumur 3 bulan. Itulah kolik yang sering membuat cemas orang tua.
Siapa orang tua yang tidak cemas? Bayinya sehat-sehat saja, tiba-tiba mulai menangis hebat tanpa sebab yang jelas. Menangisnya hanya sore atau malam hari sehingga neneknya menduga bahwa bayi diganggu sesuatu yang gaib. Saat menangis, kakinya tampak diangkat hingga ke lutut dan perut tampak keras atau kembung sehingga diduga sakit perut.

Penyebabnya bukan hal berbahaya

Penyebab kolik yang tepat sebenarnya masih misteri. Konon, bayi yang normal memang akan mengalami fase rewel terutama sore atau malam hari pada minggu-minggu pertama kehidupannya. Diduga ini merupakan proses adaptasi dengan lingkungan barunya. Ibu yang merokok saat hamil juga ternyata memiliki bayi yang lebih sering kolik dibandingkan yang tidak merokok.

Yang pasti, beberapa penyebab nyeri pada bayi harus disingkirkan dulu, misalnya infeksi, tidak bab, keracunan, buah zakar (testis) yang terpuntir, hernia, patah tulang, radang telinga, dan lain-lain. Bayi yang kebanyakan diberi makan dan tidak disendawakan dengan baik biasanya juga agak rewel karena perutnya kembung dan menyerupai kolik.

Tak perlu panik

Apa yang harus dilakukan bila anak kolik? Jawabannya tidak ada. Selain karena penyebabnya tidak jelas, kolik bukanlah hal yang berbahaya untuk anak. Asalkan sudah dipastikan tidak ada penyebab yang lain.

a.. Tenangkan diri Anda dan keluarga bahwa anak menangis karena kolik bukanlah hal yang berbahaya.
b.. Buatlah bayi nyaman dengan menyelimutinya, memeluk, mengayun, membawanya jalan-jalan, memandikannya dengan air hangat, menyanyikan lagu atau memperdengarkan bunyi-bunyi yang ritmis.
c.. Bersabarlah. Bayi amat energik menghabiskan dua hingga tiga jam untuk menangis, tetapi pasti itu tak selamanya. Ia juga akan tambah besar dan kemungkinan terjadi kolik akan makin kecil.
d.. Jika Anda stres dengan tangisannya, letakkan bayi di tempat yang aman dan biarkan ia menangis sementara Anda beristirahat.
e.. Kadang-kadang, dianjurkan pula untuk mengganti susu formula atau memberi obat simetikon. Namun, tanyakan lebih lanjut pada dokter Anda.
Kapan perlu waspada?

a.. Jika bayi terus menangis dengan nada tinggi atau tidak reda setelah lebih dari tiga jam.
b.. Usia bayi kurang dari 28 hari dengan suhu 38°C (diukur dengan termometer di pantat bayi). Bila ini terjadi, pikirkan kemungkinan infeksi dan mintalah evaluasi dokter. Anak Anda mungkin memerlukan pemeriksaan lebih lanjut ataupun antibiotika.
c.. Bila bayi muntah terus, tidak naik berat badannya, atau kolik tak juga hilang setelah usia 3-4 bulan.
d.. Anak tampak kesakitan, demam tinggi, atau diare.
e.. Bayi yang menangis keras periodik, dan bab berdarah.
f.. Bila Anda tidak yakin dapat mendiamkannya.
Referensi
Keep kids health. Colic management guide. Februari 2003
MoCollough M, Sharieff GQ. Common complaints in the first 30 days of life. Pediatric Emergency Medicine: current concepts and controversies; Feb 2002.201p45
Grysdale WS. Management options for drooling patient. Ear Nose Throat J 1989:820, 825-6, 82930.
Roberton NRC. Care of the normal term newborn bab. In: Rennie JM.
Roberton NRC. Textbook of neonatology. 3rd ed. Churchill Livingstone, England. 1999

ReviewReviewReviewReviewJika Ibu Harus Kembali BekerjaApr 11, '07 7:10 AM
for everyone
Category:Other
Jika Ibu Harus Kembali Bekerja

Cuti melahirkan hampir habis. Anda pun harus bersiap-siap meninggalkan si kecil di rumah untuk kembali bekerja. Bagi kebanyakan ibu bekerja hal ini memang tidak mudah, bahkan mungkin sangat sulit dilakukan. Berbagai perasaan berkecamuk. Di satu sisi, Anda sudah harus kembali bekerja atau tak sabar kembali mengaktualisasi diri dan berinteraksi dengan dunia luar. Namun di lain sisi, perasaan ingin tetap bersama si kecil untuk memastikan ia mendapatkan perawatan terbaik dan perhatian sering mengganggu pikiran. Belum lagi rasa bersalah harus meninggalkan si kecil di rumah.
Mengatur agar keduanya berjalan baik memang akan menjadi tantangan bagi ibu bekerja. Namun, dengan perencanaan, komitmen dan niat yang kuat, Anda pasti bisa mengatasinya.

Sebelum kembali bekerja

a.. Cari pengasuh yang dapat diandalkan. Inilah keputusan penting dan menjadi prioritas utama bagi ibu yang akan kembali bekerja, karena dapat membantu memberikan rasa tenang saat meninggalkan si kecil di rumah. Pilihannya bisa beragam, mulai sang nenek, saudara, baby sitter, atau menyerahkan pengasuhan pada lembaga penitipan anak terpercaya.
b.. Bicaralah dengan atasan Anda mengenai tugas dan jadwal Anda saat kembali bekerja. Jadi saat bekerja Anda pun sudah tahu tahu persis apa yang diharapkan oleh atasan.
Saat waktu bekerja tiba

a.. Be organized! Bekerja dan mengasuh anak menuntut Anda untuk juga ahli dalam manajemen waktu. Organisasikan semua tugas dan tanggung jawab Anda dengan baik, agar tak ada satu hal pun yang tertinggal.
b.. Jaga kedekatan dengan si kecil. Walaupun harus berada jauh di luar rumah, pastikan Anda tetap berhubungan dengannya, misalnya dengan menelepon si kecil untuk mengetahui apa yang sedang dia lakukan. Menurut Alan Greene, MD, spesialis anak dari Lucile Packard Childrens Hospital, California, bayi sudah dapat mengenali Anda sejak dalam kandungan dengan semua inderanya. Karena itu, baju, foto dan rekaman suara Anda yang sedang bercerita juga dapat menjadi alat yang efektif untuk membuat si kecil merasa dekat.
c.. Antisipasi bila si kecil sakit. Tanyakan pada atasan Anda mengenai kemungkinan Anda bisa tidak masuk saat si kecil sakit. Jika tidak bisa, mintalah suami atau keluarga dekat lain untuk menggantikan Anda menjaganya.
d.. Ada kalanya rasa sedih dan bersalah begitu mengganggu pikiran, karena Anda tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan si kecil, cobalah untuk membicarakannya dengan pasangan atau ibu lain yang menghadapi situasi serupa. Tetapi jika perasaan ini semakin menjadi-jadi, segera konsultasikan dengan ahli untuk mengatasinya.
e.. Jangan paksa untuk melakukan semua hal sendiri. Buatlah sistem yang membantu Anda melakukan beberapa tugas dengan bantuan suami, anggota keluarga lain,atau pun pembantu.
f.. Luangkan waktu untuk diri sendiri. Walaupun sulit, Anda juga perlu waktu untuk diri sendiri. Saat si kecil tertidur atau dijaga oleh pasangan, manfaatkanlah waktu tersebut untuk sekedar berlama-lama di kamar mandi, membaca buku atau mendengarkan musik kesayangan dan mengembalikan kesegaran pikiran atau beristirahat. Karena bagaimanapun, jika pikiran Anda tidak dipenuhi stres, Anda pun bisa menikmati waktu bersama di kecil dengan lebih baik.
g.. Tetaplah memberikan ASI. Tak ada yang dapat menyangkal kehebatan manfaat ASI bagi si kecil. Karena itu, berusahalah untuk tetap memberikan ASI padanya walaupun Anda sudah bekerja. Walau tidak bisa sesering sebelumnya, cobalah untuk menyusui si kecil waktu pagi atau malam hari. Bonusnya, Anda dan si kecil dapat merasakan kedekatan yang terjalin selama proses menyusui. Di luar itu, Anda dapat memompa ASI agar si kecil tetap bisa meminumnya saat Anda tidak berada di rumah.
h.. Jaga kesehatan dan rajin berolahraga. Olahraga membuat sirkulasi darah menjadi lancar. Ini dapat mengurangi stres dan rasa penat tubuh. Pastikan Anda memiliki pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan seimbang dan bergizi. Kondisi kesehatan menjadi syarat mutlak bagi ibu berperan ganda. Jika Anda sakit-sakitan bisa dipastikan semuanya akan terbengkalai. Urusan anak dan rumah tak bisa dilakukan dengan baik, Anda pun akan sering minta izin. Situasi bisa menjadi rumit dan mempengaruhi penilaian di kantor.

sumber : sahabat nestle

ReviewReviewReviewReviewAyo Renang !Apr 11, '07 7:08 AM
for everyone
Category:Other
Ayo Renang

20-Februari-2007

Memperkenalkan anak dengan air memang terkadang tidak mudah. Rasa enggan basah atau takut seringkali kita temui pada si kecil. Namun adapula anak-anak yang telah mengenal air justru menemukan bahwa kegiatan ini sungguh menyenangkan. Dan dari banyak pengamatan bisa disimpulkan, anak-anak sebenarnya sangat menyenangi air selain pasir. Tinggal kemudian bagaimana orangtua melatih anak untuk terampil dalam air atau berenang. Bagaimana cara memulainya serta apakah yang harus diperhatikan? Yuk, ajak anak bermain air sesuai dengan tahap usianya.
6 Bulan-1 Tahun
Bila Anda mulai berpikir untuk mengenalkan air di usia ini, maka itu adalah tindakan pintar, karena si kecil sudah cukup umur untuk berenang. The American Association of Pediatrics merekomendasikan para orangtua untuk mengikutsertakan anaknya dalam les berenang setelah ulang tahunnya yang ke-4, disaat anak telah berkembang dan mampu untuk belajar mengambang. Sebelum itu pelajaran akan lebih fokus untuk melakukan permainan air, dasar-dasar berenang, serta keselamatan di dalam air. Sejalan dengan pertambahan usianya, ajak anak untuk berpengalaman dan merasa nyaman di dalam air. "Tanpa les anak akan menjadi tidak mahir, tetapi dengan mengikuti program berenang maka anak akan menguasai keahlian renang yang akan berlangsung selamanya," ujar Connie Harvey, pakar National Health and safety dari American Red Cross.

Pelajaran:

a.. Ajak anak masuk ke dalam air, bukan belajar bagaimana berenang.
b.. Tunjukkan bagaimana mencipratkan air.
c.. Bernyanyi bersama sambil mengajaknya berkeliling kolam berenang.
d.. Atau memainkan mainan air.
Tips aman:
a.. Pastikan bayi selalu dalam rengkuhan Anda.
b.. Jangan merendamkan anak di bawah usia 3 tahun, karena pada usia ini anak mampu meneguk banyak air dan dapat menyebabkan masuknya zat-zat kimia dalam darahnya.
c.. Gunakan popok khusus untuk berenang.
d.. Jika kolam renang berada di rumah, pastikan bahwa si kecil tidak akan mampu menjangkaunya.
2-3 Tahun
Pelajaran:
a.. Gunakan pelampung pada lengan atau perutnya, lalu ajak si kecil untuk melakukan permainan air yang memungkinkan Ia menggerakan tangan atau kakinya. Contoh, melempar bola lalu ajak Ia untuk mengambilnya.
a.. Tunjukan bagaimana membuat gelembung dalam air, sehingga anak belajar untuk mendekatkan wajahnya ke air tanpa harus menyelam.
Tips aman:
a.. Meski memakai pelampung pastikan agar Anda tidak lengah, jangan biarkan Anak bermain sendiri.
b.. Tetap pastikan anak tidak dapat menjangkau kolam sendiri.
c.. Ajarkan dan tekankan agar anak tidak pergi ke kolam tanpa orangtua.
d.. Jangan tinggalkan mainan apapun dalam kolam, karena dikhawatirkan anak akan berusaha untuk mengambilnya.
4-5 Tahun
Pelajaran:
a.. Anak Anda telah siap untuk mengikuti kursus berenang.
b.. Anda dapat ikut serta dalam kelas pertamanya agar anak merasa nyaman.
c.. Mulai pelajaran dengan mengajarkan bagaimana menyelupkan kepala dan tahan selama 5-10 hitungan.
d.. Coba meluncur tanpa asisten.
e.. Gerakan tangan dan kaki ketika berenang.
f.. Serta memberitahukan bagaimana cara mengambang dalam air.
Tips aman:
a.. Meski tidak harus selalu memeganginya, namun pastikan pelatih selalu siap meraihnya bila terjadi apa-apa.
b.. Bersabarlah, jangan paksa anak pada satu aktivitas bila ia belum siap.
c.. Jangan mengharapkan orang akan mengawasi anak, meski lifeguard.
d.. Tidak semua anak mau membiarkan wajahnya terkena air, latihlah dengan membiasakan di bawah shower ketika mandi.
6 tahun ke atas
Pelajaran:
a.. Pada usia ini anak sudah mampu menahan nafas lebih lama di dalam air, berenang, serta meraih benda di bawah kolam.
b.. Anak telah mampu untuk melompat dari daratan ke dalam air.
c.. Anda sudah dapat mengajarkan berbagai gaya renang, seperti gaya dada dan gaya punggung.
d.. Latihlah untuk memperjauh jarak renangnya sedikit demi sedikit.

Tips aman:
a.. Tetaplah mengawasi anak meski Anda tidak harus berenang bersamanya. Meski anak telah menguasai gerakan ia tetap bisa kelelahan.
b.. Tekankan bahwa anak diizinkan berenang hanya jika ada orang dewasa yang mengawasi.
c.. Waspadai perbedaan berenang di kolam renang dan di pantai. Pengawasan Anda sangat dibutuhkan bila anak berenang di alam.
d.. Pastikan anak menggunakan jaket pelampung ketika naik kapal atau waterskiing, meski Ia telah mahir berenang.
sumber : sahabat nestle

ReviewReviewReviewReviewStres Akan Merusak Otak AnakApr 11, '07 7:05 AM
for everyone
Category:Other
Anak-anak korban perceraian, pelecehan seksual, anak yang mengalami kekerasan fisik atau emosi, akan mengalami kerusakan bagian otak.

Studi terbaru yang dirilis jurnal Pediatric menunjukkan adanya kerusakan fisik berupa parut pada hippocampus, bagian otak yang berfungsi untuk mengingat, navigasi dan emosi, pada anak-anak yang stres akibat peristiwa traumatik (post traumatic stress disorder atau PTSD).

Akibatnya, anak akan kesulitan menghadapi stres, mudah gelisah, bahkan mengalami gangguan mengingat. Selain itu, anak-anak yang mengalami stres memiliki kadar kortisol atau hormon stres yang tinggi. Pada hewan, kadar kortisol yang tinggi bisa membunuh sel hippocampal.

Tim peneliti yang berasal dari Universitas Stanford Medical Center, melakukan studi terhadap 15 anak yang mengalami PTSD karena kekerasan fisik, kekerasan emosi, pelecehan seksual, melihat aksi kekerasan atau mengalami kehilangan dan perceraian orangtuanya.

Menurut kepala peneliti, Dr Victor Carrion, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dampak dari stres yang ekstrem pada anak-anak serta untuk mengetahui mengapa ada anak yang kuat menghadapi stres dan ada yang tidak.

Dalam beberapa riset, para ahli telah menemukan kaitan antara gen, lingkungan dan adanya PSTD yang dialami di masa kecil akan membuat seseorang sering depresi dan mudah gelisah saat dewasa. Diperkirakan 1 dari 10 orang pernah mengalami PSTD dalam hidupnya.

"Perawatan yang tepat untuk anak yang mengalami peristiwa traumatik atau PSTD adalah membantunya menghilangkan ingatan tersebut. Namun jika stres akibat kejadian itu mempengaruhi area otak yang berfungsi untuk memproses informasi, maka terapi semacam itu kurang efektif," kata Carrion.

Jadi, sayangilah anak-anak, karena apa yang mereka alami saat ini, berpengaruh nanti.

sumber : kompas

ReviewReviewReviewReviewMemahami Sudut Pandang AnakApr 11, '07 7:04 AM
for everyone
Category:Other
Memahami Sudut Pandang Anak

Semakin bertambah besar, anak akan lebih pintar dalam memperhatikan dan membedakan orang yang dijumpainya sehari-hari. Bagaimana seorang anak memandang orang lain?

Usia 2 - 3 Tahun

- Memperhatikan dan menanyakan tentang karakter fisik dari orang yang dijumpainya walaupun dia tetap lebih tertarik dengan fisik dirinya sendiri.

- Memperhatikan kebiasaan yang berbeda yang dilakukan oleh anak-anak lain. Misalnya, "Kok, Nayla bicaranya berbeda dari saya?" atau "Kok, Natasha makan mi pakai sumpit."

- Memperlihatkan rasa takut terhadap warna kulit yang berbeda dan ketidakmampuan/cacat fisik.

Usia 4 Tahun

- Memperlihatkan minat yang lebih terhadap persamaan dan perbedaan dirinya dari anak-anak yang lain, menciptakan "teori" tentang apa yang menyebabkan perbedaan fisik dan budaya.

- Mulai mengelompokkan orang berdasarkan karakter fisiknya (berdasarkan gender, warna kulit, mata yang sama).

- Mulai bingung dengan pengkategorian yang disebutkan oleh orang dewasa, misalnya bagaimana seorang anak yang kulitnya putih memiliki orangtua yang kulitnya hitam.

- Memperlihatkan perkembangan norma sosial di dalam interaksinya dengan orang lain (anak perempuan tidak dapat melakukan ini tetapi anak laki-laki dapat).

Usia 5 Tahun

- Memperlihatkan kesadaran akan karakteristik ekstra seperti status sosial ekonomi dan usia.

- Memperlihatkan kesadaran yang tinggi terhadap dirinya dan orang lain sebagai anggota di dalam suatu keluarga. Demikian juga keingintahuan tentang bagaimana keadaan keluarga dari anak-anak yang lain, misalnya bagaimana Kenny dapat memiliki dua ibu?

- Meneruskan konsep pengelompokkan atau menjelaskan perbedaan di antara teman-teman sekelas.

Usia 6 Tahun

- Lebih banyak menyerap sistem pengelompokkan orang yang ditentukan oleh keluarganya, tetapi masih bingung mengapa orang-orang tertentu ditempatkan di satu kelompok atau kategori yang berbeda.

- Menggunakan prasangka yang kuat berdasarkan aspek identitas terhadap anak-anak lain.

- Mulai mengerti bahwa orang lain juga memiliki identitas etnik dan bahwa terdapat keanekaragaman gaya hidup karena mereka mulai mengerti identitas kelompok mereka.

sumber : kompas

ReviewReviewReviewReviewJagalah Hati, Jangan DiracuniApr 11, '07 7:02 AM
for everyone
Category:Other
Hati yang sehat bisa menyaring racun dan melakukan proses detoksifikasi secara optimal. Bila hati sakit, otomatis racun bakal tertumpuk dan tubuh rentan terkena penyakit serius, salah satunya sirosis. Apa yang harus dilakukan agar kita tak sakit hati?

Hati atau lever merupakan organ paling besar dan paling berat yang ada di dalam tubuh. Beratnya sekitar 3 pound atau 1,3 kg. Letaknya berada di bagian atas sebelah kanan abdomen dan di bawah tulang rusuk.

Organ hati yang cukup besar ini setara dengan fungsinya yang cukup berat. Setidaknya lebih dari 500 pekerjaan dilakukan oleh lever. Hati menjadi tempat menyaring segala sesuatu yang dikonsumsi maupun dihirup manusia, termasuk yang diserap dari permukaan kulit.

Dalam situs Hepatitis Foundation International disebutkan, lever bertindak sebagai mesin tubuh, dapur, penyaring, pengolah makanan, pembuangan sampah, dan malaikat pelindung. Masalahnya, hati merupakan teman yang pendiam. Manakala ada sesuatu yang salah, ia tidak mengeluh hingga terjadi kerusakan lebih jauh.

Perlu kepedulian kita supaya hati terjaga, tetap sehat dan bebas dari penyakit. Untuk memperoleh kondisi itu, kita harus menganut diet sehat, olahraga teratur, mendapat udara bersih, dan menghindari hal-hal yang dapat merusak hati.

Kerja Berat

Yang menyedihkan, umumnya kita hanya memiliki sedikit pemahaman tentang fungsi hati yang sedemikian rumit, vital, dan bekerja tiada henti. Sebelum bayi lahir, hatinya berperan sebagai organ utama dalam pembentukan darah. Saat tumbuh menjadi seorang manusia, fungsi pokok hati adalah menyaring dan mendetoksifikasi segala sesuatu yang dimakan, dihirup, dan diserap melalui kulit. Ia menjadi pembangkit tenaga kimia internal, mengubah zat gizi makanan menjadi otot, energi, hormon, faktor pembekuan darah, dan kekebalan tubuh.

Hati juga menyimpan beberapa vitamin, mineral (termasuk zat besi), dan gula, mengatur penyimpanan lemak dan mengontrol produksi serta ekskresi kolesterol. Empedu yang dihasilkan oleh sel hati membantu mencerna makanan dan menyerap zat gizi penting. Juga menetralkan dan menghancurkan substansi beracun serta memetabolisme alkohol, membantu menghambat infeksi, dan mengeluarkan bakteri dari aliran darah. Tampak jelas, hati bukan hanya teman yang pendiam, tetapi juga sahabat baik.

Tugas hati memang sangat berat dan luas. Dikatakan oleh Dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, fungsi hati meliputi enzimatik, hormonal, dan darah. "Hati menyediakan enzim yang diperlukan untuk metabolisme, melakukan detoksifikasi, membentuk faktor pembekuan darah, dan beberapa hormon," tuturnya.

Hati juga mendetoksifikasi dengan menetralkan racun dari obat-obatan, meski tidak semua obat berhasil didetoksifikasi hati. Bila tidak berhasil, bisa menimbulkan gangguan fungsi hati. Di satu sisi, bila terjadi gangguan dan membuat sebagian organ hati mesti dibuang, organ sisanya masih dapat berfungsi.

Untuk itulah, kesehatan organ hati mesti dijaga. Dijelaskan oleh konsultan gastro-enterolog hepatologi dari FKUI/RSCM itu, tindakan menjaga kesehatan hati dilihat dari dua hal, yaitu mencegah terjadinya hepatitis dan perlemakan hati (fatty liver).

Awas Gorengan

Upaya pencegahan hepatitis yang disebabkan oleh virus, seperti pada hepatitis B, dilakukan dengan vaksinasi. Hepatitis A tidak perlu divaksinasi karena biasanya hanya bersifat akut dan tidak kronis. Kecuali bila ada wabah hepatitis A, vaksinasi bisa dilakukan.

Lain halnya dengan hepatitis B. Tindakan perlindungan perlu dilakukan. Contohnya, jika pasangan menderita hepatitis B, harus ada perlindungan supaya tidak tertular. Pemeriksaan status hepatitis juga perlu dilakukan pada anggota keluarga. Jika belum terinfeksi, vaksinasi hepatitis B bisa diberikan. Selain itu, tindakan pencegahan lain yang bisa dilakukan adalah tidak menggunakan alat yang berpotensi menularkan virus tersebut secara bersama-sama, misalnya sikat gigi dan pisau cukur.

Untuk masalah perlemakan hati, pola hiduplah yang mesti diubah. Fatty liver atau perlemakan hati, menurut dokter lulusan FKUI ini, terjadi akibat gaya hidup. "Sering mengonsumsi makanan berlemak atau gorengan dapat menimbulkan fatty liver," ujarnya. Akibatnya sel-sel di dalam hati akan tertimbun lemak dan dapat menambah komplikasi pada hati.

Konsumsi alkohol secara berlebihan pun dapat menimbulkan perlemakan hati. Begitu juga dengan kondisi obesitas atau kelebihan berat badan. Dr. Ari menyarankan agar segera mengubah gaya hidup yang lebih menyehatkan. Dengan menghindari makanan penuh lemak dan kolesterol, menurunkan berat badan, berolahraga secara teratur, dan istirahat cukup, hati kita akan tetap sehat.

sumber : kompas

ReviewReviewReviewReviewMewaspadai Depresi Selama dan Setelah KehamilanApr 11, '07 7:00 AM
for everyone
Category:Other
Bukan cuma orang yang sedang menghadapi beban masalah rumit saja yang bisa mengalami depresi, calon ibu yang sedang mengandung pun kerap dihantui gejala ini. Para ahli belum bisa memastikan mengapa depresi terjadi pada wanita hamil, namun diduga perubahan tingkat hormon yang drastis selama kehamilan dan setelah melahirkan menjadi biang keladinya.

Selain peningkatan kadar hormon dalam tubuh, perubahan fisik dan emosi yang dialami menjelang peristiwa monumental menjadi seorang ibu turut andil terhadap munculnya perasaan murung, sedih dan tertekan pada wanita selama kehamilan.

Faktor lain yang menyumbang peran dalam terjadinya depresi pada ibu hamil antara lain:

- Riwayat keluarga yang memiliki penyakit kejiwaan

- Kurangnya dukungan dari suami dan keluarga

- Perasaan khawatir yang berlebihan pada kesehatan janin

- Ada masalah pada kehamilan atau kelahiran anak sebelumnya

- Sedang menghadapi masalah keuangan

- Usia ibu hamil yang terlalu muda

Setelah melahirkan

Sementara itu, perubahan psikologis yang terjadi ketika seseorang mulai menjadi ibu diperkirakan menjadi penyebab munculnya gejala depresi pasca melahirkan yang disebut dengan postpartum depression. Selain itu, perubahan kadar hormon yang terjadi dengan cepat juga mendorong munculnya depresi.

Selama kehamilan, kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh wanita meningkat drastis. Tetapi dalam waktu 24 jam setelah melahirkan kadar hormon ini menurun tajam ke kadar normal seperti sebelum masa kehamilan. Nah, perubahan level hormon yang cepat ini diduga menyebabkan terjadinya depresi, seperti halnya perubahan hormon yang terjadi sebelum masa menstruasi yang sering menyebabkan mood seorang wanita tidak stabil.

Gejala depresi yang sering diderita wanita pasca melahirkan di antaranya:

- Mudah marah dan tersinggung

- Gembira berlebihan dan sedih berlebihan

- Sering menangis tanpa sebab

- Tidak bersemangat

- Terlalu banyak makan atau sebaliknya tak ada napsu makan

- Susah konsentrasi, sulit mengingat, tidak bisa membuat keputusan

- Menjauhkan diri dari teman-teman dan keluarga

- Paranoid atau takut berlebihan bayinya akan celaka

Apa yang harus dilakukan jika seseorang mengalami perasaan negatif dan kacau setelah melahirkan?

Pertama, perlu diketahui depresi setelah melahirkan (baby blues) banyak dialami oleh wanita pasca melahirkan dan ini adalah reaksi yang khas. Kegembiraan yang disusul dengan kelelahan pada minggu pertama setelah persalinan dan kekhawatiran yang muncul, semuanya merupakan bagian dari proses adaptasi dari perubahan peran yang terbesar yang dialami seorang wanita dalam hidupnya. Tanamkan dalam pikiran sesuatu yang positif dari gejala-gejala tersebut.

Kedua, carilah waktu istirahat sebanyak mungkin. Mintalah bantuan orang ketiga, pengasuh atau orangtua untuk menjaga bayi selama Anda beristirahat. Berhentilah memaksa diri sendiri melakukan segala sesuatu. Agar dapat tidur dengan nyenyak, perhatikan asupan makanan Anda.

Ketiga, jangan menghabiskan waktu sendirian. Sesekali luangkan waktu untuk berduaan saja dengan pasangan. Mencurahkan perasaan pada sahabat, suami atau ibu akan membantu seseorang yang depresi mengeluarkan perasaan tertekan yang dialaminya.

Kalau Anda sering menangis tanpa sebab, jangan memaksa untuk mencari jawabannya. Manfaatkan saja air mata yang keluar sebagai cara untuk mengikis perasaan khawatir yang mengendap di dalam hati. Selain itu, setelah menangis biasanya rasa kantuk akan datang, pergunakan waktu untuk menambah jam tidur Anda.

Bila gejala-gejala depresi tersebut tidak hilang dalam waktu dua minggu, sebaiknya carilah bantuan tenaga profesional. Terapi individual dan terapi grup biasanya juga digunakan untuk membantu penderita. Ada kalanya dokter akan memberikan obat antidepresan untuk meredakan gejala depresi dengan mempertimbangkan apakah si ibu sedang menyusui atau tidak.

Sumber: HealthFinder.gov

Penulis: An

ReviewReviewReviewReviewBayi Meniru Emosi OrangtuanyaApr 11, '07 6:58 AM
for everyone
Category:Other
Bayi berusia 0-3 bulan sudah bisa mengenali ekspresi sedih atau sedih. Ia bahkan juga bisa merespon perasaan ters