ReviewReviewReviewReviewReviewAntibiotik Sang Penyelamat yang Bisa Jadi MusuhJan 9, '07 12:24 AM
for everyone
Category:Other
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/012007/07/geulis/lainnya.htm

Antibiotik Sang Penyelamat yang Bisa Jadi Musuh
Patut diakui, antibiotik mampu memerangi infeksi akibat kuman atau
bakteri. Oleh karena itu, antibiotik dapat menjadi penyelamat jiwa.
Akan tetapi, penggunaan yang membabi buta menyebabkan antibiotik
kehilangan kemujarabannya. Saat ini di seluruh belahan dunia,
sebagian besar kuman penyebab infeksi serius sudah resisten (kebal)
terhadap antibiotik. Sang kuman ini, kita sebut "superbugs",
menyebabkan infeksi merajalela, kematian meningkat, biaya pengobatan
mahal.

DOKTER spesialis anak Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto, Sp.A.K.,
M.M.Ped. dari Yayasan Orangtua Peduli mengatakan, bakteri resisten
alias si superbugs telah menimbulkan masalah kesehatan yang sangat
serius terhadap masyarakat luas. "Penggunaan antibiotik yang tidak
rasional bukan hanya 'merugikan' individu yang berangkutan atau
pasien yang memperoleh terapi antibiotik, melainkan juga lingkungan
sekitarnya. Bila anggota masyarakat di suatu lingkungan mengonsumsi
antibiotik secara berlebihan (tidak rasional), lingkungan tersebut
potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik,"
katanya dalam seminar di Bandung, belum lama ini.

Ia mengingatkan, antibiotik hanya bisa digunakan untuk penyakit
infeksi berat akibat bakteri. Akan tetapi, antibiotik "impoten"
terhadap penyakit infeksi akibat virus. "Celakanya, justru anak-anak
sangat sering memperoleh antibiotik. Demam, diare, radang
tenggorokan, batuk, hampir selalu diberi antibiotik. Padahal,
penyebab umum penyakit itu adalah infeksi virus. Hal ini sangat
memprihatinkan, karena cepat atau lambat kita akan 'terpental balik'
kembali ke era kegelapan, era praantibiotik di mana kematian akibat
infeksi kuman mencuat akibat kebalnya kuman terhadap antibiotik yang
ada," ujar Purnamawati.

Apabila kita tak mengubah perilaku menggunakan antibiotik (tidak
rasional), niscaya dalam waktu singkat antibiotik keluaran teranyar
sekalipun akan menjadi "impoten".

Bakteri dan virus

Apa bedanya bakteri dan virus? Jelas berbeda, dari ukurannya pun
keduanya sudah menunjukkan perbedaan. Virus berukuran lebih kecil
daripada bakteri.

Banyak sekali bakteri di tubuh kita, bahkan ASI pun mengandung
bakteri, tapi bakteri "baik". Menurut Purnamawati, mayoritas bakteri
memang tidak jahat, bahkan menguntungkan bagi kesehatan kita.

Ada dua jenis bakteri, bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
Bakteri gram positif umumnya lebih mudah dilawan dibandingkan dengan
gram negatif. Infeksi di bagian atas diafragma, umumnya disebabkan
oleh bakteri gram positif, sedangkan di bawah diafragma umumnya
disebabkan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif umumnya dapat
diatasi dengan antibiotik ringan (narrow spectrum antibiotic).
Antibiotik spektrum luas mampu menyerang kedua kelompok bakteri
tersebut.

Tubuh kita penuh bakteri, terutama di saluran cerna (mulut, usus,
sampai anus). Usus dipenuhi kurang lebih 500 jenis bakteri, dan berat
bakteri di usus orang dewasa mencapai 1,5 kg!

Bakteri di usus kita berfungsi banyak, seperti mengubah makanan
menjadi nutrisi yang dibutuhkan tubuh, memproduksi vitamin B dan K,
memperbaiki sel dinding usus yang tua dan rusak, merangsang gerak
usus (peristaltis), dan menghambat berkembang biaknya bakteri jahat.
Secara tidak langsung, bakteri baik mencegah tubuh agar tidak
terinfeksi bakteri jahat. Nah, jika kita mengonsumsi antibiotik,
bakteri baik pun mati.

Virus berkembang biak dengan menggunakan sel tubuh kita. Di luar
tubuh kita virus tidak berkembang biak. Virus tidak dapat dibunuh
oleh obat maupun antibiotik. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem
imun atau daya tahan tubuh.

Antibiotik vs bakteri

Penelitian menunjukkan, paling tidak ada empat kondisi yang umumnya
diterapi antibiotik, yakni demam, radang tenggorokan, batuk, dan
diare. Namun perlu diingat, antibiotik tidak bekerja untuk colds dan
flu, batuk atau bronkhitis, radang tenggorokan yang disebabkan virus,
infeksi telinga (tidak semua infeksi telinga membutuhkan antibiotik),
sebagian besar sinusistis, influenza, cairan di telinga tengah.

Pada dasarnya, antibiotik aman dipakai untuk memerangi infeksi kuman
jahat. Akan tetapi, seperti obat lainnya, antibiotik juga dapat
merugikan, menyebabkan maraknya superbugs dan bisa menimbulkan
beberapa komplikasi:

1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah) merupakan efek
samping yang paling sering terjadi. Terkadang hal ini dapat
menimbulkan dehidrasi.

2. Reaksi alergi, mulai dari yang ringan berupa ruam di kulit hingga
yang berat berupa pembengkakan bibir, mata, atau gangguan napas.

3. Demam (drug fever).

4. Gangguan darah. Beberapa antibiotik dapat mengganggu sumsum
tulang, misalnya menurunkan produksi sel-sel darah. Beberapa
antibiotik juga menurunkan produksi sel darah putih atau menurunkan
kadar trombosit.

5. Kelainan hati.

6. Gangguan fungsi ginjal.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan menyebabkan kuman yang tidak
mati mengalami perubahan (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan
dilawan dengan antibiotik atau menjelma jadi superbugs. Superbugs
juga sering berhasil meloloskan diri dari serangan sistem imun kita.

"Infeksi akibat superbugs memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat.
Pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus
diberikan melalui cairan infus. Antibiotik ini berisiko menimbulkan
efek samping yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat,
bakterinya kembali kebal terhadap antibiotika yang superkuat tadi.
Yang akan dirugikan bukan hanya pasien, tapi juga lingkungan
sekitarnya," papar Purnamawati.

Pemberian antibiotik memang harus tepat. Sebab, alih-alih sembuh,
antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan matinya "kuman baik" di
tubuh kita. Tempat yang sebelumnya mereka tempati akan diisi
oleh "kuman jahat" atau jamur. Ini disebut dengan superinfection.

Semakin sering dan lama kita mengonsumsi antibiotik, kian besar
risiko terbentuknya superbugs dan risiko superinfection. "Semakin
sering mengonsumsi antibiotik, makin sering kita sakit," ujar
Purnamawati.

Aman dengan antibiotik

Setelah mengetahui bahaya antibiotik, sebaiknya kita berhati-hati
untuk mengonsumsi dan menggunakannya. Berikut ini cara bijaksana
menggunakan antibiotik.

1. Seandainya anak membutuhkan antibiotik, pilihlah antibiotik yang
hanya bekerja terhadap bakteri yang dituju (antibiotik yang narrow
spectrum)

2. Untuk infeksi bakteri yang ringan (infeksi saluran napas, telinga,
sinus) yang memang perlu antibiotik, pilih yang bekerja terhadap
bakteri gram positif.

3. Untuk infeksi kuman yang berat (infeksi di bawah diafragma:
infeksi ginjal, saluran kemih, usus buntu, tifus, meningitis bakteri)
pilih antibiotik yang membunuh kuman gram negatif.

4. Hindarkan pemakaian salep antibiotik, kecuali untuk infeksi mata.

5. Jika Anda diberi antibiotik oleh dokter, tanyakan kenapa perlu
antibiotika? Apa yang dilakukan oleh antibiotik tersebut? Apa efek
sampingnya? Apa yang perlu dilakukan untuk mencegah efek sampingnya?
Apakah antibiotik itu harus dimakan pada waktu tertentu, misalnya
sebelum atau sesudah makan? Bagaimana kalau antibiotik itu dimakan
dengan obat yang lain? "Cerewet" sedikit tak apa, asalkan kesehatan
tubuh terjaga.

Jika Anda punya alergi makanan atau obat tertentu, jangan segan untuk
memberi tahu dokter.

Kehatian-hatian Anda bisa menyelamatkan diri dan lingkungan sekitar
dari sang superbugs. (Ella Yuniaperdani/"PR")***

allegina wrote on Aug 12
ReviewReviewReviewReview
trims infonya..
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help